Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Rencana Pemugaran Sao Keda di Wolotolo

    2015-04-16 16:31:50
    Images

    Rencana Pemugaran Sao Keda di Desa Wolotolo

     
     Oleh Mukhlis A. Mukhtar, S.T, M.T.

    Dosen Program Studi Teknik Arsitektur,

    Fakultas Teknik, Universitas Flores, Hp 085234543731

     

    Sao keda adalah bangunan tradisional suku Ende Lio yang berfungsi sebagai tempat musyawarah (semacam balai rakyat), beratap alang-alang dan berbentuk menjulang tinggi. Bangunan ini dianggap sebagi simbol kesakralan adat masyarakat karena merupakan cikal-bakal permukiman adat suku Ende Lio.

    Bangunan sao keda yang sudah tua tentu perlu dipugar, termasuk sao keda di Desa Wolotolo, Kabupaten Ende. Untuk memugar sao keda di Desa Wolotolo, bukanlah pekerjaan  mudah. Hal ini bisa dilihat pada tahapan pemugaran yang tidak sederhana berikut ini.

    Pertama, musyawarah empat mosalaki (kepala suku). Diawali dengan musyawarah yang dilakukan oleh empat mosalaki Desa Wolotolo. Keempat mosalaki itu adalah Mosalaki Bapu, Mosalaki Loke, Mosalaki Jaurangga, dan Mosalaki Ndosi. Musyawarah ini untuk menyepakati rencana pemugaran bangunan tradisional sao keda. Yang disepakati adalah hari mulai pemugaran, siapa atau pihak mana yang terlibat, besarnya anggaran, material yang diperlukan, dan lain-lain. Musyawarah berlangsung di tempat sao ria mosalaki pertama, yaitu Mosalaki Bapu. Disiapkan makan-minum yang dibawa oleh keluarga keempat mosalaki, berupa nasi, daging babi, dan moke (minuman tradisional).

    Musyawarah ini menyepakati pemugaran sao keda yang dalam istilah bahasa Ende Lio adalah poto wolo renggi keli. Keempat mosalaki menggundang tujuh kopokasa (wakil mosalaki) untuk menyampaikan hasil musyawarah keempat mosalaki. Apabila disepakati maka bangunan tradisional sao keda akan segera dipugar melalui tahapan adat-istiadat.

    Kedua, berita adat kepada fai walu ana kalo (masyarakat adat). Hasil musyawarah empat mosalaki dan tujuh kopokasa disampaikan kepada seluruh fai walu ana kalo yang disebut sebagai berita adat. Berita adat dilakukan dalam dua macam, yakni berita adat secara lisan dan berita adat melalui nggo lamba (gong), yakni dengan jalan mengelilingi permukiman adat sambil memukul gong.

    Ketiga, pengumpulan bahan bangunan. Yang dikumpulkan adalah kayu di hutan adat dengan tingkatan masing-masing mosalaki yang dalam bahasa adat wa’u wisu, yang artinya keluar mencari kayu tiang wisu. Dalam pencarian kayu ini masing-masing mosalaki dibantu oleh tujuh kopokasa dan diikuti oleh fai walu ana kalo.

    Mosalaki pertama yang keluar untuk mencari kayu adalah wisu pertama Embu Bapu, dalam istilah adat Ende Lio ine tana o wau no watu o nggoro le wolo. Pada kedua wisu kedua, yakni wisu Embu Loke sebagai mupu ndenggo. Hari ketiga wisu jaurangga, dan hari keempat wisu Embu Ndosi. Peralatan yang digunakan untuk memotong kayu dan membangun sao keda berupa sao soro dali leda taka, yakni rumah penyimpanan alat pembangunan, seperti topo (parang), teka (pahat), dan dali  (batu asa).

    Keempat, proses pembongkaran sao keda lama. Pembongkaran dimulai sejak matahari terbit sampai matahari terbenam. Yang melakukan pembongkaran adalah fai walu ana kalo yang disaksikan oleh empat mosalaki dan tujuh kopokasa. Selama proses pembongkaran keempat mosalaki dan ketujuh kopokasa melakukan tarian woge yang diiringi alunan musik gong dan gendang.

    Kelima, tahap pembangunan sao keda baru. (Tahapan ini akan ditulis dalam artikel opini khusus pada edisi Suara Uniflor berikutnya).

    Keenam, peresmian sao keda yang baru. Ada dua acara penting dalam peresmian sao keda baru ini, yakni pesta adat ka nggua (makan bersama) dan ritual adat loka lengi (ritual tumpa minyak).

    Pesta adat ka nggua berupa peresmian sao keda dilakukan oleh empat mosalaki dan tujuh kopokasa yang dihadiri oleh Bupati Ende sebagai tokoh adat dalam suku Ende Lio. Yang melakukan seremoni ini adalah empat mosalaki, tujuh kopokasa, dan fai walu ana kalo,  berupa tarian gawi di depan sao keda atau di daerah kanga sebagai ungkapan rasa terima kasih dan kebersamaan dalam proses pemugaran sao keda sampai selesai.

    Acara dilanjutkan dengan peresmian sao keda baru di mana rombongan empat mosalaki, tujuh kopokasa, dan Bupati Ende beserta rombongan memasuki bagian dalam bangunan sao keda untuk makan bersama, yang sebelumnya para mosalaki dan tokoh adat mengelilingi tubu mbusu sebanyak empat kali sambil memukul gong .

    Pada saat makan bersama di dalam sao keda salah seorang mosalaki menjelaskan “filosofi” bangunan sao keda dan tugas masing-masing mosalaki serta kopokasa. Setelah itu rombongan menuju ke daerah kanga dan melakukan tarian gawi (tarian adat) bersama sebagai   ungkapan terima kasih kepada nenek moyang dan leluhur bahwa acara persemian sao keda berlangsung sukses.

    Pada keesokan harinya acara ritual loka lengi (tumpa minyak). Diawali dengan tarian gawi sejak pagi hari yang diikuti oleh seluruh warga masyarakat sebagai ungkapan rasa syukur berlimpah. Setelah gawi keempat mosalaki, tujuh kopokasa, dan tokoh masyarakat berjabatan tangan dan berpelukan sebagai tanda proses pembangunan sao keda telah sukses dilaksanakan. (Flores Pos, Sabtu, 31 Mei 2014 ).   

Berita Terkait