Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Pendidikan Cerdas Orang Yahudi

    2016-06-21 12:04:02
    Images

    Pendidikan Cerdas Orang Yahudi

    Oleh Yohanes Sehandi

    Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,

    Universitas Flores, Ende, Email: yohanessehandi@gmail.com

     

    Saya sungguh menikmati dan terpesona membaca sejumlah buku tentang suku bangsa Yahudi, suku bangsa keturunan Abraham yang dipilih Yahwe (Tuhan) menjadi bangsa pilihan (the chosen people). Sejumlah buku itu adalah Rahasia Kecerdasan Yahudi (A. Mahaeswara, 2010), Menguak Rahasia Cara Belajar Orang Yahudi (Abdul Waid, 2013), Membongkar Metode-Metode Pembelajaran Brilian Orang Yahudi (Delfi Luhvian, 2016), dan Yahudi Menggenggam Dunia (William G. Carr, 2005).

    Secara genetik keturunan Yahudi (bangsa Israel) memiliki tingkat kecerdasan intelektual atau IQ (intelligence quotient) sangat tinggi, berkali-kali lipat dibandingkan dengan IQ suku bangsa manapun di dunia. Modal tingkat IQ yang tinggi inilah membuat orang Yahudi menjadi orang nomor satu di berbagai bidang keilmuan dan bidang kehidupan. Padahal, populasi orang Yahudi saat ini tidak lebih dari 8 juta orang, namun mereka mampu menggenggam 3,5 miliar umat manusia di seantero jagat.

    Beberapa pemikir Yahudi yang mempengaruhi arah peradaban antara lain Thomas Alfa Edison (penemu bola lampu listrik), Albert Einstein (penemu teori gravitasi), Felix Bloch (penemu bom atom), Leonard Kleinrock (penemu internet), Bill Gates (penemu Microsoft), Larry Page (pencipta Google), Mark Zuckerberg (pembuat Facebook), George Soros (pialang nomor wahid dunia). Tidak heran kalau orang Yahudi menyebut suku bangsa lain sebagai goyim (bahasa Ibrani) atau umamy (bahasa Arab), yang artinya bangsa-bangsa lain diciptakan Tuhan Allah hanya untuk melayani kepentingan Yahudi belaka.

    Meskipun bangsa Yahudi dan keturunannya menyadari diri sebagai bangsa pilihan Allah yang dikarunia IQ yang sangat tinggi, mereka membangun kekuatan (potensi) dari dalam dirinya secara ketat dan penuh kesadaran. Lembaga pendidikan menjadi kunci, termasuk pendidikan dalam keluarga dan pendidikan agama. Atas dasar itulah orang Yahudi menjunjung tinggi tradisi pendidikan dan keagamaan yang diwariskan para leluhur mereka. Mereka bekerja keras dalam belajar untuk meraih ilmu pengetahuan tertinggi dan sejati. Setiap generasi muda Yahudi dipacu untuk menjadi terbaik dalam bidang-bidang yang digeluti.

     Sistem pendidikan orang Yahudi terfokus pada tiga pilar berikut, (1) berpegang teguh pada konsep agama monoteis sebagai landasan kehidupan utama, (2) berpegang teguh pada sistem etika yang merujuk pada Sepuluh Perintah Allah yang diterima bangsa Yahudi di padang gurun/gunung Sinai lewat perantaraan Nabi Musa, dan (3) berpegang teguh pada sumber utama pendidikan Yahudi, yakni Kitab Suci Taurat (semacam Perjanjian Lama) dan Kitab Suci Talmud (semacam Perjanjian Baru).

    Konsepsi pendidikan Yahudi merupakan perpaduan ketat dan sinergis antara pengetahuan agama Yahudi dan pengetahuan umum. Mereka meyakini, pendidik utama mereka adalah Tuhan sendiri. Tradisi pendidikan Yahudi diwariskan secara turun-temurun. Pendidikan dalam keluarga dilakukan kedua orang tua (sang ayah berperan lebih besar) dan pendidikan dalam rumah ibadah (sinagoga) oleh para rabi. Sejak kecil orang Yahudi ditanamkan kesadaran bahwa pengetahuan umum tidak bisa dipisahkan dengan pengetahuan agama Yahudi. Sinergisitas pendidikan Yahudi memberikan otoritas tertentu bagi setiap orang tua dalam keluarga dan bagi pemimpin agama (rabi) di sinagoga.

    Selain itu, bangsa Yahudi sangat menghargai waktu. Waktu digunakan untuk beribadah dan belajar. Kedua hal ini seperti sebuah ritual keharusan. Belajar sama wajibnya dengan beribadah. Anak-anak Yahudi ditanamkan sejak kecil tiga kebiasaan mendasar yakni membaca, menulis, dan berdiskusi (berdebat). Ketiga kebiasaan ini menstimulasi ketajaman IQ. Mereka berusaha menguasai ilmu-ilmu murni, seperti arkeologi, bahasa, sastra, filsafat, astronomi, matematika, kimia, fisika, dan biologi. Mereka belajar secara tuntas, tidak setengah-setengah. Itulah model pendidikan cerdas orang Yahudi.

    Buah dari pendidikan cerdas orang Yahudi ini tampillah di panggung dunia orang-orang Yahudi yang unggul dan mencengangkan. Hampir semua lembaga berskala dunia yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai Yahudi. Sebagian besar penerima hadiah Nobel adalah keturunan Yahudi. Bertaburan orang Yahudi di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Majelis Umum PBB, Dewan Keamanan PBB, lembaga-lembaga PBB seperti FAO, Unesco, dan Dana Moneter Internasional (IMF). Orang-orang Yahudi memasukkan pula orang cerdasnya dalam Mahkamah Nuremberg, Bank Dunia, dan WTO. 

    Selanjutnya, perusahaan-perusahaan besar tingkat dunia dikelola Yahudi atau otaknya orang Yahudi, seperti Carrefour, Danone, Barrick Gold, Baskin Robbins, Dunkin Donuts, Google, Facebook, Levi Strauss, Microsoft, Mars and Spenser, Starbucks Corporation, Philiph Morris, CNN, Star TV, Timberland, dan masih puluhan bahkan ratusan perusahaan raksasa dunia lain. Dunia industri perfilman, media massa, baik media cetak, elektronik, dan media online, dikuasai orang-orang Yahudi.

    Orang Yahudi memiliki badan inteligen Mossard yang sangat ditakuti dunia. Lewat tangan Amerika Serikat bangsa Yahudi mengontrol kebijakan politik dunia. Negara Israel bahkan semakin berkembang pesat. Ini semua merupakan buah dari pendidikan cerdas orang Yahudi.*


Berita Terkait