Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Sarjana dan Return on investment

    2016-10-05 08:24:35
    Images

    Sarjana dan Return on investment

    Oleh Stefanus Hubertus Gusti Ma, SE, M.Ec.Dev

    Dosen Program Studi Pendidikan Ekonomi

    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

     

    Hasil akhir dari proses akademik bagi mahasiswa adalah memperoleh gelar sarjana. Gelar yang disandang tersebut merupakan manifestasi dari sebuah investasi masa depan yang menjanjikan. Akhir di sini, tidak berkenaan dengan belajar, sebab belajar adalah proses terus-menerus dalam mengasah kemampuan. Untuk keluar dari keterbelakangan, kemiskinan, kebodohan, ketertindasan, orang harus mengalami pendidikan demi mencapai sisi humanitas yang lebih bermartabat. Investasi tentu selalu ditafsir dari dunia bisnis. Namun, investasi dalam konteks ini tidak sekedar ditafsir dari sisi bisnis ini, melainkan dari berbagai sisi positif yang saling berkelindan dalam lingkungan pendidikan. Salah satu cara mengkaji baik buruknya investasi adalah dengan melihat Return on Investment (ROI). ROI merupakan cara mengukur kemampuan perusahaan dengan menggunakan seluruh aktiva yang tersedia di dalam perusahaan untuk menghasilkan keuntungan (Munawir, 2007: 84). Sebuah lembaga pendidikan diasumsikan dengan sebuah perusahan, Tulisan ini mengasumsikan bahwa mahasiswa FKIP Universitas Flores yang mengikuti peristiwa yudicium hari ini, berada dalam satu kitaran proses investasi dari datang sampai selesai di perguruan tinggi ini.

    Perusahaan bisa kita asumsikan dengan institusi rumah tangga dalam skala mikro. Orang tua sebagai pemimpin perusahaan, dan keuntungan diasumsikan dengan anak yang dititipkan pada salah satu lembaga perguruan tinggi. Harapannya, setelah dikuliahkan akan memperoleh gelar sarjana sesuai dengan bidang ilmu yang digeluti. Aktiva diasumsikan dengan sumber daya, yakni jiwa raga dan modal/finansial yang disiapkan oleh orang tua. Orang tua memiliki ekspektasi yang luar biasa dengan menginvestasikan sumber daya yang dimiliki, yang nantinya akan memberikan manfaat yang berlipat ganda dari apa yang telah diinvestasikan sebelumnya. Sumber daya orang tua dari sisi finansial berupa kesanggupan membiayai seluruh biaya operasional dalam menempuh jenjang sarjana yang sudah lazim diterapkan oleh semua perguruan tinggi di Indonesia.

    Dengan pengorbanan (modal/ finansial) yang ada, orang tua mengharapkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Keuntungan yang prioritas adalah perolehan gelar sarjana oleh anak (ijazah). Sebelum menjadi sarjana, anak harus melalui proses sedemikian rupa, di antaranya orientasi pada tahap awal dan diakhiri dengan tahap pertanggungjawaban hasil karya ilmiah (skripsi). Keuntungan pertama ini belumlah cukup dikategorikan sebagai ROI karena masih berupa produk setengah jadi yang pemanfaatannya masih dirasakan oleh segelintir orang (kebanggaan bagi orang tua dan keluarga). Akan menjadi ROI seutuhnya apabila produk setengah jadi tersebut diubah menjadi produk jadi yang memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, negara dan agama.

    Pemanfaatan bukanlah semata-mata bahwa anak yang telah menjadi sarjana mencari dan mendapatkan pekerjaan sesuai dengan bidang ilmu tertentu saja. Pemanfaatan mengandung makna yang lebih kompleks selaras dengan tujuan pendidikan, yakni menjadikan manusia lebih mampu berkreasi. Artinya, seseorang yang telah berhasil menempuh proses akademik tidak saja mampu secara teoretis, melainkan mampu mengeksplorasi bakat dan kemampuan yang dikolaborasi dengan pengetahuan yang diraihnya dari dunia pendidikan dalam kehidupan bermasayarakat. Seorang sarjana dituntut untuk mampu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri, tidak sekedar menggantungkan cita-cita lowongan pekerjaan.

    Orang tua sebagai pemimpin perusahaan memiliki pemahaman yang baik dalam memaknai hakikat pendidikan. Cara berpikir, misalnya yang menginginkan anak bekerja pada sebuah instansi tertentu setelah menamatkan diri dari perguruan tinggi selayaknya diperbaharui. Dalam kerangka pikir demikian, Adam Smith, pemikir ilmu ekonomi mengingatkan bahwa secara ekonomis terdapat dua prinsip ekonomis yang ingin diraih, yakni untuk kepentingan pribadi (self interest), dan semangat individualisme (laissez faire).

    Pemikiran Adam Smith ini mengandaikan bahwa di dunia ini tidak akan terjadi pengangguran lagi, jika setiap individu memiliki sikap kepentingan pribadi dan semangat individualisme sebagai kekuatan pendorong dalam mengatur kesejaterahaannya. Misalkan saja, tamatan sarjana pendidikan tidak mesti menjadi guru. Secara konseptual, sarjana pendidikan layaknya menjadi guru, namun kesempatan menjadi guru terbatas, maka sangat memungkinkan bila seorang sarjana pendidikan bekerja di bidang lain, atau menggunakan kompetensi keilmuannya untuk mengupayakan lapangan pekerjaan sendiri.

    Melihat kenyataan ini, mungkin kurang etis kalau berbicara untung rugi antara orang tua dan anak. Namun perlu digarisbawahi bahwa pengorbanan orang tua kebanyakan berangkat dari kemampuan sumber daya yang terbatas. Orang tua berusaha menyanggupi kebutuhan sang anak yang tidak terbatas, dengan biaya tetap dan biaya variabel. Biaya yang dikeluarkan bertujuan mendukung proses pencapaian sasaran yaitu gelar sarjana dengan harapan tidak semata-mata menjadi produk setengah jadi, melainkan menjadi produk jadi.*

Berita Terkait