Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Pariwisata Alternatif di Kabupaten Ende

    2017-11-11 10:11:38
    Images

    Pariwisata Alternatif di Kabupaten Ende

     

    Oleh Pasifikus Mala Meko, SST.Par., M.Par.

    Dosen Prodi Pendidikan Sejarah,

    Universitas Flores, Hp: 081239324800

     

                 

                Kebijakan pembangunan aksesbilitas ke area pedesaan yang masih kental dengan nilai-nilai kebijaksanaan lokal manjadi alasan utama punahnya situs-situs sejarah penting yang dihargai oleh masyarakat adat. Akses jalan yang melintasi situs-situs penting, bahkan sampai menggusur makam-makam serta beberapa peninggalan menhir. Mengatasi fenomena ini ditawarkan satu model pengembangan pariwisata yang disebut pariwisata alternatif (alternative tourism).

                Pariwisata alternatif (alternative tourism) perlu dikembangkan untuk mengimbangi wisata massal (mass tourism). Jenis wisata di Kabupaten Ende yang cukup berkembang adalah wisata budaya dan alam. Dua daya tarik wisata andalan ini sangat diminati dan memberi prospek signifikan jika dilihat dari jumlah kunjungan wisatawan setiap tahunnya ke Taman Nasional Kelimutu (TNK). Tahun 2016  62.957, dan tahun 2016 sebanyak 81.000 orang (BPS Kabupaten Ende). Data kunjungan ini memperlihatkan bahwa pariwisata memberikan dampak positif bagi destinasi wisata yang dikunjungi, baik dampak sosial, ekonomi, budaya maupun lingkungan.

                Pemetaan kawasan wisata di Kabupaten Ende berdasarkan RIPARDA Kabupaten Ende yang mencakup semua destinasi yang memiliki daya tarik wisata di setiap kecamatan. Tingkat kunjungan wisatawan terbanyak adalah pada kawasan wisata Kelimutu dan sekitarnya. Musim kunjungan (high season) terjadi pada bulan Juni–September. Dengan jumlah kunjungan yang begitu besar diperlukan pengembangan konsep pariwisata alternatif, sekaligus untuk mempromosikan bahwa Di Ende, tidak saja danau Kelimutu, namun masih ada destinasi wisata lain yang perlu dikunjungi.

                Pariwisata alternatif merupakan suatu bentuk kegiatan kepariwisataan yang tidak merusak lingkungan, berpihak pada ekologis dan menghindari dampak negatif dari pembangunan pariwisata berskala besar yang dijalankan pada suatu area yang tidak terlalu cepat pembangunannya. Dengan kata lain, pariwisata alternatif merupakan kegiatan pariwisata berskala kecil yang memperhatikan daya dukung lingkungan serta melibatkan masyarakat lokal (Koslowski dan Travis: 1985).

                Daya dukung (carrying capacity) lingkungan akan mempengaruhi jumlah kunjungan. Terlebih pada high season khususnya pada event-event wisata tahunan, seperti saat ritual adat pati ka dua bupu ata mata. Dampak tingkat kunjungan yang berlebihan akan mempengaruhi lingkungan sekitar, seperti polusi suara, sampah, kerusakan flora, terganggunya habitat fauna sekitar dan kerusakan-kerusakan lainnya.

                Pengembangan pariwisata di wilayah ini diharapkan tetap menjaga lingkungan sekitar sebagai daya dukung keterjagaan dan kelestarian keberlanjutan destinasi wisata. Carrying capacity diibaratkan seperti sebuah perahu yang jika muatannya melebihi kapasitas, suatu saat akan tenggelem dan ditinggalkan. Tentu kondisi ini yang tidak kita harapkan. Pengembangan pariwisata perlu mendapat prioritas, namun tetap memperhatikan kelangsungan ekosistem demi menjaga eksisnya destinasi di mata wisatawan. Oleh karena itu, diperlukan strategi pengembangan dari pariwisata massal menuju pariwisata alternatif yang merupakan salah satu cara bijak pelaksanaan pariwisata berkelanjutan. Responsible tourism, community based tourim, dan ecotourism sebagai bagian dari opsi pariwisata alternatif sangat cocok untuk diterapkan. Tujuan dari wisata alternatif adalah meningkatkan kepekaan terhadap alam, memberikan manfaat ekonomi kepada penduduk setempat, meningkatkan kepekaan akan budaya etnis, serta meminimalisir dampak kerusakan lingkungan.

                Kabupaten Ende dengan potensi alam yang menjanjikan ditopang potensi budaya yang begitu unik, maka konsep ini sangat perlu dikembangkan. Mulai tahap perencanaan, implementasi, hingga pendampingan masyarakat secara terus-menerus secara berkelanjutan (sustainable).

                Konsep pengembangan wisata alternatif, selain dimaksudkan untuk mengurangi wisata massal pada satu titik area di saat yang sama juga dimaksudkan agar pemanfaatan waktu kunjungan wisatawan yang masih cukup panjang bisa dimanfaatkan untuk mengunjungi wisata alternatif lainnya selain danau Kelimutu. Asumsi ini didasarkan bahwa waktu kunjungan ke wilayah TNK sangat singkat yang dimulai dari subuh pukul 04.00 atau 05.00 hingga pukul 11.00 hingga 12.00 siang. Hal ini tergantung dari situasi kondisi alam atau cuaca dengan karakteristik wilayah yang cenderung berkabut, dengan curah hujan yang sedikit berbeda dengan daerah topografi rendah. Karakteristik seperti inilah yang berdampak pada singkatnya waktu kunjungan wisatawan di dalam kawasan TNK. Namun, waktu yang masih tersisa belum dapat diamanfaatkan oleh wisatawan untuk menikmati daya tarik wista lain di sekitarnya karena terbatasnya atraksi wisata yang ditawarkan terutama di luar kawasan TNK.

                Berdasarkan hal tersebut, maka diperlukan penambahan atraksi baru yang bertujuan menambah durasi tinggal wisatawan juga menekan tingkat kerusakan pada lingkungan yang bertumpu pada satu titik area wisata sekaligus memperkenalkan aset alam dan budaya kita yang belum dieksplorasi secara menyeluruh. Beberapa wisata alternatif adalah agrotourism, traditional medical tourism, dan beberapa atraksi rimba, adventure, camping, education tourism. Selain itu untuk wisata budaya, misalnya tradisi memasak moke, mulai dari proses penyadapan, penyulingan hingga penyajian pada ritual adat, dan masih banyak lagi atraksi wisata budaya yang perlu dikembangkan.

                Harapan kita bahwa partisipasi masyarakat lokalpun diberi peran dan tanggung jawab untuk bersama-sama mengambil bagian dalam aktivitas pariwisata melalui penguatan kelembagaan desa Pokdarwis (kelompok sadar wisata), secara positif yang berkontribusi pada ekonomi masyarakat lokal secara langsung (direct impact). Kerja sama antara TNK dengan lembaga pendidikan dan kelompok masyarakat melalui partisipasi penghijauan dan reboisasi pada zona kawasan TNK menjadi upaya nyata menjaga kelestarian alam dan ekosistem dalam menunjang pembangunan pariwisata. *

Berita Terkait