Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Pentingnya Kecerdasan Emosional

    2015-04-16 16:16:34
    Images

    Pentingnya Kecerdasan Emosional

     

    Oleh Drs. Alberth Nikolaus Sino, SM

    Dosen Program Studi PGSD Universitas Flores, Ende, Hp 081339046997

     

    Istilah “kecerdasan emosional” (emotional quotient) pertama kali dikemukakan oleh psikolog Peter Salovey (Harvard University) dan John Meyer (University of New Hampshire) Amerika Serikat pada tahun 1990. Kedua ahli ini menyatakan bahwa 80% keberhasilan seseorang dalam hidupnya ditentukan oleh kecerdasan emosional (emotional quotient atau EQ), hanya 20% oleh kecerdasan intelektual (intelligence quotient atau IQ).

    Dahulu orang menempatkan kecerdasan intelektual (IQ) sebagai satu-satunya predikator (ramalan) untuk menentukan keberhasilan seseorang dalam hidupnya, namun belakangan ini mulai bergeser oleh kecerdasan lain, dan yang menonjol adalah kecerdasan emosional (EQ). Karena itu, kecerdasan emosional perlu dipelajari dan dipahami secara baik oleh para pendidik karena merupakan bagian penting dari proses pembelajaran.

    Menurut para ahli, konsep lama tentang kecerdasan intelektual (IQ) hanya berkisar pada kecakapan linguistik dan matematika, sedangkan kecerdasan emosional (EQ) memiliki peran yang jauh lebih signifikan dibandingkan dengan kecerdasan intelektual. Kecerdasan intelektual barulah sebatas syarat minimal meraih keberhasilan. Kecerdasan emosionallah yang sesungguhnya, bahkan hampir seluruhnya, terbukti menghantarkan seseorang menuju puncak kesuksesan (prestasi) dalam masyarakat. Terbukti pula bahwa banyak orang yang memiliki kecerdasan intelektual, namun gagal meraih kesuksesan justru karena kecerdasan emosionalnya rendah.

    Orang yang hanya mengandalkan prestasi akademik yang tinggi, predikat juara, ternyata tidak cukup mampu memberikan bekal untuk merespons atau mengatasi berbagai tantangan, kesulitan, dan dinamika kehidupan sosial yang sangat dinamis dan kompleks. Dalam kenyataan, banyak orang yang memiliki kemampuan akademik atau kecerdasan intelektual tinggi (IQ tinggi), sementara yang memiliki kecerdasan emosional tinggi (EQ) sedikit. Orang yang memiliki kecerdasan emosional biasanya mampu menghayati dan mengamalkan keterampilan emosional atau bentuk-bentuk kualitas emosional dalam berbagai perilaku hidup sehari-hari, memiliki empati terhadap siapa saja tanpa membeda-bedakan. Dia akan mengungkapkan dan memahami terhadap sesamanya serta berusaha mengendalikan amarah jikalau menghadapi tantangan hidup.          

    Orang yang memiliki EQ memiliki kemandirian hidup yang mapan dan memiliki kemampuan menyesuaikan diri dengan siapapun sehingga disukai banyak orang. Jika menghadapi perselisihan, orang yang memiliki EQ tinggi mampu memecahkan masalahnya dengan orang lain. Dia menunjukkan ketekunan, kesetiakawanan sosial, penuh keramahan, sikap hormat, dan akan berusaha menyelesaikan permasalahan atau perselisihan ke dalam rasa persaudaraan.

    Menyangkut kecerdasan emosional (EQ) yang dibuktikan sengan keberhasilan hidup dalam masyarakat, saya dapat memberikan contoh sebagai pembuktian, sebagai berikut.

    Pertama, ada seorang mahasiswa program diploma 3 dari salah satu perguruan tinggi (PT) di kota Ende. Selama perkuliahan mahasiswa ini nilainya rendah (IQ rendah), semua dosen meragukannya, meski akhirnya dia bisa tamat dengan nilai yang rendah (IPK rendah). Setelah tamat  mahasiswa tersebut lulus tes masuk Gerbades (Gerakan Membangun Desa tingkat Provinsi NTT), yang ternyata berprestasi luar biasa dengan memberikan motivasi dan contoh-contoh praktis dalam membangun desa. Dalam evaluasi akhir, kinerjanya ternyata mahasiswa tersebut meraih juara I tingkat Propinsi NTT.

    Kedua, ada seorang mahasiswa dari PT yang sama di Kota Ende, selama kuliah prestasinya biasa-biasa saja. Selama beberapa tahun berkarya di masyarakat ternyata dia  menjadi seorang pengusaha sukses di bidang pariwisata, memiliki penginapan, travel, dan perbengkelan. Karena keberhasilannya itu dia ditawari menjadi PNS, diangkat di Dinas Pariwisata sebuah kabupaten di Flores.

    Ketiga, ada seorang Doktor asal NTT yang terkenal karena pintar (IQ tinggi), tatkala dipercayakan menjadi kepala salah satu kantor wilayah di NTT, tidak mampu mengatasi masalah perkantoran yang rumit dan kompleks, yang akhirnya mengundurkan diri. Doktor ini digantikan oleh seseorang yang berijazah sarjana muda, dinilai berhasil karena mampu merangkul bawahannya, rendah hati, yang merupakan cirri khas kecerdasan emosional (EQ).

    Berdasarkan contoh-contoh di atas, dan tentu masih banyak contoh yang lain, menunjukkan bahwa prestasi di bidang akademik (diukur dari IQ bahkan sampai mendapat gelar doktor) bukanlah jaminan kesuksesan dalam berkarier. Sebaliknya, orang yang berprestasi rendah di bidang akademik namun kecerdasan emosionalnya tinggi dapat meraih kesuksesan gemilang  di tengah masyarakat.

    Kenyataan ini perlu disadari oleh semua pendidikan mulai dari tingkat rendah (TK) sampai perguruan tinggi (PT) dalam memberikan penilaian akhir kepada seorang anak didik. Kompetensi pedagogis (ilmu mendidik) perlu mendapat perhatian serius, selain kompetensi profesional, sosial,  dan kepribadian. Di sini terletak sikap profesional seorang guru yang dituntut harus mengenal karakteristik setiap peserta didik secara baik, memahami watak dan perilaku peserta didik, dan berusaha menjaga keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional.

    Memang yang menjadi kecenderungan sekarang, setiap pendidik, misalnya seorang dosen mendorong mahasiswa agar meraih IPK minimal 3,0, namun apakah mahasiswa tersebut memiliki kecerdasan emosional yang memadai? Para pendidik memiliki tanggung jawab lebih, yakni mendidik, melatih, membimbing peserta didik agar memiliki kecerdasan emosional untuk mengimbangi kecerdasan intelektual. (Flores Pos, Sabtu, 17 Mei 2014 ).   

     

Berita Terkait