Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Sagi Bukan Budaya Kekerasan

    2016-05-25 09:59:15
    Images

    Sagi Bukan Budaya Kekerasan

    Oleh : F.X. Rema, M.Pd

    Staf Pengajar pada Prodi Pendidikan Sejarah, FKIP, Uniflor

    Email : remafransiskus@gmail.com

     

    Sagi adalah salah satu jenis olahraga tradisional (Tinju adat) masyarakat etnis Soa. Ketika menyaksikan sagi, secara spontan terbersit memori mengenai kekerasan. Representasi cara pandang ordinary people’s ini bisa dimaklumi karena term “mengadu orang” merupakan instrumen dalam hukum purba dan berpotensi konflik karena terjadi benturan fisik antara kedua belah pihak. Namun, jika budaya sagi dikembalikan pada spirit dasarnya, maka ditemukan rasionalisasi nilai yang sangat berbeda dan tidak disadari oleh penganut tradisi tinju adat maupun pandangan orang awam.

    Asumsi lain menyatakan bahwa sagi adalah efek dramaturgis atas pertunjukan keperkasaan lelaki yang identik dengan ciri dominasi maskulinitas. Benarkah demikian? Kenyataannya dalam sagi, wanita pun memperoleh kesempatan yang sama untuk bertinju, namun tidak terlalu diexspose menjadi bahan pembicaraan lelaki. Bahkan sagi yang dilakukan wanita biasanya tidak mempunyai penikmat yang banyak. Apakah tinju yang lakoni oleh wanita menampilkan sisi maskulinitas wanita? Menjadi kurang adil jika keduanya disandingkan karena juga akan merendahkan derajat dan menuai polemik yang berkepanjangan. Jadi sagi sama sekali bukan menampilkan aspek keperkasaan, karena tidak ada pihak yang benar-benar merasa menang atau kalah. Pengaruhnya adalah settingan waktu untuk sagi wanita biasanya dilakukan ketika hari menjelang siang, dimana kebanyakan orang masih sibuk dirumahnya untuk menyiapkan segala sesuatu dalam rangka penyambutan para tamu.

    Sagi lebih diidentikkan kepada pemilihan yang seimbang dalam hal lawan yang mau bertinju. Jika disinkronkan dengan pengalaman kehidupan di masa kini, maka akan sangat bertolak belakang. Karena alasan inilah maka sistem pemaknaan terhadap tradisi sagi harus lebih diintensifkan. Selain itu, berbagai tragedi kemanusiaan yang hampir tidak terkendali dewasa ini seharusnya bisa berkaca dari tatanan nilai dalam tradisi ini.

    Sagi mengajarkan kepada pengikutnya bahwa lawan itu bukan untuk dicemoohkan, lawan bukan dijadikan musuh selamanya, dan lawan bukanlah musuh yang harus dibenci oleh suatu kelompok kepada kelompok lainnya. Dalam sagi diperlihatkan bahwa sagi menuntut pelaku sagi yang akan bertanding untuk; a)  melihat/memperhatikan apakah lawannya sepadan atau tidak, b) mempunyai jejak rekam sikap bertinju, c) bukan keturunan sedarah dekat, dan d) tidak menaruh dendam setelah selesai bertinju. Untuk yang terakhir dari point di atas merupakan kesadaran yang sudah membudaya dan terpatri dalam hati terdalam berkat kearifan lokal yang diwariskan. Jika keempat persyaratan pokok ini terpenuhi, seorang petinju sudah bisa memenuhi syarat untuk maju menunaikan tugasnya di atas panggung.

    Prioritas pilihan atas kesepadanan lawan dapat diinterpretasikan sebagai perwujudan nilai kebajikan dan kerendahan hati. Kebajikan sebagai seorang ksatria memang akhir-akhir ini menjadi pokok persoalan krusial dari perdebatan tidak berujung, jika bercermin dari sejarah orang-orang baik tertentu yang pernah hidup pada masanya. Banyak kaum lelaki yang tidak mau menunjukan sikap ksatrianya dengan memilih lawan yang seimbang, maka terjadilah kekerasan. Korban dari pilihan yang kurang fair ini mayoritasnya adalah wanita yang tidak berdaya. Begitu-pun sebaliknya, jika korbannya adalah pria, maka dilakukan oleh wanita dengan cara yang licik dan pengecut. Hampir tidak berbeda juga dengan usaha untuk menghabisi nyawa sesama lelaki atau sesama wanita. Budaya sagi sebenarnya sudah dikesampingkan dalam hal memilih lawan yang cerdas dan tepat dengan pokok persoalan yang rasional. Justru sagi mau menunjukkan sifat kebajikan, ksatria dan penghargaan terhadap lawan

    Jejak rekam yang baik dari setiap petarung sudah merupakan prioritas yang diutamakan karena sang petinju akan menunjukkan keahliannya untuk memuaskan para penonton. Intinya bukan soal kalah-menang, tetapi bagaimana ia menunjukkan kepiawaiannya berujung kepuasan bagi para penikmatnya. Apabila dihubungkan dengan sifat kepemimpinan, sudah layaknya pemimpin haruslah mampu mengaktualisasikan diri sebagaimana filosofi yang dianut oleh para hero dalam pertandingan sagi.

    Lebih dari itu, menurut paradigma masyarakat bahwa suatu keturunan dekat adalah suatu keluarga besar karena dipandang memiliki ikatan emosional berdasarkan silsilah dan garis keturunan. Semua yang berkaitan dengan keluarga adalah contoh-contoh terbaik dan suasana keakraban yang perlu dibangun bukannya tercerai-beraikan; ketika memasuki moment pemilu misalnya.

    Selanjutnya, dendam adalah sifat dasar yang melekat pada diri setiap orang, namun rasa ini bisa “dijinakkan” dengan alat kontrol yaitu pikiran. Dalam situasi sagi hal ini sudah diajarkan secara turun-temurun. Aroma kearifan yang membudaya ini sudah sepantasnya bisa ditimba hikmahnya, terutama bagi tingkah laku sekelompok orang yang masih menyimpan dendam kepada kelompok lainnya. Fenomena yang menggejala akhir-akhir ini menunjukkan adanya rasa ketidakpuasan berujung kekerasan dari kelompok-kelompok atau individu-individu tertentu karena ingin membalaskan dendamnya.

    Sebagai kesimpulannya bahwa fakta dendam berujung pada kekerasan justru tidak diajarkan dan ditemukan dari filosofi budaya sagi. Sagi bukanlah distribusi budaya kekerasan seperti yang diimajinasikan banyak orang sebab ada makna tersembunyi yang belum dinampakkan filosofinya ke kepermukaan. *

    Opin telah diterbitkan pada Rubrik Suara Uniflor pada Harian Umum Flores Pos edisi 5 Maret 2016. Rubrik dikelola oleh UPT Humas dan Publikasi Uniflor.

Berita Terkait