Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Motivasi Mengajar yang Jitu

    2015-04-18 09:49:50
    Images

    Motivasi Mengajar yang Jitu

       

         Oleh Drs. Ferdinandus Levi

              Dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD),

             FKIP, Universitas Flores, Hp 085239009088

     

    Bila kita bertanya kepada seorang pegawai, “Apa tujuanmu bekerja setiap hari?” Jawaban yang diperoleh, antara lain, “Ya, untuk mencari nafkah, mencari uang!” Bila pertanyaan yang sama kita ajukan kepada seorang guru, apa jawabannya?

    Seorang pastor SJ, doktor bidang pendidikan, Rektor IKIP Sanata Dharma tahun 1980-an, selalu mengatakan kepada kami, “Anda sekalian mahasiswa-mahasiswaku, camkan baik-baik. Kami mengajar dan mendidik kamu untuk menjadikan kamu guru yang bermutu di SMP dan SMA kelak, bukan yang bermuka duit.” Nasihat ini selalu bergema di telinga dan hati kami bekas mahasiswanya.

    Setelah tamat dari Sanata Dharma saya mengajar bahasa Inggris dan praktek musik vokal dan instrumental selama 30 tahun di SMAK Syuradikara, Ende. Pada saat itu saya sungguh menyadari apa yang disebut “guru bermutu.” Guru bermutu adalah guru yang memiliki  “motivasi mengajar yang jitu.” Penjelasannya seperti berikut.

    Pertama, membuat anak-anak didik pandai pada bidang-bidang studi yang membutuhkan kecerdasan otak, seperti matematika, fisika, kimia, biologi, ekonomi, sejarah, bahasa, dan ilmu-ilmu lainnya. Untuk itu guru harus benar-benar menguasai bidang studinya dan memeras otak untuk mendapatkan metode terbaik agar para siswa-siswi dapat menangkap dan memahaminya.

    Bila para siswa belum memahaminya, guru tak boleh putus asa dan mempersalahkan siswanya. Adapun kehebatan dan kejelian guru bermutu terletak pada kemampuannya untuk membuat para siswa mudah memahami sesuatu yang sulit atau berat. Hanya guru bermutu yang akan bekerja keras untuk mengatasinya. Guru yang bermuka duit tak menghiraukannya, yang penting duit. Dalam hal ini saya sebagai guru benar-benar merasa puas tatkala 3 siswiku SMAK Syuradikara mendapat nilai bahasa Inggris 10 dalam UAN dan lulus 100%.

    Kedua, menjadikan anak didik terampil dalam bidang-bidang tertentu yang membutuhkan banyak pelatihan, seperti olahraga dan kesenian. Sebagai guru kita harus mengorbankan banyak waktu untuk melatih mereka sampai terampil. Tentu waktu formal tidak cukup untuk membuat mereka terampil. Di sinilah seorang guru bermutu ditantang, kalau mau  membuat anak terampil maka harus mau mengorbankan waktu.       

    Sebagai guru saya sungguh merasa puas tatkala siswa/siswi SMAK Syuradikara selalu meraih juara satu dalam lomba seni musik antara SLA. Seringkali ada atasan kita yang mengimbangi pengorbanan kita ini, tetapi ada pula yang tidak. Keadaan ini tidak membuat kita patah semangat karena balasannya bukan selamanya berupa uang, tetapi berkat Tuhan yang tertuang dalam bentuk lain yang meringankan hidup kita, dalam hal ini kita bekerja dengan iman.

    Ketiga, membuat para siswa memiliki etika dan moral yang benar. Untuk itu,  guru bermutu harus memberikan contoh, bukan hanya mengajar dan berbicara dalam kelas. Anak diajarkan untuk menghayati hidup sopan-santun, berbudi pekerti luhur, dan hidup beragama yang benar.

    Untuk itu seorang guru bermutu haruslah memiliki kehidupan rohani yang baik. Guru mengawali dan mengakhiri pelajaran selalu dengan doa. Bukan tak mungkin bahwa karena guru memiliki kehidupan rohani yang baik dan memberikan contoh yang baik, ada siswa yang tertarik untuk memiliki kehidupan kerohanian yang khusus, misalnya menjadi biarawan/biarawati atau menjadi guru agama. Ada peribahasa Latin yang sangat menyentuh Verba movent, exempla trahunt.

                Dengan kata-kata memang menyentuh, menggerakkan hati orang yang mendengarkannya, tetapi dengan teladan atau contoh yang baik menarik orang untuk meniru perbuatan yang sama. Oleh sebab itu, seorang guru bermutu harus memberikan banyak contoh dan suri teladan dalam bertutur kata, berbusana, bersikap, dan berdoa. Guru yang sopan-santun dan tahu adat membuat anak didik menirunya.

    Seorang guru bermutu harus selalu mengajar dengan kesungguhan hati dan memberikan contoh hidup yang baik. Inilah motivasi jitu mengajar demi anak didik. Akibat dari kegiatan guru ini dalam mengajar maka akan mendapat imbalan berupa gaji dari pemerintah atau yayasan. Tujuan mengajar bukanlah semata-mata mencari uang melainkan membuat anak didik pintar, terampil dan beretika moral yang baik. Uang hanyalah akibat saja.

    Bila tujuan utama mencari uang maka yang dikejar adalah selalu hadir mengajar dengan tanda tangan kehadiran lengkap secara administratif. Apapun hasilnya sukses atau tidak terserah pada murid. Murid bisa lulus atau tidak lulus yang penting sebagai guru telah mengajarkan semuanya. Guru yang bermutu tak akan berperilaku demikian, karena ini menunjukkan kegagalannya.

    Sebagai dosen di Prodi PGSD Uniflor saya selalu menegaskan motivasi mengajar jitu ini kepada mahasiswa-mahasiswiku agar mereka menyadari dan melaksanakannya di kemudian hari. Hal ini memang tidak mudah karena membutuhkan banyak pengorbanan.

    Namun bila disadari dengan iman,  hal ini akan berujung pada kenikmatan batin yang tak dapat diukur dengan uang. Uang hanyalah akibat, bukan tujuan. Mudah-mudahan dengan refleksi ini kita para guru kembali berpijak pada motivasi mengajar yang benar.

    (Flores Pos, Sabtu, 8 November 2014).

Berita Terkait