Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Pilkada dan Olahraga

    2018-04-09 11:47:33
    Images

    Pilkada dan Olahraga

     

     
       

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    Oleh Aschari Senjahari Rawe, SE.,M.Pd

    Dosen Olahraga PGSD, Pendamping UKM Pencak Silat, dan

    Anggota Divisi Kompetisi Futsal Kabupaten Ende

    Hp. 081239800207

     

     

     

     

    Konsep politik dapat dirumuskan sebagai usaha sistematis untuk merealisasikan kehidupan public yang lebih berkualitas. Konteks usaha dalam pemahaman politik ini praktisnya dapat dicapai dengan berbagai cara yang terkadang bertentangan satu dengan lainnya. Namun, tujuan semacam itu dimungkinkan jika subyek memiliki otoritas yang terlegitimasi. Meskipun demikian, kekuasaan perlu didistribusikan dalam keputusan mengenai kebijakan yang mengarah pada alokasi seluruh sumber daya yang tersedia. Jadi, praksis politik dalam suatu Negara berkaitan dengan wewenang, pengambilan keputusan, kebijakan publik, dan alokasi atau distribusi kekuasaan.

    Sejalan dengan cara pandang di atas, alur kemajuan sekarang ini memperlihatkan betapa pengaruh kebijakan politik terhadap pembinaan olahraga masih cukup dominan. Olahraga tanpa tendensi politik menjadi sebuah utopia tersendiri. Apalagi olahraga dalam peradaban modern, bukan lagi sekadar permaianan yang netral dari kepentingan apapun. Bahkan ironisnya, sudah tidak terlihat lagi makna hakiki dari olahraga itu sendiri setelah semuanya terlebur di dalam permainan politik praktis. Padahal, olahraga merupakan sarana yang efektif dan efisien untuk meningkatkan disiplin dan tanggung jawab, kreativitas dan daya inovasi, serta mengembangkan kecerdasan.

    Betapapun demikian, sejak lama telah ada usaha untuk memisahkan aktivitas olahraga, terutama olimpiade, dengan politik. Tapi, upaya semacam itu selalu menemukan jalan buntu. Sebenarnya korelasi antara keduanya sudah terpatri dalam peraturan penyelenggaraan olimpiade itu sendiri. Moment pengibaran bendera dan pengumandangan lagu kebangsaan negara asal atlet pemenang salah satu cabang olahraga adalah sebuah contoh gamblang. Menurut Guru besar olahraga UPI Bandung Harzuki, sejarah telah beberapa kali merekam intervensi politik terhadap ajang yang sebenarnya dimaksudkan untuk memupuk sportivitas dan persahabatan antarnegara dan bangsa ini.

    Perkembangan olahraga tidak dapat dipisahkan dari kecenderungan perkembangan olahraga pada tingkat global, terutama pengaruh dari gerakan olimpiade sebagai sebuah idealisme, yang sedemikian kuat dalam memberikan arah, isi dan pengorganisasian kegiatan olahraga secara makro.

    Akan tetapi, dalam perkembangannya semua itu tidak lepas dari intervensi politik, baik intervensi itu menimbulkan kemajuan atau bahkan kemunduran dalam bidang olahraga. Sistem politik yang dianut sangat berpengaruh pada model pembinaan dan institusi yang menanganinya. Jika dalam pembinaan yang dilakukan oleh institusi yang tidak berkompeten, maka prestasi para atlet menjadi sangat riskan dan jarang berkembang.

    Sementara itu, pembangunan sejumlah sarana prasarana yang berkaitan dengan olahraga di Provinsi Nusa Tenggara Timur umumnya masih terkendala anggaran. Sejauh ini memang kita akui masih banyak kekurangan yang berkaitan dengan  sarana dan prasarana olahraga dalam berbagai cabang olahraga. Semuanya itu karena minimnya anggaran yang dialokasikan oleh pemerintah. Sarana dan prasarana yang seharusnya tidak layak, “disulap” menjadi layak. Padahal, Nusa Tenggara Timurpun pernah menorehkan sejarah dalam prestasi olahraga Indonesia. Atlit-atlit yang mendulang prestasidi ajang Asian Games. Dalam cabang atletik dapat disebut, Eduardus Nabunome, dan Olivia Sadie, sedangkan dalam cabang tinju tercatat Hermensen Ballo yang mengharumkan daerah ini.

    Kondisi sarana prasarana olahraga yang minim sebenarnya menjadi masalah hampir di seluruh wilayah tanah air. Namun, pemerintah daerahnya memiliki “nyali” untuk berubah sehingga event nasionalpun makin banyak digelar di daerahnya. Kondisi ini cukup kontras dengansituasi yang ada di Nusa Tenggara Timur sebab pembinaan olahraga sama sekali belum menjadi skala prioritas.

    Sayangnya, kondisi ini belum diplotkan sebagai komoditas politik untuk dijual saat kampanye. Hampir tak ada satupun kandidat paket calon gubernur dan calon bupati yang “menjual” materi kampanye soal olahraga. Tak ada yang berkampanye, "Saya akan membangun fasilita solahraga lima tahun ke depan".

    Ketersediaan sarana olahraga di Nusa Tenggara Timur yang memenuhi standar kelayakan sepertinya menjadi batu sandungan tersendiri. Kenyataan lainnya, masih belum optimalnya kemauan pemerintah daerah dalam penyelenggaraan kegiatan olahraga pendidikan, olahraga rekreasi, olahraga  prestasi, serta olahraga  disabilitas secara berjenjang dan berkelanjutan.  Selanjutnya, system pembinaan dan pelatihan olahraga belum berjalan terarah, terpadu dan berkesinambungan. Problematika pelik lainnya menyangkut rendahnya kualitas sumberdaya insan olahraga (rendahnya kualitas pelatih, kurangnya peran guru penjas dalam pembinaan dan pengembangan kegiatan olahraga pendidikan di sekolah-sekolah). Kurangnya sarana dan prasarana olahraga, jumlah peralatan dan minimnya pendanaan menambah daftar permasalahan olahraga kita.

    Masih ditemukan pula terbatasnya sarana dan prasarana olahraga sehingga terjadinya ketidakseimbangan antara pengguna dan fasilitas olahraga yang telah beralih fungsi. Seperti lapangan olahraga di desa-desa, kecamatan, kabupaten, bahkan ibu kota provinsi.

    Kita sungguh berharap, semoga pelaksanaan pesta rakyat pemilihan kepala daerah di  Nusa Tenggara Timur memiliki efek positif bagi dunia olahraga. Pimpinan terpilih, betul-betul memiliki atensi dan respek yang tinggi untuk mendorong pembangunan sarana prasarana, pembinaan dan prestasi olahraga di bumi Flobamora ini sehingga posisi para atlit kita turut diperhitungkan sebagai kompetitor bagi propinsi-propinsi lain di Indonesia. (*)

     

Berita Terkait