Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • PARADIGMA PEMBELAJARAN K - 13

    2017-09-20 12:48:04
    Images

    Paradigma Pembelajaran K-13

     

    Marsel Nande, S.Pd.,M.Pd

    Dosen FKIP Program Studi Pendidikan Ekonomi

    No. Hp. 081239330478

     

     

    Alur kurikulum pendidikan Indonesia sedang berada dalam transisi dari kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) menuju ke kurikulum 2013. Reformasi dalam ranah kependidikan ini dipicu oleh fakta merosotnya kualitas pendidikan.

    Sementara itu, kualitas output sangat tergantung pada kualitas pembelajaran oleh para pendidik. Ironisnya, komponen pendidik sebagai mediator pembelajaran ternyata belum cukup kompeten dalam mendongkrak kompetensi peserta didik. Kondisi krusial ini disebabkan oleh zona kenyamanan yang dipolakan dalam metode ceramah,  minimnya kreativitas, dan arogansi di dalam proses pembelajaran.

    Padahal, regulasi operasional kurikulum 2013 mengandaikan proses pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Jadi, pendidik perlu menjajaki strategi pembelajaran yang menstimulasi keaktifan peserta didik. Artinya, peserta didik didorong untuk mengalami secara kontekstual materi pembelajaran. Peran pendidik hanya sebagai fasilitator untuk memediasi peserta didik dalam suasana pembelajaran.

    Namun, pada level satuan pendidikan menunjukan bahwa aplikasi pembelajaran konvensional masih sangat dominan. Memang, setiap metode pembelajaran memiliki keunggulan dan kelemahan tersendiri. Namun, perlu dipahami para pendidik bahwa esensi pembelajaran kurikulum 2013 terarah pada pendekatan ilmiah.

    Merujuk pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 butir 19, merumuskan konsep kurikulum sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

    Atas dasar itu-lah penerapan kurikulum 2013 mengutamakan kedalaman pemahaman, skill, dan penguatan karakter. Peserta didik diarahkan untuk menginterpetasikan materi ajar melalui standar prosedural ilmiah, (pengamatan, bertanya, mencari tahu, menalar, dan merancang laporan atas hasil temuannya). Jadi, “roh” dari kurikulum 2013 adalah mempersiapkan insan Indonesia untuk memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang produktif, kreatif, inovatif dan afektif serta mampu berkontribusi positif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan peradaban dunia.

    Prinsip pengembangan kurikulum 2013 sangat relevan dengan kondisi negara, kebutuhan masyarakat, dan berbagai perkembangan serta perubahan yang sedang berlangsung. Adapun prinsip dasar pengembangan kurikulum 2013 berakar pada pembentukan karakter dan kompetensi

    Bertolak dari premis di atas, maka konsentrasi pendidik terarah pada prinsip pendekatan ilmiah (scientific approach). Dibutuhkan sensitivitas spesifik bagi para pendidik untuk merespon berbagai perubahan. Perubahan paradigma pembelajaran juga menjadi keniscayaan bagi para pendidik yakni “iklas” melepaskan kultur pembelajaran klasikal-monolog kemudian beralih ke pembelajaran berbasis riset. Aroma kendala struktural segera “tercium” bahwa sebagian besar pendidik sulit mengubah filosofi didaktik pengajaran. Realitas inilah yang menyebabkan implementasi pembelajaran berbasis ilmiah menjadi rumit untuk dilaksanakan.

    Paradigma belajar klasik-pun sangat identik dengan penguasaan atas sejumlah pengetahuan dengan cara membaca berulang-ulang. Sementara itu pada paradigma baru, belajar adalah melakukan suatu tindakan secara langsung. Dari hasil itu peserta didik akan memiliki pengalaman belajar dan hasil dari pengalaman itu sesunguhnya adalah pengetahuan itu sendiri.

    Terlepas dari polemik di atas, kurikulum 2013 memiliki keunikan dibanding KBK dan KTSP. Ada dua keunikan dominan dari kurikulum 2013. Pertama, aksentuasi pada kreativitas pendidik. Pendidik menjadi faktor determinan bagi keberhasilan pembelajaran. Kurikulum 2013 seolah “memaksa” pendidik agar selalu lebih kreatif di dalam pembelajaran. Target penting dalam kurikulum 2013 adalah mengubah pola pembelajaran klasikal menjadi pembelajaran berbasis ilmiah. Kedua, orientasinya pada aktivitas belajar peserta didik. Peserta didik ditempatkan sebagai subyek utuh yang memiliki sejumlah potensi alamiah untuk dikembangkan.

    Bertolak dari pokok pikiran tersebut, jika diterjemahkan oleh pendidik secara bijak maka di dalam pembelajaran dapat mengejawantakan arah kuriklum 2013 secara tepat sehingga mampu mencetak generasi penerus bangsa yang produktif, kreatif, inovatif, dan berkarakter. 

    Teknisnya sebelum aktivitas pembelajaran, pendidik perlu merancang parangkat pembelajaran. Persiapan pembembelajaran atau rencana pelaksaanaan pembelajaran (RPP) perlu dipersiapkan sebagai pedoman pembelajaran. Sebaliknya, belajar adalah kegiatan terrencana yang bertujuan untuk memperbaiki perilaku peserta didik baik aspek sikap spiritual, sosial, pengetahuan dan keterampilan. Jadi, belajar merupakan tindakan rasional yang tujuannya telah ditetapkan.

    Keberhasilan pembelajaran ditentukan oleh berbagai faktor dan salah satu diantaranya adalah faktor pendidik. Kedudukan pendidik menjadi sangat urgen atas keberhasilan pembelajaran karena pendidik-lah yang menjadi eksekutor tunggal dalam aktivitas pembelajaran.

    Paradigma pembelajaran K-13 menuntut para pendidik agar memiliki kompetensi dan responsibilitas untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran melalui pendekatan ilmiah. Konsekuensi logisnya, para pendidik harus memahami langkah-langkah pendekatan ilmiah. Disamping familiar dengan prosedural pendekatan ilmiah, dibutuhkan pula kejeniusan untuk mendesain dalam RPP pada kegiatan inti.

    Pekerjaan tersisa yang cukup menguras energi berpikir adalah mengawal perubahan paradigma berpikir peserta didik agar paralel dengan standar logika keilmiahan. Namun, bukankah pendidik itu laksana embun penyejuk pemuas dahaga pengetahuan?*

     

     

     

     

Berita Terkait