Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Merawat Bahasa Indonesia Sebagai Jiwa Bangsa

    2016-11-09 08:54:12
    Images

    Merawat Bahasa Indonesia Sebagai Jiwa Bangsa

    Oleh JosephinaNirmaRupa, S.Pd.,M.Pd

    Dosen Psikolinguistik pada Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,

    FKIP, Universitas Flores

    Telp.085253282275

     

    Bahasa merupakan mediaum terpenting di dalam proses komunikasi antarmanusia. Sebagai media, bahasa memungkinkan terjadinya transformasi nilai dan makna dalam tindakan berkomunikasi. Gorys Keraf, (1997: 1) mengungkapkan bahasa sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Selanjutnya, menurut Syamsu (www.bahasasastraindonesia.com) mengemukakan fungsi bahasa meliputi: fungsi informasi, dimana bahasa menjadi instrumen penyampaian pesan (informasi) timbal-balik antaranggota keluarga maupun anggota masyarakat, fungsi ekspresi diri, bahasa dimanfaatkan untuk menyalurkan perasaan, sikap, gagasan, dapat pula menjadi media untuk menyatakan identitas-eksistensi diri, membebaskan diri dari tekanan emosi, dan untuk menarik perhatian orang lain. Fungsi adaptasi dan integrasi, dimana melalui bahasa seseorang dapat menyesuaikan diri dan membaur dalam kehidupan masyarakat, dan fungsi kontrol sosial, melalui bahasa seseorang dapat mempengaruhi sikap dan opini orang lain.

    Demikian halnya dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan memiliki fungsi yang sama. Bahkan bahasa Indonesia diposisikan sebagai representasi jiwa bangsa. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang Berbhineka Tunggal Ika. Artinya, bangsa yang tidak menisbihkan fakta pluralitas, namun tetap satu dalam semboyan “satu tanah air”, “satu bangsa”, dan “satu bahasa”, yaitu bahasa Indonesia.

    Keberadaan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan bangsa, merupakan warisan sejarah. Amanat historis ini terpatri kuat dalam peristiwa Sumpah Pemuda yang diikhrarkan pada tanggal 28 Oktober 1928. Sumpah Pemuda tentang “satu tak berbeda” diikhrarkan oleh barisan pemuda-pemudi Indonesia waktu itu. Maka, segala perbedaan maupun keragaman terlebur menjadi satu dan modal perekatnya adalah bahasa Indonesia: bahasa yang membahasakan jiwa bangsa Indonesia, bahasa yang mengungkapkan jati diri bangsa, bahasa yang mengekspresikan spirit luhur bangsa Indonesia, yakni berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

    Generasi muda Indonesia sebagai penerus bangsa patut berbangga dan memberi ruang apresiasiatif positif terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan bangsa. Sikap menjunjung tinggi bahasa Indonesia berarti eksplisit mencintai bahasa Indonesia dan merasa memiliki bahasa Indonesia sehingga selalu ditempatkan pada posisi utama.

    Pada momen peringatan Sumpah Pemuda ini, dan pada momen bulan bahasa ini sudah saatnya warga bangsa, khususnya generasi muda bertekad untuk mempertahankan bahasa Indonesia sebagai jiwa bangsa, bahasa yang hidup dan harus tetap lestari di bumi Indonesia. Bahasa yang mampu mengungkapkan jati diri bangsa. Bahasa Indonesia sebagai jiwa bangsa akan selalu hidup dan terpatri dalam diri setiap generasi bangsa.

    Upaya mempertahankan bahasa Indonesia sebagai jiwa bangsa mestinya menjadi sebuah keharusan historis. Misalnya, secara sadar memanfaatkan nalar (ber)-bahasa Indonesia untuk berbagai kepentingan. Konkritnya, aktif dan intens digunakan dalam urusan pemerintahan, pendidikan, perdagangan, politik, ekonomi, sosial-budaya, seni kreatif, dan sebagainya.

    Idealnya, dalam dunia pendidikan formal bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa pengantar untuk bidang ilmu yang lain. Mengingat di zaman modern ini bahasa asing sudah sedemikian menyebar hingga ke pelosok tanah air, bahkan dipersyaratkan menjadi bahasa pengantar untuk kepentingan tertentu. Atas dasar itulah bahasa Indonesia hendaklah menjadi bidang ilmu pengetahuan yang terus diajarkan bagi peserta didik di jenjang pendidikan dasar hingga hingga perguruan tinggi. Hal ini dimaksudkan agar setiap generasi muda, kaum terdidik lebih mengenal dan mencintai bahasa Indonesia. Operasionalisasinya dapat teridentifikasi ketika bahasa Indonesia digunakan secara baik, tepat dan benar, kreatif dan santun, indah dan menggugah secara lisan maupun tulisan.

    Momentum peringatan bulan bahasa yang dirayakan setiap bulan Oktober turut mempertegas citra bahasa Indonesia sebagai jiwa bangsa Indonesia. Pada peringatan Bulan Bahasa tahun 2016 ini, diskursus bahasa Indonesia sebagai jiwa bangsa dijadikan sebagai tema sentral. Tema ini kemudian dielaborasi secara kreatif oleh Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Flores melalui berbagai kegiatan yang dilaksanakan para mahasiswa sebagai generasi muda, generasi terpelajar yang siap menjaga, merawat, memelihara, mencintai, memiliki, dan melestarikan bahasa Indonesia sebagai sebuah kobaran jiwa yang penuh semangat mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa.

    Tindakan nyata dari term bahasa sebagai jiwa bangsa tersebut adalah dengan membuka bengkel menulis, lomba menulis cerpen dengan mengangkat ciri lokal masyarakat Flores NTT, menulis opini berkaitan dengan peran bahasa Indonesia, kegiatan permainan bahasa kreatif, yakni standup comedy, dan puncaknya adalah diskusi panel dengan topik bahasa adalah jiwa bangsa. Karya-karya terbaik dan berbobot di dalam moment ini diterbitkan menjadi buku.

    Berbagai aktivitas kreatif tersebut merupakan kegiatan inovatif yang menstimulasi, menumbuhkan, dan membangkitkan semangat kesadaran akan peran bahasa Indonesia sebagai jiwa bangsa. Sekaligus menambah pengetahuan dan meningkatkan keterampilan untuk berpikir sistematis, logis, dan kritis untuk menjembatani berbagai perubahan dan tantangan demi mempertahankan jati diri di tengah tawaran nilai-nilai modernisme.*

     

    Opini dipublikasikan di rubrik Suara Uniflor, kerjasama Harian Umum Flores Pos dan Universitas Flores terbit pada 22 Oktober 2016.

Berita Terkait