Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Oreng, Getaran Sukma dari Lamaholot

    2016-09-13 14:02:18
    Images

    Oreng:

    Getaran Sukma dari Lamaholot

    Oleh Alexander Bala Gawen

    Dosen Universitas Flores, Ende

     

    Oreng adalah nyanyian rakyat. Salah satu genre atau bentuk folklore yang terdiri dari kata-kata dan lagu, yang beredar secara lisan. Kata-kata dan lagu tersebut merupakan dwitunggal yang tak terpisahkan, demikian pakar folklore Danandjaja (2002).  Dalam tradisi etnik Lamaholot oreng dapat dilantunkan pada berbagai peristiwa: ritual kelahiran anak, pesta perkawinan adat, ritual-ritual keagamaan, bahkan pada peristiwa kematian. Dalam peristiwa kematian, oreng menjadi ratapan ekspresi dan ungkapan pamit kepada yang meninggal. Dengan begitu, oreng mengejahwantah menjadi getaran sukma sebagai tanda cinta akan hidup yang dikenang bersama, sembari berucap “selamat jalan” kepada dia yang hendak melewati jalan baru berjumpah dengan Wujud Tertinggi, Tuhan Pencipta Langit dan Bumi (Lera Wulan Tana Ekan). Sebuah perjumpaan yang baru dengan Dia, Pencipta sumber segala berkat, kerahiman, dan kemurahan.

    Oreng khazanah tutur etnik Lamaholot, menjadi bagian kemajemukan bangsa, mencerminkan integralisme yang diikat oleh rasa “ada bersama” dalam satu-kesatuan integral sebagai perwujudan rasa kebangsaan berbangsa dan bernegara. Buah warisan historisitas keyakinan generasi terdahulu Lamaholot yang lesatari, sekalian mengimplementasikan keyakinan tradisional akan langit tempat menyembah dan bumi tempat berpijak dalam semangat keagamaan di atas rahim yang sama, yakni lewotana (kampung halaman).

    Keyakinan kemanusiawian demikianlah menandai ketakberdayaan manusia di hadapan Tuhan Sang Mahakasih. Manusia etnik Lamaholot tak lain adalah butir-butir debu yang tak berdaya, dan memiliki ketergantungan yang besar kepada Dia yang menafasi hidup dan kehidupan mereka. Dia adalah alpha dan omega, tempat manusia Lamaholot mengharap kasih, mendaras doa, dan melambungkan kidung pujian.

    Ada amanat komunikatif religiositas, karena oreng yang termeterai melalui bahasa daerah dipandang dan dihayati sebagai sarana komunikasi, simbol kehadiran dan kehidupan dengan Sang Pencipta. Komunikasi merupakan fungsi utama bahasa, yang tampil melalui kata sebagai kekuatan transaksi verbal untuk menempatkan dan mempertemukan dua pribadi. Semangat religiositas juga dibangun dalam sebuah relasi yang erat dengan manusia yang lain dan alam. Alam tempat manusia berkreasi, berfilsafat, bereligi, beretika, serta meneladani ciptaan Tuhan lewat estetika atau keindahan (Saryono, 2006: 35).

    Dengan dunia estetika itulah manusia mengalami pengalaman unio mystica, persekutuan, persatuan dengan Tuhan lewat keindahan. Dalam konteks ini, mendaraskan oreng berarti mendaraskan keindahan kata atau mengkelindan kata. Mendaraskan ratapan  bahasa “perpisahan” antara orang hidup dengan yang meninggal, saat hendak diusung ke tempat persemayaman yang terakhir oleh oreng alap adalah bukti kesetiaan tentang ada bersama itu. Bahwa kematian tidak dipersepsi sebagai kehidupan manusiawi yang terakhir, melainkan kematian dalam cara pandang biblis Kristiani berarti pergi ke Rumah Bapa.

    Oleh karena itu, hidup ini adalah keindahan. Estetika, yang bukan diteori, namun dihayati, sebagaimana estetika oreng. Guratan sukma dari kedalaman batin nan nestapa, serta kepenuhan harapan akan memenuhi “jalan lurus” kepulangannya menghadap Sang Pencipta di Rumah Bapa.

    Dalam kekuatan kata tersebut, oreng merepresentasikan sebuah nama untuk menggambarkan, sekaligus memberitahu orang lain tentang eksistensi masyarakat etnik Lamaholot, bahwa ada sesuatu yang terdapat dalam deretan kata-kata oreng. Dengan agak personifikasif, diyakini bahwa kata yang membentuk oreng sangat mempengaruhi individu dan masyarakat secara luas. Runutan kata-kata yang berkelindan dalam pilihan kata seorang tukang oreng (oreng alap) menonjolkan daya persuasi. Jadilah kata merupakan wadah, media, sekaligus titian dalam merangkai, memformulasikan dan mengkonstruksi ide dan gagasan secara lebih hidup dan bermakna. Kata adalah sebuah anugerah, dan oleh karena itu, kata juga hidup dan memiliki  jiwa.

    Dari sisi sosiologis, oreng menjelmakan diri sebagai karya seni dan memiliki keindahan bertutur yang simetris dengan keindahan pluralitas, yaitu pada kemampuannya untuk tak pernah tuntas menyampaikan makna. Oreng tampil menjadi sense of art, yang sejatinya adalah keterbukaan pada kehadiran mosaik-mosaik keperbedaan. Ketika mengapresiasi oreng sebagai keindahan karya seni, di sanalah ada persuasi bagi masyarakat pewarisnya untuk mentransendensi dan menyadari eksistensi mereka sebagai komunitas kolegial. Sebuah keindahan total dalam pesona merayakan rasa keterbukaan pada oreng sebagai khazanah dan kekayaan bangsa. Rasa akan pluralitas dibangun berdekatan dengan rasa akan seni. Ketika keduanya berpadu, berintegral, ‘bersesama’, maka di sanalah ada rayaan yang meriah dalam kehidupan: kehidupan kebangsaan. Rayaan keberagaman, kepaduan, karena pada bahasa daerah sebagai media pengungkapannya, ada kuasa implikatif yang bening dan jujur dari pesona khas identitas luhur masyarakat etnik Lamaholot.

    Akhirnya, padanya kita belajar. Belajar untuk mengarifi hidup. Belajar untuk mengenal dan menguasai diri. Belajar tentang prestasi unggul masyarakat lisan tradisonal. Kita belajar tentang tanda. Lebih jauh, oreng dan tradisi lisan lain di Flores dan Lembata menjadi sebuah awasan bagi segala peradaban modern karena sikap angkuh dan agresif terhadap sesama, alam sekitar, dan budaya-budaya lain justru telah menjadikan kita kehilangan kaidah kemanusiaan sejati, tulis Levi–strauss, yang dikutip Tifaona (dalam Beding, 1988: xvi). Jawaban yang tepat untuk melukiskan eksistensi kemajemukan kesenian dan kebudayaan, pluralisme kesejarahan, serta kepurbakalaan yang variatif adalah menapakunduri, menggali dan berusaha melestarikan semua yang “lama” demi keteguhan kebudayaan modern. *

    Opini telah dimuat pada Rubrik Suara Uniflor, Harian Umum Flores Pos edisi 10 September 2016. Rubrik dikelola oleh UPT Humas dan Publikasi Uniflor.

     

Berita Terkait