Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Peraturan Gempa dan Risiko Bangunan

    2015-04-14 17:12:54
    Images

    Peraturan Gempa dan Risiko Bangunan

     

    Oleh Yohanes Laka Suku, S.T, M.T

    Dosen Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik,

    dan Kepala Lembaga Penjaminan Mutu Universitas Flores, Hp 08123796856

     

    Opini ini ditulis untuk memberi pencerahan mengenai dampak peraturan gempa yang baru, “Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Gedung dan Non-Gedung,” yakni SNI 1726: 2012 menggantikan peraturan lama SNI 1726 03-1726-2002. Peraturan baru ini dibuat untuk mencegah keruntuhan bangunan gedung akibat gempa yang dahsyat.

    Mengapa ada bangunan gedung yang ambruk akibat gempa? Jawabannya, karena “tidak terpenuhinya standar minimal” sesuai dengan yang diatur dalam peraturan gempa sebagaimana disebutkan di atas, seperti: sistem struktur gedung, detailing, kualitas material, dan tidak konsisten antara desain dan pelaksanaan.

    Pada umumnya jika ada peraturan gempa yang baru, perhatian utama dari para akademisi dan praktisi industri konstruksi bangunan adalah: seberapa banyak perubahan pada persyaratannya dan seberapa besar terjadi peningkatan level beban gempa rencananya. Mengetahui beban gempa rencana, secara pasti sangat penting dalam mendesain struktur sebuah gedung agar mempunyai ketahanan baik terhadap gempa. Oleh karena itu, muncul pertanyaan, apakah ada perbedaan beban gempa rencana dari kedua peraturan yang disebutkan di atas?

    Sudah pasti ada perbedaan konsep antara kedua peraturan tersebut. Secara garis besar,  perbedaan antara peraturan yang baru dan yang lama adalah dari konsep yang mendasari dikembangkannya kedua peraturan tersebut. Adapun perbedaan konsep yang mendasari kedua peraturan tersebut sebagai berikut.

    Pertama, konsep tujuan. Kedua peraturan tersebut mempunyai konsep tujuan yang agak berbeda. Konsep yang dikembangkan SNI 1726: 2012 bertujuan agar pada saat terjadi gempa bangunan dapat melindungi para penghuni dan memastikan kerusakan yang terjadi berada pada batas yang masih dapat diperbaiki kembali. Konsep yang dikembangkan SNI 03-1726-2002 bertujuan untuk menjamin agar ketika terjadi gempa struktur bangunan gedung walau mencapai kondisi ambang keruntuhan, tetapi masih dapat berdiri sehingga dapat mencegah jatuhnya korban jiwa.

    Kedua, konsep penentuan, percepatan batuan dasar dan respon spektrum gempa rencana. Peraturan gempa yang baru, yakni SNI 1726: 2012 disusun berdasarkan periode ulang gempa 2500 tahun (probabilitas terlampaui 2% dalam 50 tahun), sedangkan SNI 03-1726-2002 dengan periode ulang gempa 500 tahun (probabilitas terlampaui 10% dalam 50 tahun).

    Kita mengetahui bahwa gempa bumi terjadi karena adanya energi yang dilepaskan dan merambat ke segala arah secara acak melalui batuan-batuan bumi dalam bentuk gelombang-gelombang sehingga mengakibatkan pergerakan tanah yang menyebabkan bangunan gedung ikut merespons pergerakan tersebut. Respons bangunan gedung tersebut dalam istilah teknik sipil disebut respons spektrum. Respons spektrum menunjukkan respons maksimum suatu struktur bangunan terhadap getaran gempa.

    Besar-kecilnya beban gempa atau beban geser dasar (V) yang diterima oleh gedung bergantung pada hasil perkalian koefisien respons spektrum (Cs) dan berat bangunan (Wt). Akibat perbedaan kedua konsep di atas akan menyebabkan terjadinya perbedaan besarnya beban geser dasar nominal akibat gempa dari kedua peraturan tersebut.

    Penelitian tentang perbandingan gaya gempa dari kedua peraturan tersebut sudah banyak dilakukan, antara lain oleh Faizah dan Widodo (2013). Mereka melakukan penelitian tentang analisis gaya gempa rencana pada model struktur 2 dimensi, dan model struktur ditinjau pada 23 kota besar di Indonesia. Analisis dilakukan dengan menggunakan metode dinamik respon spektral.

    Mereka menyimpulkan bahwa gaya gempa rencana tahun 2012 (SNI 1726: 2012) tidak selalu lebih tinggi daripada gaya gempa rencana tahun 2002 (SNI 03-1726-2002), tetapi bergantung pada percepatan respons spektral dari lokasi bangunan tersebut. Untuk wilayah Flores, dari peta gempa terbaca bahwa secara umum besarnya nilai percepatan respons spektral yang diatur pada kedua peraturan tersebut berbeda. Dengan demikian, besarnya nilai gaya gempa juga akan berbeda.

    Penelitian tentang perbandingan besarnya nilai gaya gempa dari kedua peraturan tersebut, juga telah dilakukan oleh seorang mahasiswa Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Flores yang kami bimbing, yakni Damianus Melky (2014). Penelitian dilakukan dengan memodelkan struktur gedung 3 dimensi. Dari hasil penelitiannya terhadap beberapa model struktur, Melky antara lain menyimpulkan bahwa gaya gempa rencana untuk bangunan gedung di Kota Ende berdasarkan SNI 1726: 2012 “selalu lebih tinggi nilainya” dibandingkan dengan gaya gempa rencana berdasarkan SNI 03-1726-2002.

    Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan Melky, akan muncul pertanyaan, apakah gedung yang sudah terbangun di Kota Ende yang dirancang berdasarkan peraturan sebelumnya, yakni SNI 03-1726-2002 masih aman dan memenuhi persyaratan SNI 1726: 2012? Untuk menjawab pertanyaan ini, maka perlu dilakukan penelitian yang lebih saksama terhadap gedung-gedung yang sudah dibangun, seperti cakupan semua jenis tanah, variasi model struktur, implikasi respon struktur, dan lain-lain. Apabila diketahui ada bangunan tidak mampu menahan gaya gempa rencana sesuai SNI 1726-2012, maka perlu dilakukan perkuatan struktur agar memenuhi persyaratan SNI 1726-2012. (Flores Pos, Sabtu, 8 Maret 2014).    

Berita Terkait