Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Program Studi Pendidikan Sejarah Gelar Diskusi Budaya

    2018-03-15 11:06:31
    Images

    Program Studi (Prodi) Pendidikan Sejarah menggelar diskusi budaya, Sabtu, (3/3) bertempat di Ruang Bengkel Sejarah. Diskusi budaya menghadirkan Flavianus Nestor Embun (Ivan “Mogi” Nestorman), Pater Charles Beraf, SVD., dan Nando Watu. Ketua Prodi Pendidikan Sejarah Yosef Dentis S.Pd., M.A., menyampaikan rasa hormat kepada panitya yang berkenan menyelenggarakan diskusi. “Saya ucapkan terima kasih untuk segala pikiran demi terselenggaranya diskusi budaya ini. Kepada adik-adik mahasiswa saya ucapkan apresiasi yang sangat besar karena telah berusaha mendatangkan para nara sumber. Saya berharap agar moment hari ini menjadi daya dorong untuk terus memanfaatkan peluang demi karya menjadikan program studi dan lembaga ini sebagai tempat penyaluran inspirasi dan aspirasi (TEMPIAS). Demikian Dentis disambut tepuk tangan meriah dari peserta diskusi.

                Nando Watu salah satu tamu sekaligus tokoh orang muda kreatif memberikan motivasi dan mendorong mahasiswa sebagai generasi muda bangsa untuk memberikan sumbangsih kreativitas dengan menciptakan produk baru. Nando berbagi pengalaman kepada seluruh mahasiswa tentang kegiatan pemberdayaan yang telah ditekuninya kepada kaum muda dan para petani melalui kewirausahaan sosial berbasis komoditas lokal. Menurutnya, kaum muda dituntut untuk kembali ke kampung untuk mengelola dan memulai usaha dari desa.

                Pada sesi kedua Flavianus Nestor  Embun  yang akrab disapa Ivan “Mogi” Nestorman menawarkan konsep “neo tradition”. Artinya, sebagai seorang musisi juga sebagai duta budaya ia mempromosikan pelastarian budaya lokal melalui bermusik. Melalui bermusik ia mampu mengungkapkan tradisi dengan cara kekinian sehinga anak muda lebih suka, baik pada syairnya atau liriknya. Ivan melihat bermusik sebagai media penetrasi budaya agar anak-anak muda jangan mudah tergerus oleh perkembangan globalisasi yang negatif yang dapat menghilangkan jati diri. Penyampaian pesan melalui musik dengan tema budaya menjadi lebih tepat dan sifatnya universal dapat diterima oleh siapa saja. Sebagai contoh, Ivan menuturkan bahwa motif gawi, tetapi dengan rasa modern, dan tidak menghilngkan sidik jarinya (identitas). “Boleh memainkan musik modern agar mudah mengembangkan musik yang berjiwa “neo tradition”, tutur Ivan.

                Pater Charles Beraf, SVD., saat kegiatan tersebut memberi gambaran tentang generasi muda saat ini yang dihadapkan oleh banyak problematika. Menurutnya, orang muda lebih bereuforia merayakan hal-hal yang berkaitan dengan globalisasi yang jika ditelisik akan berdampak pada kehilangan identitas dan kebudayaan.

                Meyikapi fenomena tersebut Pater Charles menyampaikan tiga alur upaya untuk menggabungkan yang local dan yang global. Pertamagoing, kita dapat masuk ke dalam globalisasi, dan tidak dapat menolak perkembangan globalisasi, kedua, coming back, kembali melihat globalisasi dari sudut pandang atau kacamata kritis dan tahu menempatkan hal positif dan negatif, ketiga, going in between, bahwa kita dapat berdiri di atas yang sifatnya global tanpa meninggalkan kelokalan. Pater Charles memberikan peneguhan budaya bahwa agar kita tidak mudah tergerus oleh globalisasi, maka kita harus berpegang teguh pada identitas budaya serta lokalitas kita.

                Fasilitator diskusi budaya Yohanes Y.W. Kean S.Pd., M.Pd., juga menyampaiakn bahwa pengetahuan yang didapat dari para nara sumber menambah wawasan para peserta untuk mengalami kehidupannya secara arif berlandaskan pada jati diri dan identitas. Selain pengetahuan, peserta diskusi akan mendapatkan sertifikat dari managemen Ivan Nestorman. (As)

Berita Terkait