Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Pendaran Energi Kejeniusan Lokal

    2017-08-29 09:04:53
    Images

    Pendaran Energi Kejeniusan Lokal

     

     

    Oleh Marianus Ola Kenoba

    Pengajar Sosiologi dan Sekretaris UPT Publikasi Universitas Flores

     

     

    Ada pengalaman paradoksal yang dialami oleh peserta didik yang bersekolah di pelosok desa. Pengalaman itu berupa keruwetan mengadaptasi “roh” bahasa lokal ke dalam logika ilmu pengetahuan. Melalui dalil itulah para pendidik dengan otoritas  yang dimiliki mewajibkan semua peserta didik agar menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar. Ironisnya, para pendidik juga acapkali “keceplosan” berbahasa daerah ketika sedang mengajar. Namun, jika ada subyek didik yang kepergok berbahasa daerah dalam berkomunikasi di lingkungan sekolah, maka anak-anak “malang” itu akan memperoleh “bonus” jepretan karet gelang tepat di ujung bibir.

    Narasi ilustratif di atas, dimaksudkan untuk membangkitkan kembali memori kesadaran kultural kita terutama berkenaan dengan budi bahasa lokal yang tanpa disadari digiring oleh “ideologi” ilmu pengetahuan menuju ke ambang kepunahan. Tendensi kepunahan budi bahasa lokal itu sebetulnya sudah mulai nampak jelas jejak-jejaknya pada saat ini. Tetapi, praktik budaya berbahasa lokal menjadi urgen untuk didiskusikan karena hanya melalui bahasa lokalah akses kita pada pandangan dunia (world view) komunitas lokal menjadi mungkin.

    Betapapun demikian, gelombang euforia narsistik atas ilmu pengetahuan modern telah menjadi stimulan bagi tragedi tercerabutnya identitas manusia dari akar sosio-historisnya. Lebih dari itu, krisis kemanusiaan telah menjadi sebuah teror yang memilukan bagi manusia yang tengah kesurupan mereguk janji-janji palsu “mega proyek” modernisme. Problem dehumanisasi dan krisis ilmu pengetahuan modern telah menafikan berbagai masalah sosial yang sangat kompleks dan ilmu sosial hampir-hampir kehilangan auranya untuk mengentaskan problematika ini.

    Tentunya ilmu sosial tidak mampu mandiri dengan metodenya sendiri sehingga untuk memulai “proyek” pengentasan tragedi kemanusiaan itu mau tak mau-suka tak suka, ilmu sosial berbuka diri terhadap metode ilmu susastera untuk menata kembali order atau narasi dan biografi sosiohistoris yang terdistorsi.

                Dialektika keterasingan manusia hanya dialami oleh subyek atau individu yang berada dalam dimensi historisitas tertentu. Berbeda dengan benda mati yang sama sekali tidak mengalami pengalaman historisitas. Meskipun bergelut dengan tragedi eksistensial berupa keterasingan namun subyek (manusia) sebagai pelaku sejarah tidak pernah menyerah pada kondisi keterasingan itu. Manusia selalu berupaya sedapat mungkin mengatasinya melalui berbagai bentuk artikulasinya. Salah satu strategi manusia agar bisa survive di tengah problem dehumanisasi itu melalui reproduksi aktif bioteks yang bercorak hermeneutis. Berkaca pada khazanah ilmu sastra penciptaan teks biografis-historis ini disebut dengan istilah telling stories atau pengisahan pengalaman bermakna.

                Andai sedikit mengeksplorasi energi sensitivitas maka dalam pengertian tertentu, konsep telling stories tersebut sebetulnya bukan merupakan fakta konseptual yang aneh atau baru sama sekali. Lihatlah para tetua adat di NTT di manapun kampungnya selalu mempresentasikan pengalaman pengisahan itu terutama pada moment pagelaran ritual adat. Para begawan adat sejati tentunya memiliki referensi filosofi hidup yang sarat makna. Melalui aktus ritual adat-lah filosofi hidup ini dinarasikan kepada para generasi penerus. Bagi penulis segala ekspektasi yang dinarasikan oleh para tetua adat ini, memiliki makna yang sangat mendalam karena narasi yang dipresentasikan oleh tetua adat mengandaikan inti kebijaksanaan keyakinan kolektif.

                Apabila direfleksikan kembali, maka dapat ditemukan bahwa ternyata praksis budaya oral mengandung makna yang sangat kaya dan benar-benar inspiratif. Meskipun demikian, bagi penulis sebuah aspek yang paling mengagumkan dari pengalaman praktek budaya oral yakni kejeniusan para leluhur maupun para tetua adat yang masih ada saat ini. Referensi tentang nilai-nilai budaya lokalitas yang bermakna dan kaya itu, hampir tidak pernah diartikulasikan melalui pola bahasa artifisial atau vulgar melainkan dinarasikan dalam bentuk metafora-metafora. Pola narasi yang bersifat metaforis inilah letak konteks kejeniusan para leluhur dan tetua adat kita. 

                Narasi-narasi metaforis yang terendap dalam pola tutur kejeniusan lokal menjadi simbol dan modal sosiokultural masyarakat tutur yang bertahan sangat lama sekaligus menjadi ruang ekspresi estetik dalam tiap-tiap daerah. Ketika sebagian kalangan menganggap tradisi tulis mempunyai nilai lebih tinggi dalam ihwal pembangunan karakter bangsa karena mengikuti perkembangan zaman, maka eksistensi tradisi oral beserta pola-pola tutur estetik itu makin dekaden, bahkan hampir punah.

                Kalau “penyair” Ebiet G. Ade meminta untuk bertanya pada rumput yang begoyang ketika manusia dihadapkan pada pengalaman tragis maka pada kesempatan ini, penulis ingin menggugah pembaca yang budiman untuk bertanya; kalau perlu berguru pada tua-tua adat di kampung untuk menimba nilai kebijakkan hidup yang terkandung di dalam sejarah lisan, sastra oral, bahkan dongeng  sekalipun. Bukan tidak mungkin horison-horison oase hidup dapat tersingkap dari subyek-subyek yang sama sekali tidak familiar dengan kecangihan seperangkat teori sosial yang terkesan mentereng.

                            Melalui metode sastra yang imajinatif, kehidupan sosial dan budaya orang-orang kecil dapat terpotret oleh paradigma ilmu-ilmu sosial karena hampir sekian abad ilmu sosial tidak mampu menjangkau otentisitas biografi komunitas-komunitas marjinal dan hanya sibuk berkutat dengan pranata-pranata maupun kategori struktur sosial yang lebih bersifat makro. Atas dasar itulah kolaborasi metodologis antara ilmu-ilmu sosial dan ilmu sastra memungkinkan atmosfir telaah diskursus sosial imajinatif dan mendorong pendewasaan ilmu-ilmu sosial dari sisi epistemologisnya

Berita Terkait