Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Modal Sosial Membangun Masyarakat Desa

    2015-04-18 21:39:24
    Images

    Modal Sosial Membangun Masyarakat Desa

     

    Oleh Baltasar Taruma Djata, S.E, M.Sc

    Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan,

    Fakultas Ekonomi, Universitas Flores, Hp 085239058364

     

    Upaya membangun ekonomi masyarakat tidak hanya ditentukan oleh modal alam (natural capital) dan modal manusia (human capital), juga ditentukan oleh modal sosial (social capital) yang tumbuh dan berkembang dari para pelaku pembangunan itu sendiri. Modal sosial merupakan relasi yang dibentuk atas kesadaran dari para pelaku pembangunan dalam memupuk rasa persaudaraan terhadap sesama.            

    Menurut Eva Cox (1995) dalam Inayah (2012), modal sosial adalah suatu rangkaian proses hubungan antara manusia yang ditopang oleh jaringan, norma-norma,  dan kepercayaan sosial yang memungkinkan efisien dan efektifnya koordinasi dan kerja sama untuk keuntungan dan kebajikan bersama.

    Pendapat lainnya adalah Cohen dan Prusak (2001), modal sosial adalah stok dari hubungan yang aktif antar masyarakat. Setiap pola hubungan yang terjadi diikat oleh kepercayaan (trust), kesalingpengertian (mutual understanding), dan nilai-nilai kebersamaan (shard value) yang mengikat anggota kelompok untuk membuat kemungkinan aksi bersama dapat dilakukan secara efisien dan efektif.

                Dijelaskan pula oleh Putnam (1993) dalam Rustant (2007) bahwa modal sosial sebagai institusi sosial melibatkan jaringan (networks), norma-norma (norms), dan kepercayaan sosial (social trust) yang mendorong pada sebuah kolaborasi sosial (koordinasi dan kooperasi) untuk kepentingan bersama.

    Bourdie (1970) menjelaskan pula bahwa modal sosial itu sebagai sumber daya aktual dan potensi yang dimiliki seseorang yang berasal dari jaringan sosial yang terlembagakan serta berlangsung terus-menerus dalam bentuk pengakuan dan perkenalan timbal balik. Dengan kata lain, keanggotaan dalam kelompok sosial memberikan kepada anggotanya berbagai bentuk dukungan kolektif (Rustanto, 2007).

    Semangat kebersamaan ini akan membangun ekonomi masyarakat secara bersama-sama. Menurut Inayah (2012), modal sosial sangat tinggi pegaruhnya terhadap perkembangan dan kemajuan berbagai sektor perekonomian. Ditegaskan pula oleh Fukuyama (2002) bahwa modal sosial yang kuat akan merangsang pertumbuhan berbagai sektor ekonomi karena adanya tingkat rasa percaya diri yang tinggi dan kerekatan hubungan dalam jaringan yang luas tumbuh antara sesama pelaku ekonomi. Budaya gotong-royong, tolong-menolong, dan saling mengingatkan antara individu dalam entitas masyarakat pedesaan merefleksikan semangat saling memberi, saling percaya, dan adanya jaringan-jaringan sosial. Hal ini membangun kekompakan pada masyarakat desa untuk bersama-sama dalam memulai usaha ekonominya secara bersama-sama, membentuk kelompok untuk menyelesaikan permasalahan dan mencari solusi bersama dalam rangka meningkatkan perekonomiannya.

    Pembangunan ekonomi masyarakat pedesaan mempunyai arti strategis dalam rangka pembangunan nasional, karena ekonomi masyarakat pedesasaan merupakan landasan atau basis kekuatan ekonomi nasional. Dapat dikatakan, pembangunan desa yang merupakan pembangunan yang langsung bersangkutan dengan masyarakat yang berada di pedesaan maka ekonomi masyarakat pedesaan itu sebagai titik sentral dari pembangunan nasional.

    Dalam UU Nomor 6 Tahun 2014, Pasal 1 Ayat (8) ditegaskan bahwa pembangunan pedesaan adalah upaya peningkatan kualitas hidup dan kehidupan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat desa. Harapan dan cita-cita luhur ini akan terwujud kalau dalam proses pelaksanaannya ditunjang dengan modal sosial yang tinggi, karena modal sosial akan menghasilkan energi kolektif yang memungkinkan berkembangnya jiwa dan semangat berjuang masyarakat yang akan mengembangkan perekonomian pedesaan. 

    Apabila terjadi pengikisan norma dan nilai-nilai dalam masyarakat berlangsung terus-menerus, maka akan terjadi erosi modal sosial yang hebat. Kejujuran, ketulusan, dan kerja sama yang positif dalam masyarakat biasanya terkikis, tidak hanya ulah kalangan elit, juga di tingkat masyarakat umum. Di kalangan elite, seperti pejabat pemerintah dan lembaga pendidikan terkadang ditemukan perilaku kurang jujur, kurang tulus, dan sering merendahkan orang lain.

    Fukuyama (2002) berpendapat, erosi modal sosial dalam masyarakat dapat dibaca dari meningkatnya kriminalitas, meluasnya penggunaan narkoba, kehidupan rumah tangga retak, maraknya sengketa di pengadilan, dan kasus bunuh diri. Semua itu sering dan terus terjadi di tengah-tengah masyarakat, dan dapat dipastikan bahwa erosi modal sosial itu juga berakibat buruk pada pembangunan ekonomi dan dunia bisnis. 

    Kostov dan Lingrad (2001) dalam Pranadji (2006) menyatakan, pembangunan masyarakat pedesaan di masa datang memerlukan pendekatan baru. Penguatan modal sosial dalam pembangunan pedesaan dinilai sebagai pembaruan pendekatan yang sangat penting. Jika pembangunan pedesaan tidak disertai dengan penguatan modal sosial, seperti partisipasi masyarakat, apapun program atau proyek pembangunan pedesaan yang dijalankan pemerintah akan sulit tercapai.

    Di pihak lain, pembangunan pedesaan memerlukan koordinasi dan kerja sama dengan semua pihak, baik pihak pemerintah (pusat, daerah, dan desa) maupun kelompok peduli (lembaga pendidikan dan LSM). Keterlibatan aktif pihak masyarakat, pedesaan, pemerintah, dan kelompok peduli ini akan memperkuat semangat kebersamaan dalam mengembangkan perekonomian bangsa melalui perekonomian pedesaan.

             Modal sosial akan tumbuh dan berkembang kalau digunakan bersama-sama.  Sebaliknya, akan mengalami kepunahan kalau tidak dilembagakan secara bersama-sama. Oleh karena itu, pewarisan nilai modal sosial harus terus dilakukan melalui proses adaptasi, pembelajaran, dan pengalaman nyata dalam masyarakat.

    (Suara Ujiflor, Flores Pos, Sabtu, 28 Februari 2015).

     

Berita Terkait