Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Perencanaan Desa sebagai Basis Perubahan

    2015-04-14 16:59:58
    Images

       Perencanaan Desa sebagai Basis Perubahan

     

    Oleh Dian Mochdar, S.T, M.T.

    Dosen dan Ketua Program Studi Arsitektur,

    Fakultas Teknik, Universitas Flores, HP 081334898800

     

    Artikel opini ini terinspirasi pada waktu saya bersama para dosen dan karyawan Uniflor (Dokar Uniflor) mengikuti kegiatan penghijauan pada Sabtu, 8 Februari 2014 lalu di Desa Mukureku, Kecamatan Lepembusu Kelisoke, Kabupaten Ende.  

    Memang tidak mudah mencapai Desa Mukureku. Bis kayu yang kami tumpangi berjalan perlahan karena jalan tanjakan, berlubang, dan berlumpur karena sedang musim hujan. Kesulitan dalam perjalanan itu terbayar pada waktu kami melihat pemandangan hijau dan topografi bentangan alam berbukit-bukit. Jenis tanah desa berwarna coklat dengan aneka jenis tanaman pertanian, perkebunan, dan kehutanan. Alam desa yang dingin nan sejuk mengingatkan saya ketika berada di daerah Pujon, Kabupaten Batu, JawaTimur dan daerah puncak Bogor, Jawa Barat yang menjadi tempat wisata unggulan.

    Desa Mukureku adalah salah satu desa potensial. Potensi dan masalah di desa ini saya ketahui dalam acara tatap muka dan diskusi antara rombongan Dokar Uniflor, pemerintah dan masyarakat desa Mukureku berlangsung setelah kegiatan penghijauan. Salah satu topik yang menarik pada waktu itu adalah manajemen perencanaan desa yang ditanyakan Kepala Desa Mukureku, Benediktus Dewa yang ditujukan kepada para dosen Fakultas Teknik Uniflor.

    Permasalahan ekonomi masyarakat Desa Mukureku yang sebagian besar petani rupanya tidak jauh berbeda dengan permasalahan desa-desa lainnya di Flores pada umumnya. Pertanyaan yang diajukan, bagaimanakah mengolah lahan yang subur agar dapat menghasilkan tanaman pertanian dan perkebunan yang melimpah? Bagaimana menyediakan sarana dan prasarana pertanian dari hulu hingga hilir? Bagaimana menyediakan prasarana jalan yang memadai untuk mendistribusikan hasil usaha para petani?  

    Menurut saya, permasalahan tersebut dapat dicari solusinya melalui “perencanaan desa” yang mengacu pada konsep ruang dengan memperhatikan karakteristik wilayah desa yang meliputi: perbandingan luas tanah dengan jumah penduduk, lapangan kerja agraris, hubungan penduduk yang akrab, dan sifat-sifat tradisional. Upaya mengatasi permasalahan pedesaan, seperti pembangunan desa yang tidak berencana, kekurangan fasilitas, kekurangan biaya pembangunan, kesadaran masyarakat yang rendah, dan kekurangan tenaga ahli. Dalam hal ini dibutuhkan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat untuk mengoptimalkan potensi yang tersedia agar bisa memenuhi kebutuhan dasar masyarakat desa, yang meliputi ketersediaan sandang, pangan, dan papan, mendapatkan pelayanan listrik dan air, fasilitas sanitasi, fasilitas kesehatan, dan lain-lain.   

    Perencanaan desa merupakan suatu kegiatan yang sangat penting guna mewujudkan kesejahteraan penduduk desa. Prinsip perencanaan desa adalah usaha memajukan penduduk di dalam kehidupan sosial ekonominya. Pertanian sebagai basis ekonomi masyarakat desa perlu dikelola dengan pendekatan nonspasial dan spasial. Pendekatan nonspasial (ekonomi) adalah pengembangan kegiatan pertanian yang menghasilkan komoditi unggulan dalam suatu desa atau wilayah. Sedangkan pendekatans spasial menghasilkan persebaran dan pemanfaatan lahan pertanian sesuai dengan kapasitas, kesesuaian lahan, pola pemukiman penduduk dan persebaran sarana prasarana wilayah pedesaan.

    Perencanaan Desa Mukureku dapat diawali dengan mengidentifikasi potensi dan karakteristik wilayah desa yang meliputi kondisi fisik dasar desa, topografi dan kemiringan lahan, fisik binaan, penggunaan lahan, kependudukan, kebijakan pemerintah, dan aktivitas  ekonomi masyarakat. Hasil identifikasi ini menjadi dasar untuk analisis selanjutnya. Pendekatan metode nonspasial yang dilakukan untuk mengetahui kegiatan ekonomi basis dan nonbasis. Output dari pendekatan ini adalah menentukan komodi unggulan di Desa Mukureku. Sedangkan pendekatan spasial untuk menilai potensi sumber daya lahan berdasarkan pengembangan komoditas unggulan tertentu yang dapat diketahui dengan analisis kemampuan lahan, kesesuaian lahan, dan ketersediaan lahan untuk pengembangan komoditi.

    Rencana partisipasi masyarakat dan kelembagaan desa akan menunjukkan besarnya manfaat, pengaruh dan dekatnya hubungan suatu lembaga dengan masyarakat desa, serta mengetahui para pelaku beserta kepentingannya terhadap sebuah rencana tata ruang, program dan proyek pembangunan. Penentuan prioritas dan penilaian relatif terhadap prioritas setiap kegiatan berdasarkan tujuan dan kriteria tertentu, diperoleh dari para stakeholder serta ahli yang kompeten dalam bidang perencanaan dan pengembagan desa.

    Konsep pengembagan Desa Mukureku yang dapat diterapkan adalah konsep pengembangan keruangan yang meliputi penetapan sentra produksi, sentra pemasaran, dan  konsep pengembangan sumber daya manusia. Skenario pengembangan meliputi penyusunan struktur pelayanan kegiatan dan pengembangan komoditi tertentu yang dilanjutkan dengan arahan dan rencana pengembangan desa. Strategi penetapan desa berbasis komoditi merupakan embrio perencanaan dan pengembangan sentra produksi komoditi unggulan tertentu, yang dalam jangka panjang akan membentuk wilayah pedesaan dengan tingkat kekotaan, namun tetap berbasis pertanian.

    Sebuah desa dapat mengembangkan sebuah produk unggulan yang secara kualitas dan kuantitas terpenuhi sesuai dengan kebutuhan pasar. Model ini dikenal dengan istilah one village one product yang mempermudah setiap rumah tangga desa mengolah komoditi pertanian menjadi komoditi yang memilik nilai tambah secara ekonomis sehingga dapat meningkatkan pendapatan, mempercepat pengentasan kemiskinan, dan mengurangi kesenjangan pembangunan antara desa dan antara wilayah. (Flores Pos, Sabtu, 22 Februari 2014).     

     

Berita Terkait