Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Polemik Logika Sosiologi

    2017-05-23 10:06:00
    Images

    Polemik Logika Sosiologi

     

     

    Oleh Marianus Ola Kenoba

    Pengajar Sosiologi dan Sekretaris UPT Publikasi Universitas Flores

     

                   Kelahiranilmu-ilmu sosial di Eropa merupakan otokritik terhadap dominasi pengetahuan teologis dogmatis dan ajaran mengenai wahyu yang pada abad pertengahan diklaim sebagai sumber pengetahuan absolud. Sejak saat itu, ilmu sosial bukan lagi menyandang status pseudo science yang dinilai identik dengan ilmu perdukunan, tahayul ataupun parapsikologi. Status keilmiahan ilmu-ilmu sosial diterima oleh publik ilmiah sebab telah memenuhi standar  epistemelogis keilmuan. Atas dasar itulah ilmu sosial memperoleh status ilmu pengetahuan otonom setara dengan ilmu-ilmu alam.

                 Sosiologi, ilmu yang dikenal paling muda usianya pada awal perkembangannya tampil secara meyakinkan sebagai sosok ilmu yang bebas dari tendensi kepentingan nilai. Spirit semacam ini dapat ditemukan dalam opus magnum yang dikerjakan oleh August Comte yakni filsafat positivisme. Inti gagasan filsafat positivisme tidaklah bersifat kekal sebab dikaji kembali oleh sosiolog generasi baru. Kritik paling tajam berasal dari Max Weber yang memperlihatkan argumentasinya bahwa pada dasarnya sebuah ilmu tidak pernah bebas dari tendensi nilai. Jadi, cita-cita Comte yang mengidealkan ilmu sosial sebagai ilmu yang bebas nilai hampir tidak dapat dipertahankan lagi sebab sosiologi positivisme mendefinisikan manusia sebagai makhluk statis yang berevolusi menurut “hukum” alam.                      

                Padahal manusia tidak pernah mutlak hidup seturut hukum linear melainkan selalu berkembang dan di dalam perkembangannya mengandaikan konflik nilai. Sebaliknya, Weber menganjurkan pijakan epistemologis sosiologi sebagai ilmu yang mengkaji makna sosial dan bukannya mengkaji pranata formal makro seperti institusi sosial. Menurut teorema Weber, manusia adalah makhluk genius yang selalu menciptakan sistem simbol bermakna di dalam interelasi dengan dunianya. 

                Atas dasar itulah Weber menegaskan bahwa tugas sosiologi adalah mengurai kekusutan jejaring makna sosial dan menafsirkan sesuai konteksnya. Jadi,  bukannya menghabiskan energi untuk menemukan kategori-kategori sosial yang domain kajianya lebih luas. Oleh karena itu, obyek kajian ilmu sosial adalah reading of meaning. Gagasan Weber ini barangkali mendekati idealisme kajian cultural studies yang berupaya untuk menata order.

                Selanjutnya, menyangkut “logika waktu”, menurut Taylor kajian ilmu sosial itu bersifat post factum atau ilmu sosial mempelajari fakta yang telah terjadi. Argumentasi ini ditolak oleh Thomas Kuhn yang menegaskan bahwa asumsi dasar Taylor keliru sebab dalam mengajukan argumennya tentang peran ilmu sosial,Taylor berpijak pada paradigma ilmu alam yang berporos pada logika kuantifikasi.

                Menurut Kuhn ilmu alam tidak memiliki nilai hermeneutis sebab logika ilmu alam cenderung bersifat verifikatif. Dengan demikian, menurut Kuhn, aplikasi ilmu sosial sangat tergantung pada logika perspektif teoretik yang digunakan. Polemik epistemologis ini kemudian dilanjutkan oleh Feyerabend yang cukup tegas menolak asumsi dasar Kuhn. Bagi Feyerabend setiap ilmu pengetahuan memiliki dimensi historis. Sebaliknya, dalam anggapan Kuhn sifat ilmu adalah ahistoris.

                Aspek historisitas ilmu inilah yang menjadi titik tolak Feyerabend untuk mengajukan keberatan terhadap pemikiran Kuhn. Namun, pokok pikiran Feyerebend bernapaskan paradigma relativisme. Efek logisnya problem epistemologi menjadi bias sebab prinsipnya segala sesuatu adalah relatif tanpa acuan nilai apapun. Reaksi teoretis kemudian muncul dari Michel Faucault yang mengajukan tesis kuncinya tentang discourse atau wacana. Menurut Faucault segala sesuatu bersumber dari konstruksi sosial. Bahkan, filsuf Friederich Nietze jauh lebih radikal lagi dengan menyatakan bahwa seluruh tatanan diskursus akan bermuara pada libido untuk berkuasa.

                Mengikuti diskursus dewasa ini, peran praksis sosiologi dalam perkembangan ilmu pengetahuan masih sedang diperdebatkan. Meskipun demikian, dalam era modern ini justru ilmu sosiologi makin dibutuhkan guna mengimbangi akselerasi science yang telah melahirkan berbagai tragedi kemanusiaan yang sangat pelik. Akan tetapi “proyek” pengentasan problem kemanusiaan tidak semestinya hanya dibebankan pada “pundak” ilmu sosiologi. Lebih daripada itu, dibutuhkan iklim dialogis sehingga ilmu sosiologi perlu menjajaki metodologi keilmuan sastra. Hanya melalui sastralah problem of ordering di dalam sosiologi dapat teratasi. Sehingga ilmu-ilmu sosial, dalam hal ini, sosiologi tidak hanya menghabiskan energi untuk menemukan order, melainkan berusaha sedemikian rupa untuk menata kembali order.

                Jadi, sastra dapat menjadi “pintu masuk” bagi persemaian semangat interdisipliner di dalam ranah keilmuan. Metode budi bahasa susastera mampu menjangkau narasi biografis orang-orang biasa yang dalam lintasan sejarah cenderung terabaikan dalam analisis-analisis sosiologi. Bahasa sosiologi sudah semestinya bersifat imajinatif, sebab bahasa yang abstrak sulit terjangkau oleh komunitas masyarakat marjinal.

                Apabila sosiologi sedikit berbenah dan mengikuti metode sosiologi imajinatif  C. Wrigt Mills, maka peran sosiologi akan terasa semakin urgen, memiliki kepekaan dalam memprediksi problematika sosio-kultural yang bakal muncul sebagai efek domino dari penerapaan logika sains, dan lebih daripada itu, ilmu sosiologi dapat belajar lebih banyak lagi untuk “mencuri” kejernihan dari kerancuan logika berpikir. *

Berita Terkait