Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Sejarah Kata Anda

    2017-01-19 07:34:30
    Images

    Sejarah Kata “Anda”

    Oleh Yohanes Sehandi

    Dosen Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI),

    Universitas Flores, Ende, Blog: www.yohanessehandi.blogspot.com

     

    Setiap kata atau istilah mempunyai sejarahnya sendiri-sendiri, mulai dari sejarah kelahirannya sampai dengan pertumbuhan dan perkembangan pemakaiannya.Sejarah setiap kata dapat ditinjau dari segi etimologis, ontologis, dan leksikologis. Hanya saja,  karena pembentukan sebuah kata atau istilah bersifat manasuka (arbitrer) dan berdasarkan kesepakatan masyarakat pemakai bahasa, sehingga sebagian besar kata yang dipakai masyarakat sulit untuk dilacak atau ditelusuri kembali sejarah kelahirannya. 

                Salah satu kata yang masih bisa dilacak atau ditelusuri kembali sejarah kelahiran, pertumbuhan, dan perkembangan pemakaiannya adalah kata “Anda” dalam bahasa Indonesia.Kata ini semakin populer pemakaiannya pada akhir-akhir ini.Kata “Anda” dapat ditelusuri sejarahnya karena kata ini “sengaja” diciptakan dan dikembangkan oleh sejumlah tokoh nasional untuk kepentingan tertentu yang lebih besar dan bermartabat.Huruf awal kata “Anda” dalam artikel ini ditulis dengan muruf besar atau huruf kapital.

    Setelah saya melacak dan menelusuri sejarah kata “Anda” dalam sejumlah sumber pustaka, ternyata kata ini sengaja diciptakan dan dikembangkan oleh sejumlah tokoh nasional sebagai upaya “demokratisasi” bentuk sapaan dalam bahasa Indonesia.         Dalam bidang morfologi (ilmu kata), kata “Anda” termasuk jenis pronomina persona kedua tunggal (kata ganti orang kedua tunggal) dalam bahasa Indonesia. Kalau kita bandingkan dengan bahasa Inggris, kata “Anda” mempunyai kedudukan sama dan sejajar dengan kata ganti you dalam bahasa Inggris. Lewat sejarahnya yang panjang, kata “Anda” kini menjadi bentuk sapaan yang populer, demokratis, bermartabat, bebas dari kesan feodal dan stratifikasi sosial.Kata “Anda” adalah kata yang perlu dibiasakan atau dilazimkan penggunaannya.

                Berdasarkan catatan H. Rosihan Anwar, seorang tokoh pers Indonesia yang sangat berpengaruh dalam bukunya yang berjudul Bahasa Jurnalistik Indonesia & Komposisi (cetakan ke-5, 2004, halaman 13-15), kata “Anda” dilahirkan atau dicetuskan oleh seorang perwira militer Angkatan Udara Indonesia (AURI) bernama Kapten Sabirin. Kapten Sabirin mendapat inspirasi pembentukan kata “Anda” dari Kamus Modern Bahasa Indonesia (1954) karya Sutan Mohamad Zain, seorang ahli bahasa Indonesia. Kapten Sabirin membentuk kata “Anda” dengan mengambil bentuk “da” dari bahasa Kawi (Jawa Kuno) yang mengandung arti “yang mulia.” Kata “da” ini kemudian dia tambahkan dengan “an-” sehingga menjadi “Anda.” Kata yang lain yang sumbernya dari “da” dan “an-” adalah kata ayahanda, ibunda, kakanda, dan adinda yang merupakan kata sapaan akrab dalam keluarga. Status kata “Anda” ini sebagai kata ganti orang kedua yang tidak membedakan jenis kelamin, tua dan muda, dan tidak membedakan status sosial.

                Setelah dicetuskan Kapten Sabirin, orang pertama yang mempublikasikan kata “Anda” untuk masyarakat Indonesia adalah wartawan dan tokoh pers nasional Rosihan Anwar.Rosihan Anwar menggunakan kata “Anda” untuk pertama kalinya pada harian Pedoman yang dipimpinnya, edisi Kamis, 28 Februari 1957. Dua minggu kemudian, lewat harian yang sama, edisi Minggu, 14 April 1957, seorang ahli bahasa dan sastra Indonesia, Sutan Takdir Alisjahbana (STA) menyatakan persetujuan kata “Anda” sebagai kata ganti orang kedua tunggal itu untuk digunakan secara resmi dalam bahasa Indonesia. 

    Lebih lanjut STA mengusulkan agar penulisan huruf awal “Anda” menggunakan huruf besar.Usulan STA itu diterima, sehingga sampai dengan saat ini, penulisan huruf awal kata “Anda” adalah huruf besar.Selanjutnya, harian Pedoman terus menggunakan kata “Anda” sebagai kata yang bersifat sapaan, dengan kedudukan sebagai kata ganti orang kedua tunggal atau persona kedua tunggal.Jadi, hari lahir kata “Anda” adalah tanggal 28 Fabruari 1957.Pada tahun 2016 ini kata “Anda” sudah berusia 59 tahun.

                Dalam bukunya Indonesia in the Modernworld (1961), STA menjelaskan argumentasi secara linguistik (ilmu bahasa) penerimaan kata “Anda” sebagai kata ganti orang kedua tunggal karena kata ini dinilai paling netral, menunjukkan rasa hormat, tidak membedakan jenis kelamin, status sosial, umur, dan tidak bersifat feodal. Kata “Anda” perlu lazim digunakan sehari-hari, sebagaimana kini digunakan di televisi dan radio.

    Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, edisi ke-3, cetakan ke-1, 2001, halaman 45), kata “Anda” (yang huruf awalnya ditulis dengan huruf besar) diartikan sebagai kata sapaan untuk orang yang diajak berbicara atau berkomunikasi (tidak membedakan tingkatan, kedudukan, dan umur). Dalam buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (TBBI, edisi ke-3, cetakan ke-5, 2003, halaman 253), kata “Anda” dikelompokkan sebagai salah satu persona kedua tunggal, di samping bentuk persona kedua yang lain, seperti kau, engkau, dikau, dan kamu. Dijelaskan pula, persona kedua tunggal “Anda” dimaksudkan untuk menetralkan hubungan, seperti halnya kata you dalam bahasa Inggris.

    Dalam buku Pedoman EYD (1988), pada ketentuan pemakaian huruf besar, disebutkan bahwa huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata ganti “Anda.” Bandingkan dengan penulisan kata ganti orang pertama tunggal dalam bahasa Inggris, yakni I (dibaca: ai) yang ditulis dengan huruf besar. Jadi, kalau dalam bahasa Inggris, yang ditulis huruf besar adalah persona pertama tunggal, sedangkan dalam bahasa Indonesia yang ditulis huruf besar adalah persona kedua tunggal. *

Berita Terkait