Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Pisau Itu Bernama Media Sosial

    2015-04-18 21:35:40
    Images

    Pisau Itu Bernama Media Sosial

     

    Oleh Tuteh Pharmantara

    Staf pada UPT Publikasi dan Humas, Universitas Flores, Ende,

    dan Ketua Komunitas Blogger NTT, Hp 085239014948

     

    Internet adalah salah satu teknologi canggih yang telah menjadi bagian penting kehidupan manusia pada era digital sekarang ini. Internet awalnya merupakan jaringan komputer yang dibentuk oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) pada tahun 1969, melalui proyek ARPA yang disebut ARPANET (Advance Research Project Agency Network), di mana mereka mendemonstrasikan bagaimana dengan hardware dan software komputer yang berbasis UNIX, bisa melakukan komunikasi dalam jarak yang tak terbatas melalui saluran telepon. Tujuan awal dibangunnya proyek tersebut untuk keperluan militer AS.

    Pada saat itu Departemen Pertahanan AS membuat sistem jaringan komputer yang tersebar dengan menghubungkan komputer di daerah-daerah vital untuk mengatasi masalah apabila terjadi serangan nuklir dan untuk menghindari terjadinya informasi terpusat, yang apabila terjadi perang dapat dengan mudah dihancurkan.

    Evolusi internet mengantar umat manusia pada layanan browser, layanan e-mail, dan layanan chatting paling ternama, yakni mIRC. Memasuki milenium baru bermacam-macam aplikasi dapat dimanfaatkan oleh pengguna internet, seperti hadirnya layanan video call oleh Yahoo!Messenger (kini kita mengenal skype dan lain-lain aplikasi sejenis), blog, hingga micro blogging, seperti twitter dan facebook (sebelumnya kita mengenal friendster).

    Menurut Nukman Lutfie, salah satu sisi positif medial sosial seperti blog, facebook, dan twitter adalah menguatnya fenomena jurnalis warga (citizen journalism). Setelah tahun 2000-an, blog melahirkan lebih dari sejuta blogger Indonesia, yang begitu aktif menulis apapun di blog masing-masing dan rajin memberi komentar di blog orang lain. Tiba-tiba jurnalis warga, yang sebenarnya bukan barang baru di dunia radio, menguat di dunia maya. Dan, tak bisa dibendung, kian meledak dengan semakin populernya facebook dan twitter. Akhir tahun 2010, pengguna facebook di Indonesia tembus angka 32 juta dan twitter sekitar 10 juta pengguna.

    Pertanyaannya, bagaimanakah kita menjadi bermakna di lautan jutaan pengguna blog, twitter dan facebook? Bagaimana agar kita tidak sekadar menjadi blogger, pengguna facebook, twitter dan media sosial lain dan tenggelam dalam hiruk-pikuk warganya? Bagaimana kita bisa memberikan kontribusi positif, mem-branding-kan diri menjadi jurnalis warga yang dikenal dan diakui banyak orang, lalu mendapat benefit yang layak?” 

    Media sosial yang paling banyak diminati masyarakat adalah facebook. Saat menulis formula skrip aplikasi, apalagi ketika harus berhadapan dengan orang-orang yang menuntutnya sebagai plagiator dan pencuri ide, Mark Zuckerberg tentu tidak menyangka bahwa facebook akan semeledak ini. Facebook, yang awalnya bernama the facebook, digunakan oleh tua-muda, pelajar-pengangguran, hingga kalangan borjuis dan tukang becak.

    Ketika saya menonton video dokumenter Linimassa-1 yang salah satu kisah inspiratifnya adalah tentang Harry Van Jogja, dan di lain hari melihat bagaimana brutalnya sebagian kaum muda menggunakan media sosial, saya tahu betapa besarnya kekuatan media sosial (facebook) itu sesungguhnya. Media sosial ibarat pisau!

    Saya memberikan perbandingan bagaimana pisau yang bernama media sosial digunakan untuk “mengiris daging” dan untuk “membunuh,” berikut ini.

    Si Pengiris Daging: Harry Van Jogja adalah tukang becak di Yogyakarta sejak tahun 1990 saat masih sebagai mahasiswa semeseter empat Fakultas MIPA, Jurusan Matematika, Sanata Dharma Yogyakarta. Karena kesulitan biaya, maka di malam hari dia mencoba peruntungan menjadi tukang becak. Namun, rejeki  menarik becak tidak sanggup menutup biaya kuliah hingga dia memutuskan untuk berhenti kuliah.

    Tahun 1996 Harry mendapat penumpang dari Amerika yang sering berkunjung ke Yogyakarta, sebut saja namanya Frank. Setiap kali datang ke Indonesia Frank selalu menggunakan jasa Harry. Karena Harry tidak mempunyai telepon genggam untuk berkomunikasi, Frank mengajarinya cara membuat akun e-mail. Akhirnya Harry coba mengoprek dunia internet. Dia mengenal mIRC, Yahoo!Messenger, hingga facebook. Harry berevolusi dari tukang becak manual menjadi tukang becak digital yang memanfaatkan facebook untuk menjual jasa. Dan dia mendulang sukses.

    Si Pembunuh: fenomena yang terjadi di timeline facebook oleh sebagian pengguna yang tidak bertanggung jawab memang mengiris hati. Jika berteman dengan anak-anak usia remaja (terkadang juga orang dewasa), Anda akan sering membaca status penghinaan yang sangat frontal, saling memaki, saling menghujat, saling menghina, bahkan kadang orang tua turut terseret. Beberapa lagi sering sekali menulis status yang kadang menelanjangi diri-sendiri. Kelompok inilah yang menggunakan media sosial untuk membunuh.

    Dalam seminar-seminar yang sering digelar oleh Komunitas Blogger NTT (a.k.a. Flobamora Community) di sekolah-sekolah di NTT, hal yang sering saya informasikan adalah tentang filosofi “pisau media sosial” ini. Bagaimana pisau yang sama digunakan oleh seorang tukang becak dan pelajar, namun beda tujuan. Salah satu kalimat yang paling sering saya lontarkan adalah: “Jangan mau jadi korban teknologi, jadikan teknologi sebagai korban kalian.” Caranya adalah dengan memanfaatkan media sosial sebaik-baiknya, untuk menyebar kebaikan, berbagi kebahagiaan, bukan untuk menghujat.

    (Suara Uniflor, Flores Pos, Sabtu, 21 Februari 2015).

     

Berita Terkait