Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Menyelamatkan Roh Bahasa Ritual

    2016-05-25 11:17:08
    Images

    Menyelamatkan Roh Bahasa Ritual


    Profil


    Nama lengkap : Dr. Drs. Kanisius Rambut, M.Hum

    Tempat, Tanggal Lahir : Manggarai Tengah, 12 Juli 1956

    Alamat : Jl. Melati Atas (sekitar Kantor Camat Ende Tengah)

    Keluarga :

    Isteri : Hana Ferderika Yunias

    Anak : Agnesia Prima Novi Rambut, Felisiana Sekunda Rambut, Fransiskus Jefri Samuel,   Oktovianus Kevin Ojung, David Richardo Rambut, Anastasia Marsella Rambut.


    Mengintip Biografi Intelektual

    Pendulum ilmu pengetahuan sedang bergerak menuju ke ranah ilmu bahasa. Atas dasar itulah, bahasa menjadi medium paling elementer bagi manusia untuk merealisasikan eksistensinya. Sejak awal, Bapak Kanis Rambut “jatuh cinta berat” pada ilmu bahasa. Sarjana pendidikan Bahasa Inggris diselesaikan di Universitas Nusa Cendana Kupang tahun 1985. Dengan memperoleh biaya dari pemerintah Australia pada tahun 1991, Pak Kanis menyelesaikan pendidikan singkat dalam bidang Applied Linguistic di Northern Territory University (NTU) Darwin. Studi Magister diselesaikan tahun 2003, dan studi Doktoral dengan konsentrasi pada kajian sosiolinguistik tahun 2015 di Unud Denpasar.

    Relevansi Praksis Keilmuan

    Disertasi yang dipertahankan oleh Pak Kanis berjudul “Bahasa Ritual Barong Wae dalam Dinamika Guyub Tutur Bahasa Manggarai.” Topik Disertasi yang menarik di atas, didasari oleh keprihatinan yang mendalam terhadap daya survival bahasa ritual lokal yang dewasa ini sedang berada di ambang kepunahan.

    Dr. Kanis mengajukan contoh, jumlah penutur bahasa ritual Manggarai, sangat sedikit (diperkirakan hanya berjumlah sekitar 100 orang). Penyebab kepunahan bahasa ritual lokal karena faktor internal yaitu sifat bahasa ritual yang baku (susunannya tidak bisa diubah-ubah, tidak bisa diucapkan di sembarang tempat dan kondisi), dan spiritual (merupakan bahasa leluhur yang dipakai sebagai alat komunikasi kepada roh leluhur pada upacara tertentu). Faktor eksternal yang turut berperan yaitu kebijakan pemerintah dalam program pengembangan bahasa dan budaya yang belum memberikan ruang bagi pengembangan bahasa lokal, di samping dominasi bahasa global (bahasa asing).

    Disertasi Pak Kanis, terkonsentrasi pada perluasan teori kesenjangan kognitif dalam upaya pelestarian bahasa ritual Barong Wae. Teori ini bertolak dari tiga premis dasar yakni 1) terjadinya kesenjangan kognitif karena adanya keterputusan mata rantai berkomunikasi antara generasi tua dan generasi muda, 2) sifat bahasa yang baku (tidak bisa diubah), dan 3) yang spiritual. Menyadari fakta kepunahan bahasa lokal, maka Dr. Kanis mengidealkan terbentuknya Sanggar Bahasa, Budaya dan Lingkungan di wilayah Manggarai untuk memediasi pertemuan antara generasi tua dan generasi muda sehingga memudahkan transfer kebudayaan lokal. Misalnya, melatih anak-anak muda bertutur, mendongeng, bercerita, bersajak dalam bahasa lokal. Sebab bahasa daerah mengandung nilai-nilai kebijaksanaan, sopan-santun, kebersamaan dan spiritualitas.

    Kembali ke Uniflor: Merajut Idealisme

    Menulis karya akademis tentang esensi kebahasaan yang tertuang dalam disertasi, membawa implikasi penting bagi sivitas akademis Universitas Flores. Disertasi ini ingin mendorong segenap dosen agar melakukan riset dalam bidang linguistik, secara spesifik membedah sastra lokal (termasuk di dalamnya kajian tentang bahasa ritual lokal) agar kelak penelitian tentang kebudayaan lokal khususnya sastra lokal tidak lagi hanya mengacu pada para peneliti asing, dan mengupayakan agar peneliti Universitas Flores bisa menjadi referensi acuan bagi para peneliti asing yang ingin meneliti tentang kebudayaan lokal terutama dalam domain sastra lokal.

    Mempertimbangkan urgensi gagasan di atas, maka Dr. Kanis menyarankan untuk membentuk Program Studi Bahasa dan Sastra Daerah  untuk mendidik generasi muda yang bisa mengenal, memahami, dan merawat bahasa daerah. Selain itu, ruang/forum khusus bagi insan akademik lintas ilmu untuk menjadi “provokator” ide-ide positif penelitian dan pengembangan keilmuan.

    Atmosfir akademis yang kondusif, tidak datang begitu saja seperti hembusan angin sepoi-sepoi melainkan perlu dibangun secara serius dan intens. Dr. Kanis menyarankan agar setiap semester para dosen perlu melakukan penelitian yang paling sederhana sekalipun. Melalui aktivitas penelitian tersebut, para dosen dapat menemukan inovasi-inovasi baru dalam mengajar. Selanjutnya, pihak Universitas dan Yapertif dapat memberikan dukungan dengan cara menyelenggarakan pelatihan penyusunan proposal dosen, juga memberikan insentif kepada dosen peneliti. (eka)


    Profil

     Nama lengkap : Dr. Drs. Kanisius Rambut, M.Hum

    Tempat, Tanggal Lahir : Manggarai Tengah, 12 Juli 1956

    Alamat : Jl. Melati Atas (sekitar Kantor Camat Ende Tengah)

    Keluarga :

    Isteri : Hana Ferderika Yunias

    Anak : Agnesia Prima Novi Rambut, Felisiana Sekunda Rambut, Fransiskus Jefri Samuel,   Oktovianus Kevin Ojung, David Richardo Rambut, Anastasia Marsella Rambut.


Berita Terkait