Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Selamat Jalan Bapak Ema Gadi Djou

    2015-04-16 17:29:42
    Images

    Selamat  Jalan  Bapak Ema Gadi Djou

            

         Oleh Dr. Pius Pampe, M.Hum.

    Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Dosen Program Studi

            Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Flores

     

    “Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan kenangan.” Inilah ungkapan domain mengenang seorang tokoh yang meninggal dunia dan telah berjasa bagi banyak orang dalam pelbagai dimensi.

    Ungkapan yang sama kini kita nyatakan kepada Herman Yosef Gadi Djou, Drs. Ekon (biasa dikenal Bapak Ema Gadi Djou) yang telah menghadap Sang Penciptanya pada Sabtu, 5 Juli 2014, pukul 23.53 WIB, di RS  Panti Rapih Yogyakarta dalam usia 77 tahun.

    Putra kelahiran Ndona 4 April 1937 yang menyandang gelar sarjana ekonomi dari UGM (1965) adalah salah seorang putra terbaik Kabupaten Ende dan Provinsi NTT. Jiwa dan raganya utuh mengabdi dalam membangun pelbagai segi kehidupan masyarakat Kabupaten Ende dan  NTT khususnya dan Indonesia umumnya. Bahkan oleh kalangan tertentu, almarhum dipredikati sebagai tokoh dan sosok pemimpin multitalenta yang mampu memerisai serta memecah masalah dengan gayanya yang khas.

    Berbagai jabatan struktural sebagai track record pernah diembannya, baik dalam bidang sosial-kemasyarakatan, pemerintahan, pendidikan maupun organisasi politik telah  dimeteraikannya. Antara lain menjabat Ketua Ikatan Petani Pancasila Cabang Ende tahun 1965, menjadi pegawai Kantor Gubernur NTT sejak tahun 1966 yang diberi kedudukan sebagai ahli tata praja, kemudian sebagai Kepala Divisi Ekspor/Impor Crash Program, sebagai  Kepala Biro Inspeksi Keuangan dan Pajak Daerah NTT, sebagai Kepala Biro Ekonomi, dan sebagai Wakil Direktur Perusahan Daerah NTT.

    Beliau terpilih menjadi Bupati Kepala Daerah Tingkat II Ende selama 10 tahun (1973-1983). Pada waktu menjadi Bupati Ende beliau menorehkan berbagai prestasi yang monumental. Tahun 1985-1995 menjadi sebagai Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan pada Setwilda Provinsi NTT, menjadi Kepala BP-7 Provinsi NTT (1995-1997), dan sejak 1 Mei 1977 pensiun dari PNS dengan masa kerja 31 tahun 3 bulan.

    Jabatan dalam bidang organisasi kemasyarakatan, antara lain menjadi Ketua PMKRI Cabang Kupang (1967-1969), sebagai Sekretaris II Kokamendagri, sebagai Anggota Pengurus Sekber Golkar. Tahun 1968-1970 diangkat menjadi Sekjen Partai Katolik Cabang NTT dan ketika menjabat Bupati Ende diangkat sebagai Ketua Dewan Penasihat DPD II Golkar Kabupaten Ende. Beliau juga menjabat sebagai Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka NTT (1984-1997), Komisaris Daerah/Komda PSSI NTT (1986-1993), dan Ketua Ikatan Sarjana Katolik (ISKA) NTT (1994-1997).

    Jabatan-jabatan yang pernah dipundakinya itu adalah gambaran faktual sebagai pembenaran bahwa Ema Gadi Djou adalah pemimpin berkarakter pembangun yang pantas mendapatkan pahala tanda jasa dan penghargaan, antara lain penghargaan Cincin Emas Kelas II Provinsi NTT, penghargaan dari Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, penghargaan Satya Lencana Karya Satya Kelas II dari Presiden RI, dan tanda kehormatan Wredatama Nugraha Pratama dari Pengurus Besar Persatuan Wredatama RI.

    Selain rekam jejak tersebut, Bapa Ema adalah tokoh pendidikan tinggi di Flores. Beliau merintis pendirian Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif) dan mendirikan Universitas Flores (Uniflor) pada 19 Juli 1980. Upayanya ini didukung Pimpinan DPRD, tokoh-tokoh masyarakat, dan Bupati sedaratan Flores. Beliau diangkat menjadi Rektor Uniflor pertama (1980-1983). Sejak tahun 1980 sampai dengan ajal menjemputnya (2014) beliau menjabat sebagai Ketua Umum Yapertif.

    Lembaa Uniflor yang didirikannya dinilai masyarakat umum sebagai karya  Bapak Ema yang “monumental” yang dihasilkan dari erros dan manahnya yang reaktif atas kebijakan pemerintah pusat yang menutup Undana Kupang Cabang Ende sehingga berdampak pada banyak lulusan SMTA sedaratan Flores dan Lembata tidak dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi lantaran sebagian besar orang Flores miskin.

    Ini bukti keperpihakan beliau kepada masyarakat Flores dan Lembata yang miskin. Seandainya Uniflor tidak ada maka generasi muda Flores dan Lembata senantiasa hidup dalam penderitaan kehampaan intelektual dan Iptek, tidak mampu bersaing dalam mengikuti perkembangan global. Hal ini menjadi entri poin Bapak Ema sehingga dikenal dan diakui umum sebagai Sang Visioner pikiran, hati, dan matanya jauh menatap ke depan dengan mempersiapkan putra-putri Flores dan Lembata untuk tidak mengidap the idols of cave.

    Kepemimpinan yang diterapkannya berpola serfus-serfitius (pengabdi yang melayani) dengan berpijak pada fiolosofi pertandingan sepak bola, sejalan dengan bakat beliau di bidang ini pada waktu masih muda. Pertandingan dimenangkan Bapak Ema sebagai Sang Visioner dan kemenangan itu adalah paripurna yang akhirnya Tuhan menjemputnya. “Selamat jalan sang visioner, Bapak gembala yang baik, ribuan gembala dan domba didikanmu tetap manatapmu.”

    Rektor Uniflor atas nama ribuan sivitas akademika Uniflor mengabadikan jasamu pada nama “Auditorium H.J. Gadi Djou” di Kampus I. Pemda Ende pun akan mengusahakan jalan di depan Kampus Uniflor menjadi “Jalan H.J. Gadi Djou.” Penamaan ini sebagai bukti cinta yang tidak berkesudahan kepadamu atas jasa-jasamu yang sulit dicari tandingannya. (Flores Pos, Sabtu, 12 Juli  214).

Berita Terkait