Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Pengalaman Mengajar di Australia

    2015-04-14 16:43:44
    Images

    Pengalaman Mengajar di Australia

      

    Oleh Drs. Ferdinandus Levi

    Dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD),

    FKIP, Universitas Flores, Hp 085239009088

     

    Saya merasa bersyukur terpilih sebagai peserta program pertukaran guru Indonesia-Australia selama satu tahun, 2000-2001, pada waktu saya masih guru di SMAK Syuradikara, Ende. Selama setahun di Australia saya menemukan banyak hal menarik di bidang pendidikan yang berbeda jauh dengan kita di Indoesia. Di Darwin Australia, pendidikan dimulai di Primary School (setingkat SD) berlangsung selama 7 tahun, dilanjutkan pendidikan High School (setingkat SMA) selama 5 tahun. Jadi, kelas 1 sampai kelas 12.  

    Pada suatu hari, saya menanyai seorang siswa kelas 5, “Anda mau jadi apa nanti?” Jawabannya, “Berdasarkan bakat dan kemampuan saya, saya mau kerja di bengkel motor. Ini cita-cita saya.”  Pada hari lain, saya tanyai seorang anak kelas 10, “Anda mau jadi apa di kemudian hari?” Dengan mantap dia menjawab, “Saya mau jadi karyawan di hotel. Ini pilihan saya berdasarkan minat dan bakat saya.”

    Ketika saya mengajar di High School menanyakan hal yang sama kepada seorang siswi,  “Anda rencana mau jadi apa?” Jawabnya, “Mulanya saya ingin jadi dokter. Tetapi, dari bakat dan kemampuan saya, lebih-lebih di bidang eksakta, saya akhirnya putuskan untuk bekerja di taman kota, studinya juga gampang-gampang saja.”  

    Saya lalu bertanya, “Bagaimana pendapat orang tuamu, apa mereka setuju?” Dia tertawa kecil dan langsung mengatakan, “What for?” Artinya, untuk apa tanya orang tua? Katanya, “Yang belajar saya, bukan orang tua. Saya yang menentukan masa depan saya.” Tentu saja saya kaget dengan jawaban ini. Saya bertanya dalam diri, mengapa mereka semua menjawab dalam nada yang sama, yakni berdasarkan bakat dan kemampuan mereka?

    Kemudian, saya mencermati sistem pendidikannya. Di Darwin Australia, anak dari kelas 1 Primary School sampai kelas 12 High School, setiap tahun naik kelas otomatis. Tidak ada yang tahan kelas atau ulang kelas. Para guru amat tertib mengajar, membuat ulangan. Bila ada guru yang sakit, kepala sekolah menelepon kelompok guru berdasarkan bidang studi untuk menggantikan posisi guru yang berhalangan itu, sehingga kelas tak pernah ketiadaan guru. Di akhir tahun selalu dibuat ujian yang tertib dan rapi sekali, hasilnya dipaparkan kepada masing-masing anak secara sangat objektif sehingga anak bisa melihat dan menilai kemampuan dirinya sendiri secara real.

     Di sinilah letak perbedaan dengan pendidikan kita yang sering sekali memberikan nilai tambahan yang semu, sehingga nilai yang diperoleh anak tidak murni. Anak jadinya tidak mendapatkan gambaran yang benar tentang dirinya. Di Australia, guru selalu menekankan kemampuan real pada anak didik. Bila sudah berusaha berulang-ulang, namun hasilnya pas-pasan saja,  alihkan ke bidang studi lain yang punyai bakat dan kemampuan, sehingga waktu dan tenaga terpakai secara efisien dan efektif. Dengan ini, anak-anak benar-benar mencurahkan perhatian ke bidang studi yang diingininya. Dengan begini dia akan semakin menemukan dirinya.     

    Jelaslah selama 12 tahun itu anak-anak benar-benar memacu dirinya sendiri dan guru berperan sebagai motivator dan pendukung berdasarkan kemampuan anak. Selanjutnya, di akhir tahun kelas 12, mereka menempuh dua macam ujian, yakni ujian sekolah dan ujian negara. Pada saat inilah mereka mendapat ijazah pertama. Kita di Indonesia, ijazah pertama adalah ijazah SD.

    Mereka yang merasa kemampuannya terbatas akan memilih ujian sekolah karena ujiannya jauh lebih ringan yang membuat mereka bisa lulus. Mereka yang berbakat dan mempunyai kemampuan tinggi akan memilih ujian negara. Kedua macam ujian ini berbeda besar. Ijazah ujian sekolah memperkenankan mereka untuk melanjutkan ke perguruan tinggi pada bidang-bidang yang ringan, seperti akademi perhotelan, pelayanan bisnis dan perbengkelan. Mereka yang berijazah ujian negara berhak memilih perguruan tinggi besar dan program studi yang berat-berat.

    Dengan demikian, anak-anak sejak kecil sudah tahu, masa depannya akan seperti apa. Hampir semua anak lulus dalam masing-masing ujian itu karena mereka benar-benar menyadari kemampuannya tanpa didorong oleh pihak manapun, termasuk orang tua. Kemandirian ini dipermudah lagi oleh sistem pemerintahan di Australia, di mana lembaga pendidikan negeri tidak  memungut biaya, kalaupun ada sedikit sekali. Lembaga pendidikan swasta pun tidak mahal, sebab pemerintah telah mengaturnya lewat sistem perpajakan yang sangat tertib bagi warga negara. Memang di Australia pajak terbilang tinggi, tanpa terkecuali. Tetapi dengan itu, tidak ada pungutan biaya pendidikan di lembaga pendidikan dan pelayanan rumah sakit pemerintah.

    Dengan pengalaman mengajar di Australia ini, mungkin kita para guru dapat merefleksi. Apa gunanya kita memberi nilai tambah kepada anak hanya untuk lulus, tetapi nilai itu tidak memberikan gambaran yang benar tentang kemampuan dan bakat anak yang sesungguhnya? Dengan penilaian yang salah membuat anak salah menilai dirinya, yang akhirnya salah pula menentukan masa depannya. (Flores Pos, Sabtu, 8 Februari 2014).     

     

     

     

     

     

     

Berita Terkait