Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Soekarno dan Komunisme

    2016-05-25 08:56:31
    Images

    Soekarno Komunis ?

    Oleh : Samingan

    Dosen pada Program Studi Pendidikan Sejarah

    FKIP - Uniflor


    Isu politik bahwa Soekarno seorang komunis sempat menjadi polemik pelik pada masa-masa pemerintahan Soekarno. Diakui Soekarno pernah belajar marxisme bahkan sejak masih di Hogere Burger School Surabaya. Soekarno mendalami ajaran marxisme pada guru Hogere Burger School C. Hartogh dan D.M.G. Koch juru bicara Indische Social Democratische yang sering meminjamkan buku-buku tentang marxisme. Pokok pikiran Soekarno bernafaskan marxisme dapat ditemukan dalam ‘Nasionlisme, Islam, dan Marxisme’ yang diterbitkan Indonesia Moeda tahun 1926 dan 1927. Selain itu juga ketika dalam Penjara Benceuy Soekarno banyak membaca karya Karl Marx.

    Mengapa Soekarno gemar mempelajari dan bahkan menguasai lebih dalam paham marxisme? Tidak lebih dari sebuah pilihan rasionalitas instrumen. Catatan sejarah mempertegas kenyataan bahwa ideologi marxisme menginspirasi beberapa “ilmuwan tukang“ seperti Mao Zedong, Friedrich Engels, Lenin, Stalin dan Antonio Gramsci.

    Simpati intelektual Soekarno terhadap ajaran marxisme sama sekali bukan identik dengan komunis. Karl Marx adalah seorang atheis sedang Soekarno sangat religius. Soekarno menjalankan kewajibannya sebagai muslim yang taat beribadah. Bahkan selalu mengingatkan putra putrinya untuk mendirikan dan tidak menunda shalat. Soekarno dididik sebagai Muslim sejak umur 15 tahun oleh gurunya H.O.S Cokroaminoto ketua Sarekat Islam bahkan gemar menghadiri pengajian Muhammadiyah. Sejak tahun 1928 Soekarno sudah membiasakan diri membaca Alquran dan sering berzikir menggunakan tasbih ketika di tahanan Sukamiskin. Artinya Soekarno bukanlah orang yang menjauhkan diri dengan Tuhan akan tetapi selalu mendekatkan diri dengan Tuhan.

    Lantas mengapa ada hembusan isu politik Soekarno komunis? Beberapa sejarawan berpendapat bahwa kabar baruk sengaja dihembuskan untuk mencemarkan nama Soekarno sebagai satu-satunya tokoh yang diidolakan saat itu di Indonesia. Isu tersebut juga bagian dari upaya pembunuhan karakter terhadap Soekarno seiring berdirinya rezim Orde Baru di bawah Soeharto.

    Dalam sejarah, Soekarno pernah dekat dengan komunis saat gagalnya pembrontakan Madiun 1948. Soekarno berbelok kiri dan merangkul komunis yang sudah hancur. Sikap politik empati Soekarno seperti inilah yang banyak disalahtafsirkan. Dalam fakta sejarah hubungan Soekarno dan PKI banyak diputarbalikan dari sesungguhnya. Misalnya banyak fakta yang tersembunyi di balik peristiwa G/30 S PKI, salah satunya adalah hubungan segitiga konfrontasi Malaysia dan kedekatan Soekarno dengan PKI.

    Mengapa Malaysia terlibat dalam sejarah Indonesia? Hal ini tidak terlepas dari hasrat Malaysia untuk menggabungkan Brunei, Sabah dan Sarawak dengan Persekutuan Tanah Melayu pada tahun 1961. Keinginan itu ditentang oleh Soekarno sebab Malaysia dipandang sebagai boneka Britania yang akan menambah kontrol Inggris di kawasan tersebut, sehingga mengancam kemerdekaan Indonesia. Konfrontasi juga munculkannya demontrasi anti Indonesia di Kuala Lumpur. Banyak demonstran datang ke KBRI sambil merobek-robek foto Soekarno. Beberapa demonstran juga membawa lambang negara Garuda Pancasila ke hadapan Perdana Mentri Tuanku Abdul Rahman  dan memaksanya untuk menginjak lambang negara. Sebagai kepala negara Soekarno tentu sangat marah. Kemarahan Soekarno atas Malaysia ditindaklanjuti dengan membangun gerakan politik ‘Gayang Malaysia’.

    Rasa kecewa Soekarno sempat diceritakan kepada duta besar Amerika Serikat Howard Jones. Meskipun Howard sangat bersimpati terhadap Soekarno, Amerika tidak bisa membantu Indonesia melawan Malaysia. Kekecewaan Soekarno bertambah karena minimnya dukungan pihak militer. Soekarno kemudian memilih untuk menggandeng PKI. Soekarno menggandeng PKI karena PKI juga menggalang kekuatan untuk menghancurkan Malaysia. PKI menganggap bahwa Malaysia adalah antek neokolonialisme dan imperalisme. Dengan jalinan persahabatan tersebut, tentu akan memperkuat dan menjadi gerakan nasionalis.

    Sementara itu, kegagalan operasi gerilya melawan Malaysia juga memunculkan perpecahan dalam kubu Angkatan Darat sendiri. Banyak tentara dari Divisi Diponegoro merasa kecewa dengan sikap dan keputusan petinggi Angkatan Darat yang dinilai takut kepada Malaysia. Ketakutan para petinggi Angkatan Darat bukan tanpa alasan karena Malaysia negara boneka Inggris dan kekuatan belum mampu menghadapi Malaysia. Karena para petinggi Angkatan Darat dianggap tidak bernyali maka tentara yang merasa kecewa sepakat untuk berafiliasi dengan PKI membersihkan tubuh Angkatan Darat.

    Kedekatan Soekarno dengan PKI membuat posisi PKI semakin mencuat naik. Sementara di Washington terdengar kabar tidak mengenakkan. Howard Jones melaporkan bahwa para petinggi jendral banyak berkunjung ke Amerika meminta bantuan untuk menyelamatkan kaum moderat di Indonesia karena semakin kuatnya otoritas PKI. Puncak konflik ini adalah tanggal 1 Oktober 1965 dengan terbunuhnya enam jendral senior dan beberapa orang lainnya dan mereka diseret ke dalam lubang buaya. Tragedi ini menjadi saksi sejarah kelam bagi bangsa Indonesia.

    Dalam beberapa sumber sejarah disebutkan bahwa pembunuhan atas enam jendral adalah bagian dari pada skenario kudeta yang dilakukan Soeharto dengan menggunakan tangan PKI. Akan tetapi kenyataan sejarah banyak ditutupi dan diputarbalikkan seolah Soeharto adalah pahlawan yang menyelamatkan kegaganasan PKI. Sesungguhnya Soekarno dan PKI adalah korban ambisi Soeharto untuk menggantikan posisi Soekarno menjadi Presiden Republik Indonesia pada waktu itu.(*)

    Opin telah diterbitkan pada Rubrik Suara Uniflor pada Harian Umum Flores Pos edisi 13 Februari 2016. Rubrik dikelola oleh UPT Humas dan Publikasi Uniflor

Berita Terkait