Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Moral Responsibility of Resolution

    2015-04-18 20:57:45
    Images

    Moral Responsibility of Resolution”

     

    Oleh Tuteh Pharmantara

    Staf pada UPT Publikasi dan Humas, Universitas Flores,

    Ende, Hp 085239014948

     

    Selamat Tahun Baru 2015. Gerbong terakhir kereta tahun 2014 baru saja melintas di hadapan kita. Saya selalu mengumpamakan 365 hari dalam setahun seperti kereta yang gerbongnya mengular jutaan mil. Jika ada yang berpendapat setiap tahun baru tiba manusia meninggalkan tahun yang lama, maka pendapat saya berkebalikan.             Dalam perkara ini saya menempatkan diri sebagai rel, yang hanya boleh ikhlas melihat “si kereta” berlari, berlalu, meninggalkan saya. Namun, setiap gerbong kereta tidak pernah pergi begitu saja. Dari setiap perputaran roda besi di atas “tubuh” saya, dia menempa, mendidik, dan memberi pengalaman paling berharga yang tidak saya dapatkan dari dunia akademik.

    Perbuatan yang sama akan saya dapatkan dari gerbong-gerbong kereta berikutnya yang disebut “tahun baru.” Atau anggaplah kita berada di dalam ruang pengisian isi botol minuman berkola sebuah pabrik di mana setiap 365 botol wajib terisi minuman dengan standar internasional yang sama. Tentu jika kembali pada keberadaan kita sebagai manusia, pasti ada banyak botol yang isinya cacat entah itu berkurangnya volume atau kualitas yang merosot.

    Adalah dua kata yang paling populer setiap menjelang pergantian tahun, yaitu kaleidoskop dan resolusi. Kaleidoskop tidak saja menjadi parameter tindakan kita selama setahun, tetapi juga sebagai data evaluasi untuk tindakan pada tahun berikutnya. Sedangkan resolusi (tahun baru) sendiri adalah janji.

    Beberapa kisah sejarah berikut ini menjelaskan tentang janji tersebut. Penduduk Babilonia kuno berjanji kepada para dewa yang mereka sembah setiap awal tahun bahwa mereka akan mengembalikan semua benda-benda yang telah dipinjam dan membayar utang mereka. Bangsa Romawi memulai awal tahun dengan berjanji kepada Dewa Janus, yang namanya diabadikan menjadi nama Bulan Januari. Pada Abad Pertengahan para kesatria mengucapkan “sumpah merak” pada akhir musim Natal setiap tahunnya untuk menegaskan kembali komitmen mereka sebagai kesatria (sumber: Wikipedia). Janji adalah utang, dan utang wajib ditepati.

    Pada masa kekinian, bagi penulis, pemahaman resolusi telah jauh bergeser. Resolusi adalah rencana muluk manusia yang rata-rata ditujukan untuk diri-sendiri. Begitu mudah terucap namun sulit terwujud, rencana bukanlah janji yang harus ditepati.

    Sebuah studi pada tahun 2007 yang dilakukan oleh Richard Wiseman dari Universitas Bristol dengan melibatkan 3.000 responden menunjukkan bahwa 88% dari mereka yang membuat resolusi tahun baru gagal mewujudkannya, meskipun 52% dari responden yakin pada awalnya bahwa mereka akan berhasil mewujudkannya. Sebanyak 22% pria berhasil mewujudkan resolusi mereka saat mereka menetapkan target (misalnya bertekad menurunkan berat badan satu pon dalam seminggu, bukannya hanya “menurunkan berat badan” saja), sedangkan 10% wanita berhasil mewujudkan resolusi mereka jika mendapat dukungan dari orang-orang terdekat (sumber: Wikipedia).

    Frank Ra (penulis buku resolusi tahun baru A Course in Happiness) menyatakan bahwa: “Resolusi akan lebih berkelanjutan bila kita berbagi, baik dalam hal dengan siapa Anda berbagi manfaat dari resolusi Anda, dan dengan siapa Anda berbagi jalan untuk menjaga resolusi Anda. Rekan dukungan yang membuat perbedaan dalam tingkat keberhasilan resolusi tahun baru.”

    Rata-rata resolusi terdiri atas susunan rencana, atau perubahan pola dari buruk menjadi baik. Contohnya: akan lebih menjaga kesehatan dengan mengurangi asupan alkohol dan nikotin, akan lebih rajin bekerja sebagai bentuk tanggung jawab terhadap pekerjaan, akan menggunakan waktu cuti untuk pergi ke tempat-tempat wisata, akan menjadi relawan untuk membantu orang lain atau suatu organisasi kemasyarakatan, atau akan mulai memanfaatkan pekarangan belakang rumah dengan berkebun apotik hidup.

    Berbicara tentang resolusi sama dengan berbicara tentang moral responsibility (tanggung jawab moral). Sejauh mana kita bertanggungjawab dengan resolusi yang telah tersusun bahkan jauh sebelum akhir tahun tiba? Pernahkah kita berpikir untuk bertanggung jawab pada resolusi sendiri? Jawabannya ada pada satu kata: kemampuan.

    Kemampuan melakukan, atau meninggalkan, sebuah rencana adalah syarat  dasar tanggungjawab moral. Mampukah kita mengukur kemampuan diri sendiri? Saya sendiri akan menjawab, “ya dan tidak!” karena banyak resolusi saya yang keluar dari track meskipun tidak sedikit pula yang tergenapi. Contohnya penulis menjatah 50 buku untuk  dibaca selama tahun 2014,  nyatanya hanya sanggup membaca 20 buku, atau berencana akan menerbitkan novel berikutnya pada bulan Agustus 2014, tetapi proses editing belum  final.

    Moral responsibility of resolution, terbaca sepele, namun mengandung makna yang dalam. Dari resolusi pribadi ini, dan bagaimana tanggung jawab moral kita, banyak pelajaran berharga yang tertuai. Moral responsibility of resolution niscaya menjadikan kita manusia yang berhenti menulis daftar rencana yang panjang dan aneh. Moral responsibility of resolution niscaya menjadikan kita manusia yang berhenti “takabur.”  Moral responsibility of resolution niscaya menjadikan kita manusia yang sadar akan kekuasaan dan kebesaran Tuhan (karena 99% rencana manusia tidak akan pernah terwujud tanpa 1% izin-Nya).

    Jadi, bagaimana dengan resolusi Anda tahun 2015 ini? Sanggupkah Anda mempertanggunjawabkannya 365 hari mendatang?

    (Suara Uniflor, Flores Pos, Senin, 5 Januari 2015)

Berita Terkait