Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Pengawal Inspirasi Pancasila

    2015-04-18 09:08:10
    Images

    Pengawal Inspirasi Pancasila

    (Mengenang Inggit Garnasih)

            

    Oleh Fatma Wati Indriani, S.Pd

    Dosen  Program Studi Pendidikan Sejarah,

    FKIP, Universitas Flores, Email :fatmawatiindriani@yahoo.co.id

     

    Dalam realitas keseharian, perempuan dapat menjadi pengubah perjalanan cinta, dan kekuatan cinta dapat mengubah perjalanan sejarah. Demikian credo yang selalu ingin dikumandangkan oleh sejarahwan Indonesia, Anhar Gonggong. Simaklah dalam sejarah, betapa indah kasih sayang Rasulullah SAW kepada Siti Khadijah, cinta Bung Tomo kepada Sulistina, Bung Hatta kepada Rahmi, Soeharto kepada Siti Hartinah. Sebaliknya, melemahnya kuasa Julius Caesar karena kemolekan tubuh Cleopatra, hancurnya kekuasaan Louis XVI karena Sang Marie Antoinette yang begitu gila harta.

    Mengikuti alur perjalanan waktu, salah satu perempuan yang telah menorehkan sejarah bagi bangsa Indonesia di masanya, tetapi namanya lekang oleh waktu, adalah Inggit Garnasih. Inggit sejatinya adalah perempuan yang turut membaktikan pikiran dan hatinya untuk mengharumkan nama Indonesia. Posisinya sebagai istri kedua Sukarno setelah Oetari, menjadi sumber inspirasi segar bagi perjuangan dalam kancah politik.

    Inggit terlahir dari keluarga sederhana dan tidak mengenyam pendidikan tinggi, bahkan sejak remaja telah terbiasa bekerja mencari uang sendiri, dengan menjahit baju (perempuan dan anak-anak), kutang, membuat rokok kawung, meramu jamu dan membuat bedak. Setelah bercerai dengan suami pertama dan keduanya, Inggit kemudian menikah Sukarno yang saat itu masih mahasiswa Technische Hooge School (THS).

    Sejak menikah dengan Soekarno, hari-hari Inggit dipenuhi dengan nuansa politik. Di rumah, di lingkungan keluarga dia selalu mendengarkan jagoannya berbicara tentang politik, revolusi, dan kemerdekaan. Inggit tidak pernah merasa jenuh dan marah atas aktivitas politik suaminya. Sukarno diposisikan sebagai suami, guru, mitra perjuangan dan sekaligus kekasih. Inggit mengabdikan dirinya tanpa pretensi apapun.

    Refleksi Anis Matta menegaskan bahwa perempuan mampu menjadi daya psikohistoris bagi pejuang. Pernyataan ini secara kontekstual bisa kita lihat dalam perjalanan panjang para pemimpin bangsa yang tidak bisa lepas dari cinta dan dukungan perempuan sebagai sumber energi perjuangan. “Di balik setiap pahlawan besar selalu ada seorang perempuan yang agung.”

    Pepatah ini menjadi hikmah psiko-sejarah yang menjelaskan sebagian latar belakang kebesaran seorang pahlawan lahir ketika seluruh energi di dalam dirinya mampu bersinergi dengan momentum di luar dirinya, tumpah ruah bagai banjir besar yang tak terbendung. Kekuatan besar yang dimiliki oleh para perempuan yang mendampingi para pahlawan adalah kelembutan, kesetiaan, cinta dan kasih sayang, bukan hanya gelar dan predikat pendidikan yang tinggi. Kekuatan itu sering dilukiskan seperti dermaga tempat menambatkan kappa.

    Pertengahan Februari 1934 Inggit beserta putri angkatnya Ratna Juami dan ibu tercinta, Amsi, mendampingi Soekarno tiba di Kota Ende, Flores. Status sebagai tahanan politik (tapol) Belanda membuat Inggit dan keluarganya pada awalnya disegani dan dijauhi oleh masyarakat Ende. Namun Inggit dengan cerdik mengakrabkan diri dan berbaur dengan masyarakat di sekitar lingkungan tempat tinggalnya. Dia merintis usaha berjualan pakaian perempuan dan bersama keluarga kecilnya Inggit mengembangkan kegiatan bercocok tanam, menanam berbagai macam jenis sayuran di pekarangan rumahnya.

    Walaupun jauh dari Jawa sebagai pusat pergerakan kemerdekaan Indonesia waktu itu, Soekarno tetap menghidupi semangat perjuangannya lewat sandiwara-sandiwara yang dinamakan Tonil Klub Kelimutu. Mulai dari menulis naskah sampai melukis latar belakang panggung dan melatih sendiri para pemain yang merupakan sahabat-sahabat dekatnya di Ende. Inggit juga terlibat aktif, menjahit layar panggung dan pakaian para pelakon sampai mempersiapkan konsumsi bagi para anggota klub.

    Kondisi sosial-politik Soekarno sebagai seorang pembuangan dengan tunjangan 125 gulden sebulan setelah dikurang pajak itu membuat Inggit harus pandai mencari akal untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sebagai seorang perempuan pekerja, Inggit selalu ringan tangan terutama untuk memenuhi kebutuhan suaminya, yakni membeli buku-buku mahal dari Belanda dan kebiasaan melukis yang dilakukan Sukarno di Ende, termasuk menggunakan uang simpanan hasil menjual rumah ibunya dan perhiasannya sebelum datang ke Ende.

    Pengasingan di Ende yang sepi dan jauh dari hingar-bingar perpolitikan membuat Sukarno menjalani sebuah proses olah mental-spritual yang amat menentukan bagi perjuangan selanjutnya. Di Ende Sukarno menemukan kesempatan untuk mematangkan gagasannya tentang dasar perjuangan yang dikemudian hari memperoleh bentuk akhirnya sebagai Pancasila. Di sinilah peran dan pendampingan Inggit dalam mendukung Sukarno secara emosional. Perempuan Sunda nan jelita itu memapah kegetiran hidup Sukarno dalam panggung politik. Bersama Inggit, Sukarno berjuang mendaki gunung cita-cita.

    Arah perjalanan hidup tak dapat diduga oleh siapapun. Tahun 1943 Inggit dan Sukarno resmi bercerai karena tidak punyai keturunan, dan Inggit menolak untuk dimadu. Sukarno kemudian menikahi Fatmawati. Semua yang diberikan Inggit telah kandas termakan oleh egoisme prinsip hidup tanpa kompromi.

    Inggit meninggal dunia pada 1984, setelah Sukarno mendahuluinya berpulang lebih dahulu pada 1970. Pada masa pemerintahan Sukarno Inggit menerima penganugrahan tanda kehormatan “Satyalancana Perintis Pergerakan Kemerdekaan” dan pada masa Pemerintahan Soeharto Inggit dianugerahi tanda kehormatan “Bintang Mahaputra Utama.” Usai sudah romantisme kisah cinta dua anak manusia, namun cinta Inggit kepada Sukarno tetap abadi meski raga tak lagi dapat bertatap.

    (Flores Pos, Sabtu, 27 September 2014).

     

Berita Terkait