Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Sastra NTT Sampai Desember 2013

    2015-04-16 16:21:21
    Images

    Sastra NTT Sampai Desember 2013

     

    Oleh Yohanes Sehandi

    Dosen Universitas Flores, Ende

     

    Pada awal tahun 2014 ini marilah kita melihat sejenak bentangan sejarah perjalanan sastra NTT sejak awal mula kelahirannya sampai dengan saat ini. Untuk itu, perlu kita ketahui dahulu sejarah awal kelahiran sastra NTT. Kapan sastra NTT lahir?         Menurut hemat saya, sastra NTT lahir pada saat orang NTT pertama kali menulis dan mempublikasikan karya sastranya dalam bahasa Indonesia kepada masyarakat umum. Setelah melalui proses penelusuran yang panjang dan agak rumit terhadap berbagai data dan informasi yang ada, akhirnya saya menemukan orang NTT pertama yang menulis dan mempublikasikan karya sastranya kepada masyarakat umum. Orang NTT yang berjasa itu adalah Bapak Gerson Poyk. Beliau kini berusia 82 tahun, tinggal di Jakarta, lahir di Rote pada 16 Juni 1931, menghabiskan masa kecilnya di Ruteng, Manggarai.

    Dalam sejumlah biografi Gerson Poyk yang tertera pada buku-buku karyanya termasuk buku Keliling Indonesia dari Era Bung Karno Sampai SBY (2010) dan dalam On The Record Transkrip Film dan Biodata Tokoh-Tokoh Sastra Indonesia (Volume 4, Yayasan Lontar), terungkap bahwa Gerson Poyk mulai menulis karya sastra sejak menjadi guru SMP dan SGA di Ternate dan Bima tahun 1960-an, dimuat di sejumlah majalah sastra yang terbit di Jakarta.

    Data otentik yang saya temukan sebagai sastra awal Gerson Poyk adalah cerita pendek (cerpen), judulnya “Mutiara di Tengah Sawah” dimuat dalam majalah Sastra (edisi Juni, Nomor 6, Tahun 1961) dan mendapat hadiah majalah Sastra tersebut sebagai cerpen terbaik pada tahun 1961 itu. Majalah Sastra adalah majalah bulanan yang khusus menerbitkan karya-karya sastra, terbit pertama kali tahun 1961, dipimpin H.B. Jassin dan M. Balfas. Orang NTT kedua yang mengikuti jejak Gerson menulis cerpen adalah Julius Sijaranamual (1944-2005).

    Setelah merintis penulisan dan penerbitan cerpen pada tahun 1961, tiga tahun kemudian, yakni tahun 1964, Gerson Poyk menerbitkan karya sastra lain berupa novel. Novel pertama Gerson berjudul Hari-Hari Pertama, diterbitkan BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1964. Tahun 1970 menerbitkan novel kedua berjudul Sang Guru oleh Balai Pustaka, Jakarta, dan pada tahun 1979 terbit novel ketiga Cumbuan Sabana oleh Penerbit Nusa Indah, Ende, Flores. Dalam penelusuran saya, orang NTT kedua yang juga mengikuti jejak Gerson menulis novel adalah Julius Sijaranamual, dengan novel pertamanya berjudul Tuhan Jatuh Hati (1971).

                Setelah 8 tahun Gerson Poyk menulis cerpen (1961) dan setelah 5 tahun menulis novel (1964), yang jejaknya diikuti oleh Julius Sijaranamual, pada tahun 1969 baru muncul orang NTT pertama yang menulis karya sastra jenis puisi. Dia adalah Dami N. Toda, lahir pada 29 September 1942 di Manggarai, meninggal dunia pada 10 November 2006 di Hamburg, Jerman. Puisi pertama Dami N. Toda berjudul “Sesando Negeri Savana” dimuat dalam majalah Sastra (edisi Juli, Nomor 7, Tahun 1969). Puisi Dami yang kedua berjudul “Epitaph Buat Daisia Kecil” dimuat dalam majalah sastra Horison (edisi Desember, Nomor 12, Tahun 1973). Orang NTT kedua yang mengikuti jejak Dami N. Toda menulis puisi adalah Pastor John Dami Mukese (kini Pemimpin Umum Flores Pos di Ende) dengan puisi panjangnya berjudul “Doa-Doa Semesta” (20 bait) dimuat majalah sastra Horison (edisi Desember, Nomor 12, Tahun 1983). 

                Berdasarkan temuan yang dikemukakan di atas, maka ketahuilah kita bahwa sastra NTT itu lahir pada tahun 1961, terhitung sejak orang NTT pertama, yakni Gerson Poyk, menulis dan mempublikasikan karya sastra dalam bahasa Indonesia kepada masyarakat umum. Sastra NTT lahir setelah tiga tahun Provinsi NTT lahir pada tahun 1958. Sampai dengan  Desember 2013 lalu, sastra NTT sudah berusia 52 tahun.

                Orang NTT pertama yang menulis karya sastra adalah Gerson Poyk. Beliau pantas diberi penghormatan dengan nama Perintis Sastra NTT. Sampai dengan Desember 2013, berdasarkan penelusuran saya, Gerson telah menerbitkan buku sastra berjumlah 27 judul buku (12 novel, 14 kumpulan cerpen, 1 buku jurnalistik bergaya sastra). Gerson Poyk juga perintis penulisan cerpen dan novel dalam sastra NTT, sedangkan perintis penulisan puisi adalah Dami N. Toda.

                Dalam usia sastra NTT yang ke-52 pada tahun 2013 lalu, sastrawan-sastrawan NTT, yang kini berjumlah lebih dari 30 orang, telah mempersembahkan 109 judul buku sastra untuk masyarakat NTT, masyarakat Indonesia, dan masyarakat dunia. Angka 109 judul buku sastra ini merupakan hasil penelusuran saya sampai akhir Desember 2013. Adapun perinciannya, 48 judul buku novel, 27 judul buku kumpulan cerpen, dan 34 judul buku kumpulan puisi. Lebih dari setengah buku-buku sastra itu saya miliki secara pribadi yang saya kumpulkan sejak kuliah di Semarang tahun 1980-an.

                Dilihat dari segi produktivitas intelektual masyarakat NTT yang beragam suku, adat-istiadat, bahasa, dan budaya yang bersifat multikultural, dengan jumlah penduduk  lebih dari 4 juta orang, dengan rentang jangka waktu 52 tahun usia sastra NTT, jumlah 109 judul buku sastra NTT ini, belumlah berarti apa-apa bagi masyarakat NTT dan masyarakat Indonesia, apalagi sebagian buku-buku sastra ini sulit ditemukan dalam pasaran buku dan perpustakaan di NTT karena tidak dicetak ulang oleh penerbit maupun pengarangnya.

                Setelah memperhatikan bentangan perjalanan sastra NTT dengan sejumlah data yang dikemukakan di atas, ketahuilah kita bahwa sastrawan-sastrawan NTT telah berkarya, meskipun belum optimal. Mereka berkarya dalam diam, mengangkat citra masyarakat dan budaya NTT ke tingkat nasional dan internasional. Sastrawan-sastrawan NTT adalah penggali sumur dan penimba air tanah NTT untuk orang yang sadar akan jatidirinya sebagai orang NTT. (Telah dimuat harian Pos Kupang (Kupang) pada Jumat, 10 Januari 2014). 

     

Berita Terkait