Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Momentum Pemilu 9 April 2014

    2015-04-16 05:55:54
    Images

    Momentum Pemilu 9 April 2014

         Oleh Kim Seke

    Mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika, Universitas Flores,

    Anggota PMKRI Cabang Ende, HP 085238962733

     

    Bangsa kita sudah lama merdeka, namun kemerdekaan sesungguhnya belum dirasakan sebagian besar warga masyarakat bangsa ini. Lihatlah kondisi riil masyarakat kita yang hidupnya dibelenggu kemiskinan, pengangguran, kebodohan, kesehatan yang buruk, pembangunan yang pincang, terutama kita di Indonesia Timur.

    Pergantian pemimpin dari periode ke periode lewat pemilihan umum (pemilu) hanya merupakan pergantian kekuasaan dan pertukaran penguasa. Berbagai kepentingan termuat dalam proses pemilu dengan mengatasnamakan kepentingan rakyat. Yang terjadi adalah untuk kepentingan pibadi dan kelompok. Bonum commune sebagai jargon politik jauh dari apa yang diharapkan. Masyarakat sebagai pemilik sah demokrasi hanyalah onggokan manusia  yang akan segera hilang dari perhitungan oleh ganas dan nikmatnya kekuasaan.

    Demokrasi yang dipelajari dalam buku teks “dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat” berubah menjadi “dari rakyat oleh rakyat dan untuk penguasa dan pengusaha.” Kondisi inilah yang membuat kita bertanya: “Ada apa dengan demokrasi kita di negeri ini?” Pertanyaan ini mengajak kita untuk sejenak berpikir, sesungguhnya siapa yang bersalah dalam kondisi ini? Apakah mereka yang kita percayakan untuk duduk di DPR, DPD, dan DPRD? Ataukah kita yang salah memilih calon legislatif (caleg) setiap kali pemilu digelar? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing yang kebenarannya akan terlihat dalam gerakan perubahan.

    Pada era Reformasi ini kita telah mengikuti beberapa kali pemilu. Hasil yang kita petik setiap kali pemilu tidak menunjukkan perubahan yang signifikan sebagaimana diharapkan. Kini kita akan segera dihadapkan dengan pemilu yang kini di depan mata, yakni Pemilu 9 April 2014,  hari Rabu depan. Pada Pemilu 9 April ini kita akan memilih lagi anggota DPR, DPD, dan DPRD untuk mewakili kita di lembaga legislatif. Jangan sampai kita mengulangi kesalahan kita pada pemilu-pemilu sebelumnya.

    Pada Pemilu 9 April ini perlu lebih cermat agar kita tidak salah lagi. Untuk itu kita dituntut untuk menjadi pemilih yang rasional. Dalam arti, pemilih yang memilih dengan pertimbangan yang logis dan bertanggung jawab. Kita memilih bukan karena keluarga, suku, agama, ras dan golongan, bukan pula karena uang Rp 50 ribu atau Rp 100 ribu, tetapi kita memilih calon anggota DPR, DPD, dan DPRD yang berintegritas, pribadi teladan, seluruh hidup dan perjuangannya untuk kepentingan rakyat yang diwakilinya. Kita harus sadar bahwa Pemilu 9 April adalah sebuah momentum strategis untuk kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara lima tahun ke depan. Jangan sampai kita menyesal atas pilihan kita.

    Sejarah mencatat bahwa kaum muda memiliki peranan besar dalam membuat perubahan di negeri ini. Dalam rentetan sejarah bangsa kaum muda (para pelajar dan mahasiswa) telah menumbangkan Orde Lama dan Orde Baru yang mengantar bangsa ini ke Orde Reformasi. Apakah rasa kepedulian ini masih ada dalam diri kaum muda Indonesia saat ini? Pertanyaan ini merupakan manifestasi kegelisahan yang dialami penulis dan kawan-kawan ketika mencermati keberadaan para pelajar dan mahasiswa pada hari ini.

    Para pelajar dan mahasiswa pada hari ini cenderung larut dalam euforia sejarah tentang keberhasilan mahasiswa masa lampau seperti yang tergores dalam lembaran-lembaran sejarah. Semangat cinta Tanah Air (nasionalisme) telah terkikis oleh kemudahan teknologi sehingga mahasiswa hari ini merasa bahwa mengurus bangsa bukanlah tanggung jawabnya.  Label yang diberikan kepada para mahasiswa seperti agen of change dan agen of control hanya pelengkap sandiwara kehidupan kaum muda kini. Momentum Pemilu 9 April ini adalah kesempatan kaum muda untuk menunjukkan perannya sebagai agen of change dan agen of control demi kepentingan besar, yakni kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara.  

    Kita kaum muda, para pelajar dan mahasiswa, dituntut untuk menjadi garda terdepan pembela dan pejuang demokrasi. Kita dituntut untuk mampu wujudkan pemilu yang damai dan bermartabat dengan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil. Kaum muda yang masih belum peduli dengan momentum Pemilu 9 April ini segeralah sadar. Momentum pemilu adalah kesempatan melakukan perubahan atas kondisi yang bobrok kea rah yang lebih baik sebagaimana yang kita harapakan bersama.

    Kita menjadi orang muda yang peka terhadap situasi sosial,  harus  menjadi teladan untuk menjadi pemilih yang rasional. Jangan pernah apatis dengan momentum Pemilu 9 April ini. Orang muda adalah agen perubahan di berbagai aspek kehidupan, agen yang dapat mengontrol segala kebijakan yang tidak prorakyat. Jangan sampai kita menjadi orang muda yang takut akan perubahan, hanya berpikir tentang diri-sendiri, hidup hedonis dan konsumtif. Jangan sampai kita terjebak dan terjerumus dalam dunia globalisme dengan arus perkembangan teknologi yang menyebabkan kita seolah-olah hidup dalam dunia mimpi dan terbangun pada saat semua orang sudah berada dalam perubahan yang baru. (Flores Pos, Sabtu, 5 April 2014).

     

Berita Terkait