Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Natal: Inkarnasi Logos

    2017-02-02 08:37:08

    Natal: Inkarnasi Logos

    Oleh P. John M. Balan, SVD, MACling.

    Dosen & Campus Minister Universitas Flores

    Hp: 081338767320

     

    Suasana sukacita natal sudah sangat terasa di benak umat kristen di seluruh belahan planet ini. You tube, handphone, VCD, dan radio terus mengumandangkan lagu-lagu natal bergenre klasik maupun modern. Rumah-rumah, jalan-jalan raya, bahkan pohon-pohon-pun didandani hiasan lampu natal aneka warna. Tidak hanya aspek fisik lahiriah saja. Umat berimanpun dimotivasi untuk mendandani hidup batin dengan metanoia, ibadat tobat dan sakramen tobat,  sesuai  spiritualitas adventus. Itulah gebiar sukacita natal. 

    Display yang tampaknya sangat artifisial itu, sesungguhnya mau membawa kita kepada suatu pe(rasa)an keagamaan (sensus religiousus) atau pe(rasa)an iman (sensus fidei) yang sangat substansial fundamental dalam seluruh ziarah iman umat kristiani, sepanjang sejarah keselamatan umat manusia. Keselamatan yang telah dirancang Tuhan berabad-abad lalu. Dan kepenuhan perwujudan keselamatan itu terlaksana dalam “inkarnasi logos”. Itulah “natal” yang aktualisasi komemorasinya kita ulangi dari waktu ke waktu dan dari generasi ke generasi.

    Simplisius salah seorang sahabat St. Agustinus, bercerita kepadanya tentang seorang filsuf Platonis. Filsuf itu mengatakan inkarnasi logos dalam prolog Injil Yohanes sudah sepantasnya ditulis dengan tinta emas. Demikian hal cendikiawan Francis Junius pernah bersaksi bahwa pada masa mudanya dia diracuni dengan gagasan-gagasan yang seenaknya saja dia cetuskan untuk menentang agama. Namun setelah membaca ayat-ayat inkarnasi logos, dia serta merta berbalik dari jalan hidupnya yang sudah jauh dari Allah. Karena ayat-ayat suci inkarnasi logos begitu jelas mengungkapkan keilahian Allah. Ketika membaca ayat-ayat itu bulu romanya berdiri dan ia merinding karena sentuhan ilahi menembusi relung-relung hatinya. Sampai-sampai ia tak sadar diri di mana ia berada, dan apa yang sedang dikerjakannya. St. Arnoldus Yanssen, pendiri Serikat Sabda, bersaksi yang sama. Berulang-ulang kali dalam keluarga Yansen, ayat-ayat suci Inkarnasi Logos sudah menjadi santapan rutin setiap harinya. Dan ayat-ayat suci inilah menggerakkan dia untuk melakukan sebuah karya besar “mendirikan sebuah tarekat religus” yang menurut sahabat-sahabat religiusnya, mustahil dilakukan. Karya besar besar itulah yang sekarang hadir di antara kita dan kita mengenalnya “SVD-Societas Verbi Divini”.

    Natal, sesungguhnya adalah peristiwa inkarnasi logos. Inkarnasi adalah penjelmaan dan logos adalah firman. Maka penjelmaan Firman pada hakikatnya mengungkapkan sejumlah makna yang sangat berpengaruh terhadap kekristenan kita untuk percaya akan kuasa Allah yang begitu terlibat dan menunjukkan solidaritasnya yang sangat kental  dengan umat manusia. Karena itulah Firman menjelma menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus. Atas dasar ini, Kristus disebut Firman. Firman berasal dari Allah dan sehakikat dengan Allah, karena Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakanNya.

    Ada firman dalam pemikiran, kemudian menjelma menjadi buah pikiran, dan merupakan satu-satunya hasil dari pemikiran pertama yakni Allah. Dengan demikian tidak bisa disangsikan bahwa Yesus yang berasal dari Allah disebut Firman, sebab Ia adalah anak tunggal Bapa, dasar segala hikmat dan kekal yang telah ada sejak awal, ketika Allah melakukan karya-karya agungNya. Sebagaimana lazimnya umat kristiani merayakan natal, moment ini sebetulnya merupakan kesempatan bagi umat kristiani untuk masuk dan terlibat dalam pemikiran Allah, yang tidak bisa diselami hanya dengan akal insani melulu. Natal mau melibatkan kita dalam pola pemikiran Allah yang bersifat massive, karena Allah sudah berpikir dan merancang keselamatan seluruh manusia sejak manusia terjerembab dalam dosa.

    Ada pula firman yang diucapkan. Dan ini adalah perkataan. Perkataan merupakan pertanda paling utama dan paling kodrati dari pikiran. Perkataan Allah itu menjelma menjadi wujud seorang manusia ilahi. Dengan demikian Yesus Kristus adalah Firman, sebab dengan perantaraannyalah Allah dari zaman ke zaman telah berbicara kepada kita, dan memerintahkan kita, untuk mendengarkanNya. Dengan penjelmaanNya menjadi manusia Yesus memberitahukan pikiran Allah kepada kita, sama seperti perkataan atau ucapan seseorang yang menyampaikan pikirannya, sejauh yang dikehendakinya. Yesus disebut sebagai manusia ilahi yang berbicara tentang hal-hal yang tersembunyi dan ajaib (Matthew Henry, Ebook, Matthew Henry’s Bible Commentary).

    Firman yang kekal sebagai bercahaya di dalam kegelapan hati nurani kita yang duniawi. Walaupun kita menjadi hamba kegelapan duniawi karena dosa-dosa kita namun dengan inkarnasi logos kita sadar akan kuasa Firman ilahi, yang menciptakan kita secara baru. Kelahiran Yesus Kristus menghadirkan kuasa Allah yang menyapa kita umat tebusanNya.

    Natal, Inkarnasi logos, adalah saat berahmat yang membuka cakrawala bagaimana kita seharusnya mengembangkan pola pikir yang sehat, kreatif dan inovatif untuk memperjuangkan kebaikan-kebaikan individu dan kepentingan-kepentingan komunal melalui pola tutur dan pola tindak yang produktif dan konstruktif. Inkarnasi logos hendaknya semakin membuat kita mengimani Allah dan menyanggupkan kita sehingga kita lebih berani menjelmakan pola pikir, tutur kata, dan tindakan penyelamatan, dalam dunia di mana kita hidup dan berbakti. Merry Christmas and Happy New Year. *

Berita Terkait