Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Pendidikan Nilai Membentuk Karakter Siswa

    2015-04-18 21:24:50
    Images

    Pendidikan Nilai

    dalam  Pembentukan Karakter Siswa

     

    Oleh Gregorius We’u, S.Pd, M.Pd

    Dosen Mata Kuliah Landasan Kependidikan,

    Program Studi PBSI, Universitas Flores, Hp 082334876280

     

    Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang sangat pesat pada saat ini, terutama teknologi informasi dan komunikasi, memberikan efek (pengaruh) pada dunia pendidikan, yakni progress effect dan regress effect.

    Progress effect adalah suatu kemajuan yang membawa manusia untuk terus berkembang dalam perspektif positif. Hal ini, mengarah pada tindakan-tindakan konstruktif (membangun) yang menjadi tuntutan dalam kehidupan. Sedangkan regress effect adalah suatu kemunduran dalam suatu proses kemajuan. Hal ini terjadi karena dalam proses kemajuan muncul juga tindakan desktruktif (merusak) yang dilakukan sebagai akibat dari kemajuan itu sendiri.

    Dua efek ini berjalan bersama-sama dan saling menonjolkan kelebihan dan kekurangannya masing-masing dalam proses internalisasi nilai pendidikan. Bila progress effect lebih menonjol, atau sebaliknya, maka akan terjadi ketimpangan. Hal ini dapat dipahami karena proses penerapan nilai berjalan dalam kemungkinan praksis kebebasan individu dan positivisme dalam berpikir (rasionalisasi) yang dimiliki oleh setiap individu.

    Sebagai contoh, dalam kondisi real akhir-akhir ini, banyak tamatan sekolah (output) yang dihasilkan lebih menonjolkan kemampuan kognitif dan psikomotorik sehingga kelihatan handal dalam bidang intelektual (hard skill), namun  lemah dalam kemampuan afektif, seperti lemah membangun relasi dengan orang lain dan egoistis.  Kemajuan dan kecanggihan iptek telah memberi efek tertentu bahkan bisa saja bertolak belakang dengan gebrakan pendidikan nilai bagi generasi penerus bangsa.

    Semua persoalan ini dikembalikan ke lembaga pendidikan yang berperan sebagai pengasuh, pengasah, dan penghasil insan didikan yang potensial, baik secara intelektual maupun secara afeksi. Dalam upaya menyelaraskan pembangunan karakter  kepribadian yang bermutu, dunia pendidikan harus menekankan pentingnya pendidikan nilai sebagai roh pendidikan Indonesia.

    Adapun tujuannya untuk mencetak tamatan sekolah yang memiliki sejumlah karakter nilai, seperti beriman, berilmu, bersahaja, tanggung jawab jujur, bekerja sama, kerja keras, dan sebagainya. Sejumlah ahli pendidikan menyatakan bahwa pendidikan merupakan usaha manusia untuk membina kepribadian peserta didik agar sesuai dengan nilai-nilai dalam masyarakat dan kebudayaan.

    Pandangan di atas menekankan pentingnya pembentukan jatidiri peserta didik agar tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang sadar akan nilai-nilai, taat pada nilai-nilai, dan menjadi manusia berbudaya, yang dijelaskan berikut ini.

    Pertama, melalui pendidikan akan dilahirkan peserta didik yang “sadar akan nilai-nilai.” Nilai adalah sesuatu yang berharga atau yang bermutu. Relevansinya dengan dunia pendidikan adalah peserta didik seperti manusia pada umumnya, yakni memiliki akal budi (homo rationale) untuk dapat mengenal, memahami, menginterpretasi dan menghayati nilai-nilai tertentu. Nilai-nilai yang diajarkan kepada peserta didik merupakan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat yang meliputi: nilai kejujuran, kejuangan, rela berkorban, kasih sayang, kebaikan, kebenaran, keadilan, persaudaraan, keberimanan, kesetiaan, pengetahuan, kesantunan, kebersihan, toleransi, respektif terhadap sesama, tanggung jawab, dan lain-lain.

    Kedua, melalui pendidikan akan dilahirkan peserta didik yang “taat pada nilai-nilai.” Nilai-nilai yang dipelajari dalam proses pendidikan memiliki satu tujuan, yakni agar peserta didik tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang taat pada nilai-nilai yang ada dalam masyakarakat. Dengan kata lain, pendidikan nilai menolong peserta didik untuk berpikir dan bertindak sesuai dengan nilai yang telah ditanamkan sehingga dapat menghilangkan penyimpangan (destruktif) yang dimungkinkan terjadi dalam diri peserta didik. Peran stake holders sangat dibutuhkan dalam upaya membangun relasi kooperatif bagi pelaksanaan pendidikan dan pembinaan bagi peserta didik.

    Ketiga, melalui pendidikan akan dilahirkan peserta didik sebagai “pribadi berbudaya” (homo humanus). Hakekat manusia adalah sebagai makhluk individu dan makhluk sosial yang diciptakan Tuhan dan serupa dengan Allah (imago dei). Oleh karena itu, peran pendidikan membantu peserta didik untuk mengenal dan menerima diri dan orang lain dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki setiap orang.

    Peran pendidikan nilai dalam membentuk karakter siswa harus disadari betul-betul sebagai sebuah wadah kuat dan tangguh untuk membendung efek kemajuan iptek,  terutama regress effect yang dengan mudah mengabaikan kekuatan nilai-nilai positif dalam hidup, baik dalam hidup pribadi maupun hidup dalam masyarakat yang pluralistik seperti Indonesia sekarang ini.  

    Sebagai generasi penerus, para siswa harus dipersiapkan sejak dini untuk menerima perubahan apa saja sebagai akibat kemajuan iptek. Kesiapan generasi penerus  ini dimulai melalui proses pendidikan yang didalamnya ditawarkan nilai-nilai positif untuk membangun diri, mental, kepribadian yang siap secara intelektual, yang tak mudah dipengaruhi, serta memiliki ketrampilan memanfaatkan perkembangan iptek untuk kemajuan bersama menuju bangsa yang maju dan berbudaya tinggi.

    Perkembangan iptek dan pengaruh globalisasi sekuat apapun apabila roh (nilai) pendidikan dengan gema pendidikan nilai dalam membentuk karakter anak bangsa kuat dan tangguh, maka generasi penerus yang dilahirkan adalah generasi bermutu, yang siap memanfaatkan kemajuan iptek sesuai dengan tuntutan zaman menuju masyarakat sejahtera, adil, makmur, dan saling menghargai.

    (Suara Uniflor, Flores Pos, Sabtu, 14 Februari 2015).

Berita Terkait