Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Sarjana Bervisi Entrepreneurship

    2016-10-18 07:47:08
    Images

    Sarjana Bervisi Entrepreneurship

     

    Oleh Damianus Tola, M.Ec.Dev

    Dosen dan Sekretaris Program Studi Pendidikan Ekonomi

    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

    Hp: 082340608063

     

     

    Alkisah, 30 tahun yang lampau “stok” penyandang titel sarjana sangat terbatas. Maka, institusi pemerintah maupun swasta seakan bersaing memburu peluang sumber daya yang langka itu. Ada pula kisah unik bahwa sebelum mendapat gelar sarjana-pun, subyek tertentu sudah “dilamar” untuk bekerja di sebuah instansi. Namun, saat ini gelar sarjana hampir tak “bertuah” seperti tempo doeloe lagi karena sudah demikian banyaknya orang yang bertitel sarjana.

    Bahkan muncul pameo “sarjana baru identik dengan pengangguran baru”. Penulis cenderung bersikap skeptis jika lowongan pekerjaaan itu sungguh tidak tersedia. Kalau mau realistis, ada begitu banyak peluang kerja yang siap digeluti. Namun peluang yang tersedia itu dipandang tidak sepadan dengan titel sarjana yang dipanggul. Sarjana semacam ini cenderung memilih menjadi penganggur daripada melakoni pekerjaan yang dinilai tidak sepadan dengan pendidikannya.

    Obsesi umum yang bercokol di dalam memori para sarjana baru bahwa sesegera mungkin setelah lulus mereka dapat bekerja dan berpenghasilan tinggi. Tidaklah berlebihan jika setiap tahun jumlah pelamar CPNS untuk formasi sarjana selalu membludak. Celakanya, peserta tes yang diterima dari ratusan ribu pelamar itu hanya sekian persen saja. Begitupula ketika melamar pekerjaan di instansi swasta, aspek yang dijadikan sebagai skala prioritas adalah gaji. Akibatnya, selama beberapa tahun banyak sarjana yang berharap “mengejar” peluang tes CPNS daripada menciptakan peluang kerja mandiri.

    Padahal esensi dari kuliah bukan sekedar berburu gelar dan ijasah. Melainkan untuk menimba dan memperdalam sebanyak mungkin pengetahuan agar kelak dapat dimanfaatkan. Para sarjana yang baru menyelesaikan studi mestinya telah siap menciptakan peluang usaha sendiri dengan mengandalkan skill dan pengetahuan yang diperoleh selama kuliah.  

    Misalnya bagi sarjana lulusan Fakultas Pertanian dapat merambah bisnis di bidang pertanian, seperti membuka perkebunan atau pertanian dengan sistem on farm (membuka lahan). Implementasi teori-teori pertanian yang didalami selama kuliah, tentu merupakan input positif bagi pengembangan bisnisnya. Misalnya dalam cara memperlakukan tanaman atau-pun strategi taktis mengantisipasi serangan hama.

    Demikian pula lulusan Fakultas Ekonomi dapat menjajaki peluang usaha kuliner, jasa pelayanan publik, distribusi ikan, udang, dan sebagainya. Satu tips penting, kalau mau jadi wirausahawan tidak perlu merasa gengsi dan malas. Jadi, modal yang dibutuhkan adalah ketekunan, kepekaan membaca peluang usaha, dan memulai dari usaha-usaha berskala kecil.

    Peluang wirausaha saat ini sangat terbuka lebar. Itu artinya setiap sarjana dari bidang apapun, dimungkinkan untuk membangun jiwa wirausaha karena memang saat ini sungguh dibutuhkan. Langkah pertama menumbuhkan “virus” wirausaha kepada para sarjana baru dimulai dari perubahan mindset. Kenyataannya sungguh ironis sebab tidak banyak orang muda yang berpandangan positif terhadap dunia kewirausahaan. Teridentifikasi pula realita lainnya bahwa angka statistik usia produktif kerja semakin membengkak. Sementara itu, ketersediaan lapangan pekerjaan justru tidak sebanding dengan kelompok usia produktif kerja. Dampaknya, grafik statistik pengangguran berijazah sarjana semakin bergerak-merangkak naik dari tahun ke tahun.

    Menciptakan peluang usaha mandiri sebetulnya menjadi opsi yang paling strategis dalam masa sekarang ini. Sarjana yang memiliki pandangan seperti ini dapat menentukan karier sebagai pekerja atau pengusaha. Seseorang yang telah berwirausaha sejak usia belia sesungguhnya telah berinvestasi untuk masa depan dan tidak hanya berinvestasi uang semata tetapi juga mental. 

    Namun, ketika memutuskan “bermain” di dunia usaha, terkadang cukup banyak orang muda terjangkit sindrom ketidakpercayaan terhadap potensi yang dimiliki. Kecemasan seperti itulah yang sering muncul di benak orang muda potensial ketika mereka hendak beralih kuadran menjadi pelaku usaha. Rumus sederhananya, setiap orang memiliki peluang yang sama besar untuk bisa menjadi pelaku usaha. Akan tetapi, tidak semua orang berani mengasah bakat dan minat mereka, sehingga wajar bila ada sebagian yang telah berhasil menjadi pengusaha sukses dan sebagiannya lagi masih belum beranjak jauh dari pencitraan diri yang menyesatkan.

    Ketakutan untuk memulai dan mencoba sebuah usaha menjadi hambatan awal bagi sebagian orang muda berbakat sehingga mereka memilih mengurungkan niatnya untuk menekuni usaha yang sederhana sekalipun. Ketika berpikir menjadi seorang wirausaha, maka tidak perlu takut dan bingung untuk memilih ide bisnis yang paling sesuai dengan potensi diri. Saran kecil, mulailah dari hal-hal yang dicintai. Misalnya saja pertimbangkan hobi maupun bakat dalam bidang tertentu sebagai peluang usaha.

    Meskipun mengawali dunia bisnis dalam skala kecil, namun jika ditekuni dengan sepenuh hati, maka tidak menutup kemungkinan bila hobi atau bakat tersebut bisa menghasilkan keuntungan jutaan setiap bulannya. Jadi, melalui wirausaha kita telah menghadirkan lapangan kerja minimal untuk diri sendiri dan sekaligus peluang bagi orang lain.

Berita Terkait