Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Sastra Anak sebagai Pembentuk Karakter Anak

    2016-07-14 09:50:58

    Sastra Anak sebagai Pembentuk Karakter Anak

    Yohanes Paulus Linong Tifaona

    Mahasiswa Semester II Prodi Pendidikan Bahasa dan sastra Indonesia,

    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Flores

    Hp:  081239222443

     

    Dunia anak sederhana dan penuh daya imajinasi. Seiring pertumbuhan dan perkembangannya, rasa ingin tahu, kreativitas dalam diri seorang anak yang imajinatif tersebut membutuhkan wadah untuk mengekspresikannya. Wadah yang memliki peran edukatif adalah sastra dimana darinya diperoleh pengetahuan, pemahaman, pengalaman tentang kehidupan. Sastra hadir melintasi dunia kehidupan anak dengan sejumlah amanat, nilai-nilai yang berguna bagi kehidupan. Peran sastra sangat dibutuhkan dalam meningkatkan kemampuan intelektual, perkembangan psikis, emosi, dan karakter.

    Sastra penting untuk perkembangan anak karena dua hal (Kurniawan, 2009: 2–3), yakni (1) kecintaan anak terhadap karya sastra dapat meningkatkan hobby dan kesukaan anak pada membaca, yang akhirnya dapat meningkatkan kebiasaan membaca anak. Kebiasaan membaca ini merupakan kunci untuk menguasai ilmu pengetahuan apapun; dan (2) dari pembacaan karya sastra yang intens, maka karya sastra bisa meningkatkan aspek kecerdasan kognisi, afeksi, dan psikomotor anak, karena dalam karya sastra ada kehidupan yang menawarkan nilai-nilai moral yang baik untuk perkembangan pikiran dan perasaan anak.

    Sastra anak tidak harus berkisah tentang anak, tentang dunia anak, maupun tentang berbagai peristiwa yang melibatkan anak, namun dapat berkisah tentang apa saja menyangkut kehidupan, baik kehidupan manusia, binatang, tumbuhan, maupun kehidupan makhluk dari dunia lain (Nurgiyantoro, 2002: 8). Oleh karena itu, sastra anak bisa dalam bentuk lisan dan tulis. Lisan adalah karya sastra yang diceritakan dan diwariskan secara turun-temurun secara lisan. Misalnya, cerita rakyat (folklore, nyanyian rakyat, permainan rakyat,dan lain-lain, yang tersebar di hampir setiap etnik yang ada di Indonesia. Sastra tulis, misalnya puisi, prosa, dan drama.

    Berkaitan dengan peran sastra ini, Puryanto (2008: 2) menyebutkan bahwa perkembangan anak akan berjalan wajar dan sesuai dengan periodenya bila disuguhi bacaan yang bernilai sastra, seperti buku cerita anak, puisi anak, dan sebagainya dengan kriteria sastra anak, yakni tema yang mendidik, alurnya lurus dan tidak berbelit-belit, menggunakan setting yang ada di sekitar mereka, tokoh dan penokohan mengandung peneladanan yang baik, gaya penyampaiannya langsung dan isinya mudah dipahami.

                Sastra anak merupakan karya sastra yang secara khusus mengisahkan dunia anak dengan menggunakan bahasa sederhana (bahasa anak), baik ditulis oleh anak sendiri maupun oleh orang dewasa yang memiliki kepedulian pada dunia imaji anak. Salah satu contoh sastra anak adalah dongeng. Kegiatan mendongeng harus dikenalkan sedini mungkin agar dapat merangsang ruang bayang fantasi anak. Mendongeng juga mengajarkan kemampuan berkomunikasi dan merangsang kemampuan verbal secara baik. Diyakini bahwa mendongeng kisah-kisah lama yang semula dituturkan lisan, dipelihara, dan disampaikan dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi yang hampir ditemukan pada setiap jenis budaya di seluruh dunia ternyata memiliki kekuatan untuk menumbuhkembangkan daya kognisi dan imajinasi anak.

    Kegiatan mendongeng  dapat dilakukan melalui bimbingan orang tua, guru sastra juga orang dewasa yang berminat pada dunia anak. Kehadiran dongeng sebagai sastra anak menjadi sarana untuk menyampaikan pesan tentang perilaku tokoh antara baik dan buruk. Di sinilah ketajaman kognisi dan sikap kritis anak dibentuk, di samping penajaman daya imajinasinya. Tokoh yang dikisahkan pun bervariasi: seorang pahlawan sejati, seorang pemberani, pemimpin yang bijak, sopan, baik hati, arif, tangguh, akan dijadikan tokoh panutan dalam hidupnya. Kehidupan anak tersugesti oleh kehadiran tokoh-tokoh hebat yang telah dikisahkan. Selain wadah pendidikan, sastra anak berfungsi sebagai wadah hiburan. Wadah pendidikan memuat amanat tentang moral, pembentukan kepribadian anak, mengembangkan imajinasi, kreativitas, serta memberi pengetahuan yang praktis bagi anak untuk membentuk karakter anak menjadi pribadi yang beretika, unggul, serta berwawasan luas, dan mampu berkreasi dengan angan-angan mereka.

    Daya bayang anak tergugah dengan kehadiran tokoh dan perwatakan yang dikisahkan dalam cerita tersebut. Anak mampu merasakan apa yang dialami tokoh. Selanjutnya, anak menjadi lebih peka untuk bertindak dan mampu memilah, memilih mana yang bernilai baik, dan mana yang tidak. Ia akan sanggup menghadapi problem hidupnya dengan pemahaman  yang lebih melalui karya sastra yang dia pelajari. Wadah hiburan adalah membuat anak merasa bahagia, merasa senang membaca, tidak jenuh mendengarkan cerita ketika dibacakan, dan mendapatkan kepuasan tersendiri sehingga menuntun kecerdasan emosinya.

    Menyitir Kurniawan (2009: 6) bahwa sastra bisa dijadikan sebagai salah satu media mendidik dan mencerdaskan anak demi pematangan imajinasi, intelektual, emosional, dan belajar mengidentifikasikan diri. Karakteristik sastra anak dalam kehidupan anak merupakan tonggak pembenihan nilai-nilai, dan norma yang baik. Ciri sastra anak yang bersifat didaktik dengan pesan budaya yang melekat kuat dalam cerita-cerita yang dirancang sebagai sarana belajar anak bagaimana menjadi orang dewasa. Melalui sastra, anak semakin jatuh cinta dengan angan-angan mereka, semakin menemukan dan memiliki kemampuan untuk berkreasi, bersikap kritis, matang berpikir, bertindak untuk mengolah kehidupannya lebih lanjut.*

Berita Terkait