Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Prisma Gagasan Generasi Muda

    2016-11-11 09:06:38
    Images

    Prisma Gagasan Generasi Muda

    Oleh Yohanes Y.W. Kean, S.Pd, M.Pd

    Dosen Tetap Prodi Pendidikan Sejarah

    Sekretaris Pusat Pengelolaan dan Pengembangan Kuliah Kerja Nyata

     Universitas Flores, Hp.081329444306

     

    Peradaban manusia kini tengah melintasi zona globalisasi yang berporos pada pemadatan dimensi ruang-waktu. Medan dunia yang begitu luas seketika bermetamorfosa menjadi global village. Menakjubkan, namun eksesnya mirip kartu domino yang disusun berdekatan dan siap saling menabrak antarbangsa-bangsa dalam lipatan dunia yang sangat sempit. Keterkejutan atas ekses domino itu, memaksa generasi muda untuk berkaca pada gagasan-gagasan bening para founding fathers kita. Sekelumit harapan bagi generasi muda agar merawat pemikiran bening tersebut dengan gairah yang lebih dasyat lagi.

    Generasi muda yang menyandang predikat historis sebagai the agent of change ditantang komitmen morilnya ketika publik sedang dihadapkan pada riak-riak gelombang globalisasi. Sebagai pembaharu, generasi muda diimajinasikan memiliki kapasitas berpikir kritis untuk melakukan refleksi atas masalah-masalah krusial yang dihadapi oleh bangsanya sendiri.

    Dibutuhkan transformasi dari “virus” mental yang primitif, feodal, korup, santai, magis, dan minta dilayani menjadi pola pikir dan etos yang demokratis, jujur, (pe)-kerja keras, rasional, otonom, dan semangat pelayanan. Tipe ideal semacam ini sebetulnya sudah lama ada, dikembangkan di Benua Eropa, dan diperbaharui pada zaman Renaissance. Bangsa Eropa cukup diuntungkan karena selama berabad-abad dengan kontinuitas yang terjamin menciptakan diskursus potensial mengenai relasi yang ideal antara negara dan masyarakatnya.

    Proses demokratisasi di dunia barat selalu dikawal oleh pikiran-pikiran ini. Problematika seputar krisis konstitusi, inflasi ekonomi, ancaman rasialisme, dan niat genosida dapat diantisipasi lebih awal dengan melihat dan merawat kembali gagasan-gagasan tersebut. Penyegaran ide-ide dari setiap bangsa selalu mengandalkan kaum mudanya yang berkarakter rasional-kritis. Jadi, kematangan berpikir generasi muda menjadi barometer untuk merawat pencapaian kemajuan suatu bangsa melalui proses berpikir dialektis.

    Gagasan I Basis Susilo, dosen dan peneliti Studi Global dan Strategis pada FISIP Airlangga berjudul “Peran Politik Pemuda”, di kolom Opini Kompas, Selasa, 20 September 2016 mengisyaratkan nada pesimistis. Argumentasi Susilo bahwa pemikiran kritis berskala nasional untuk menyikapi kondisi-kondisi negara-bangsa jarang muncul dari mahasiswa atau organisasi kemahasiswaan.

    Demikian pula postingan penulis tanggal 04 Oktober 2016 di Grup Facebook Bengkel Sejarah-Prodi Pendidikan Sejarah, Universitas Flores mengenai keprihatinan terhadap minimnya ekologi berpikir kritis direspon secara bervariasi oleh mahasiswa sendiri. Kritis terhadap masalah sekitar dan mengemasnya kembali dalam media tulisan adalah bentuk ekspektasi tersendiri. Gagasan-gagasan cerdas yang dituangkan melalui tulisan berbobot itu kiranya semakin melegitimasi pameo lama “Pena lebih tajam dari Pedang”.

    Meskipun demikian, kita masih punya alasan untuk belajar dari sejarah. Historia magistra vitae est: sejarah itu guru kehidupan. Penggerak utama revolusi Indonesia adalah para pemudanya. Gerakan 1908, 1928, 1945 sampai dengan 1998 identik dengan kaum muda Indonesia. Kaum muda dengan kemampuan berpikir analitis, diharapkan menjadi inventors (penemu-penemu) ide-ide atau gagasan-gagasan baru. Diperlukan pula sikap pengambilan jarak atas realitas, membuat analisis kreatif melampaui realitas tersebut, sekaligus mengajak sesama kaum muda untuk mendialogkan problem yang digeluti. Intensitas dan kualitas dalam berdiskusi memungkinkan hadirnya interpretasi bernas atas realitas pelik yang dihadapi oleh bangsa. Bahkan kaum muda bisa meredefinisikan diri sebagai bagian dari suatu bangsa dalam dunia yang terjalin sebagai suatu komunitas.

    Kaum muda diharapkan menjadi penemu ide-ide dan konseptor yang kemudian mengolah secara kreatif intisari dari perjalanan hidup karya mereka dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kaum muda adalah pemikir-pemikir kreatif yang biasanya secara radikal mengungkapkan ide-ide kontroversial sehingga mampu menstimulasi diskusi dan debat dalam sejarah berpikir manusia. Prisma gagasan kaum muda biasanya mirip kaum tuanya, ada yang berpikir amat teoritis-abstrak, tetapi ada pula yang sangat praktis dan langsung dapat mengena dalam hidup dan aktivitas karya manusia.

    Kaum muda sekarang sedang bergelut dengan dialektika antara pemikiran dan kenyataan. Terlihat sekali ketika publik diterpa oleh dasyatnya arus liberalisme ekonomi. Diskusi-diskusi serius dengan membaca persoalan dari daerah-daerah masih sangat diharapkan untuk mengatasi persoalan ini yang tentunya menguras banyak energi berpikir. Isu persoalan global sebenarnya sudah menjadi diskursus pemikiran founding fathers kita. Aktualisasi gagasan pemikiran mereka untuk Negara dan Bangsa ini perlu menjadi sarana pembelajaran bagi kaum muda. Pembelajaran ini tidak boleh terputus dan di sinilah letak “premis” belajar dari Sejarah.

    Ekspresi pemikiran kritis dari dari kaum muda teridentifikasi melalui cara bernalar secara etis, duduk bersama mengambil keputusan bersama, berkompromi, meskipun melalui perdebatan, akan tetapi akhirnya mendukung mufakat bersama. Kiranya kaum muda, di manapun berada berusaha memperluas cakrawala berpikir demi mengantisipasi masalah yang semakin kompleks ke depannya dengan mewarisi isi pikiran yang jernih.*

Berita Terkait