Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Minat Membaca Dan Menulis Mahasiswa Uniflor

    2017-12-12 13:28:53
    Images

    Minat Membaca dan Menulis

    Mahasiswa Uniflor

     

    Oleh Helena Vidamsi Alung

    Mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika,

    Universitas Flores, Ende, Hp 081236092940

     

     

                Membaca adalah proses belajar untuk mendapatkan informasi, menambah pengetahuan dan wawasan melalui bahan-bahan bacaan, seperti surat kabar, majalah, buku, dan bacaan lain. Pada saat membaca terjadi kerja sama antara mata, pikiran (otak), dan mulut (kalau baca bersuara). Kerja sama yang dimaksud adalah mata melihat tulisan yang diucap oleh mulut dan diserap oleh pikiran (otak).

    Kegiatan membaca merupakan prosedur memahami tulisan sendiri maupun tulisan orang lain. Membaca juga merupakan salah satu cara belajar berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Seseorang akan semakin terbiasa menggunakan kata-kata dan kalimat yang tepat dan sesuai dengan situasi dan kondisi pada waktu berbicara dan menulis. Semakin mudah bagi seseorang untuk fasih berbicara di depan umum.

                Membaca sangat penting bagi mahasiswa, termasuk mahasiswa Universitas Flores (Uniflor). Hanya sayangnya, sebagian besar mahasiswa malas dan jarang membaca. Ini kenyataan yang tidak bisa disangkal. Mohon maaf kalau penilaian ini menyinggung perasaan teman-teman mahasiswa. Lihat saja keseharian hidup mahasiswa, baik pada waktu berada di lingkungan kampus maupun di tempat kos. Mereka lebih sibuk urusan lain yang tidak berhubungan dengan membaca.

    Kalau diperhatikan, para mahasiswa sering dimanjakan dan lebih mengandalkan internet. Perilaku instan para mahasiswa ini sepertinya sulit diubah. Berbagai alasan yang dilontarkan seperti tugas kuliah yang banyak. Untuk mengerjakan tugas kuliah lebih banyak mengunduh dari internet. Ada juga yang mengatakan, penyelesaian tugas kuliah lebih cepat kalau lewat internet, dibandingkan dengan mencari materi dalam buku-buku. Cara pandang dan perilaku mahasiswa yang seperti inilah tidak bagus untuk kemajuan. Seharusnya mahasiswa lebih membudayakan kebiasaan membaca juga menulis guna mempersiapkan masa depan yang lebih cerah.

    Seorang mahasiswa Uniflor yang penulis wawancarai berkata, ”Saya suka belajar dan membaca di saat ujian hampir tiba. Istilahnya belajar ngebut semalam.” Ada juga yang mengatakan, bahwa ia suka membaca. Baginya, membaca itu untuk menemukan kosa kata baru, mendapatkan informasi, dan sumber inspirasi dan motivasi. Perilaku mahasiswa yang kedua inilah yang patut dicontohi.

    Mahasiswa adalah jantung dunia, demikian kata orang bijaksana.  Rendahnya minat membaca mahasiswa merupakan penyakit pada jantung dunia. Karena mahasiswa adalah generasi yang merupakan jantung perubahan peradaban dunia. Jika mahasiswa tidak mempersiapkan dirinya dengan baik, seperti apa generasi kita ke depannya. Presiden pertama Indonesia Bung Karno berkata, “Berilah aku cukup sepuluh pemuda maka akan bias menggoncang dunia.” Maksud dari pernyataan tersebut bahwa pemuda atau mahasiswalah yang memegang masa depan bangsa dan negara. Secara tidak langsung Bung Karno menyuruh mahasiswa Indonesia untuk belajar dengan membaca dan menulis.

    Bapak Paulus Wangga pegawai Program Studi Pendidikan Fisika Uniflor bercerita, “Mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika hampir jarang membaca buku di perpustakaan program studi. Mereka hanya datang bercerita dan melihat-lihat buku. Karena bukunya tidak terlalu menarik, mahasiswa tidak mau membaca.” Perilaku para mahasiswa seperti inilah yang menjadi salah satu penyebab lulusan tidak bermutu.

    Minat membaca juga memang dipengaruhi daya tarik buku atau bahan bacaan. Sebuah buku atau tulisan yang bagus akan mendorong mahasiswa membaca. Menulis itu seni. Karena menulis merupakan karya tangan kita sendiri, baik yang diketik maupun tulisan tangan. Semakin kita rajin membaca, kemauan kita untuk menulis akan tinggi. Janganlah kita hanya suka membaca karangan orang lain, tetapi kita tidak bisa menulis karangan sendiri. Menjadi seorang penulis sangat mudah asalkan kita sering membaca karangan orang lain dan kita sendiri harus menulis, misalnya menulis buku harian, membuat kas belanja bulanan, menulis ulang materi kuliah yang diberikan dosen, dan lain-lain. Kita akan bisa menulis karena kebiasaan. Kata orang, ala bisa karena biasa.

    Dalam proses menyusun tugas mata kuliah dalam bentuk makalah, banyak mahasiswa yang copy paste dari internet. Mahasiswa tidak mampu menyusun makalah hasil pikiran sendiri atau kelompok. Lemahnya kemampuan menulis mahasiswa karena lebih suka karangan orang lain daripada menulis karangan sendiri. Mestinya harus disadari bahwa membaca karangan orang lain merupakan dorongan agar kita berusaha menulis karangan sendiri. Kita mestinya punya obsesi, “Kapan ya orang lain akan membaca karanganku?”

    Kita perlu belajar menulis sesuai aturan penggunaan ejaan yang berlaku. Dalam buku kuliah karya Bapak Yohanes Sehandi berjudul Bahasa Indonesia dalam Penulisan di Perguruan Tinggi (2013), termuat aturan penulisan yang benar. Mulai dari cara penggunaan ejaan (EYD) dalam karangan, penggunaan kata, penggunaan kalimat, penyusunan paragraf, penyusunan kutipan, penyusunan catatan kaki, dan penyusunan daftar pustaka.

    Syarat kelulusan akhir perkuliahan mahasiswa yakni menulis skripsi. Skripsi tidak semudah menyusun makalah yang bisa disalin dari internet, tetapi harus hasil karya sendiri. Mahasiswa yang tidak terbiasa menulis akan berdampak pada penggunaan bahasa yang tidak baku dalam skripsi. Inilah yang menyebabkan mahasiswa selalu lamban menyelesaikan penulisan skripsinya. Penulis mengajak segenap mahasiswa, terutama mahasiswa Uniflor marilah kita membudayakan kebiasaan membaca dan menulis. *

     

     

     

Berita Terkait