Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Perguruan Tinggi Swasta Harus Sehat

    2015-10-01 11:19:18
    Images

    Perguruan Tinggi Swasta Harus Sehat

     

              Koordinator Kopertis Wilayah VIII (Bali, NTB, dan NTT), Prof. Dr. Drs. I Nengah Dasi Astawa, M.Si, menegaskan, Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dalam wilayah Kopertis Wilayah VIII harus sehat. “PTS harus sehat. Yang tidak sehat akan ditinggalkan para mahasiswa dan akan dibubarkan pemerintah. Yang rugi tidak hanya PTS yang bersangkutan, tetapi juga mahasiswa dan masyarakat pada umumnya. Kalau buka PTS harus serius.”

                Demikian penegasan I Nengah Dasi Astawa di hadapan 50-an peserta Rapat Koordinasi PTS se-Kota Ende yang berlangsung di Aula Rektorat, Lantai 2, Kampus III Uniflor, Jumat (27/3/2015). Rapat koordinasi berlangsung pukul 13.30-15.30. Beliau didampingi Rektor Uniflor Prof. Dr. Stephanus Djawanai, MA, dan Wakil Rektor I Uniflor Dr. Natsir B. Koten, M.Pd. Dasi Astawa berbicara banyak tentang PTS yang sehat.

                Syarat pertama PTS sehat adalah hubungan baik dan harmonis antara PTS dan badan penyelenggara, dalam hal ini yayasan yang mendirikan PTS tersebut. Kedua belah pihak harus sinergis dalam menjalankan tugas dan fungsi masing-masing.

                Setiap PTS harus memiliki dan mengelola PDPT (pangkalan data perguruan tinggi) dan SPMI (sistem penjaminan mutu internal) yang bagus dan dapat dipertanggungjawabkan. “Bagian yang mengelola bidang-bidang itu harus serius. Kasih orang-orang yang bisa kerja keras, tulus bekerja untuk orang lain, dan menguasai teknologi,” saran Dasi Astawa yang sebelum diangkat menjadi Koordinator Kopertis Wilayah VIII adalah dosen pada PTS.

                Beliau menegaskan, setiap PTS dalam Wilayah VIII, termasuk PTS yang ada di Flores, harus memastikan bahwa setiap dosen tetap harus memiliki NIDN (nomor induk dosen nasional) dan untuk dosen tidak tetap memiliki NUPN (nomor urut pengajar nasional). “Semua nomor induk dosen tetap didata terpusat di Dikti. Dosen tetap sebuah PTS tidak bisa  dicatut namanya oleh PTS yang lain. Ini aturan undang-undang,” kata Dasi Astawa.

                Koordinator Kopertis Wilayah VIII ini juga menyinggung syarat mendirikan program studi baru. Dijelaskan, setiap program studi baru harus memiliki minimal 6 dosen tetap bergelar S-2 (magister) dalam bidang serumpun. Badan penyelenggara harus menyiapkan dana jaminan/cadangan yang tidak kecil. Beliau mengambil contoh. Misalnya, Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif) berencana membuka 6 program studi baru di Uniflor, maka Yapertif harus menyiapkan minimal 36 dosen bergelar S-2, dan dana jaminan sekitar Rp 19 miliar. (ani).(Suara Uniflor, Flores Pos, Rabu, 1 April 2015).

Berita Terkait