Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Swiss Contact Ende dan Uniflor Diskusikan Wisata Ramah Lingkungan

    2017-02-24 09:27:24
    Images

    Wisata Ramah Lingkungan : Diskusi Uniflor dan Swiss Contact Ende


    Selasa (21/2/17) Swiss Contact melakukan kunjungan ke Universitas Flores (Uniflor) dalam rangka melakukan diskusi mengenai perencanaan penerapan konsep green tourism pada Kawasan Wisata Taman Nasional Kelimutu, Ende. Dari pihak Swiss Contact dihadiri oleh Bapak Anggoro, Nando Watu, Ibu Komang, dan Hugo, salah satu pemerhati pariwisata Swiss Contact yang berkewarganegaraan Belanda. Pertemuan yang mulai dilaksanakan pada Pukul 10.00-12.00, dihadiri oleh pimpinan Uniflor, yakni Rektor Prof. Dr. Stephanus Djawanai, MA, Wakil Rektor Bidang Akademik  Dr. Simon Sirapadji, M.A., Wakil Rektor Bidang Kerjasama Murdaningsih, S.P., M.P., dan Sekretaris Rektor Yohanes Laka Suku, S.T., M.T. Selain itu, mengahdirkan pula beberapa akademisi Uniflor yang memiliki kompetensi bidang pariwisata dalam proses perencanaan konsep green tourism, di antaranya Ibu Yustina Paulina Penu, SST.Par., M.Par, Pasifikus Mala Meko, SST.Par., M.Par., dan  Silvester Sizo, ST., M.T.     

    Ketika membuka diskusi Rektor Prof. Dr. Stephanus Djawanai, M.A., menyampaikan sejarah nenek moyang terdahulu yang memiliki unsur pariwisata: “Sejak dahulu warga negara Indonesia memiliki adat serta kebudayaan untuk memegang teguh etika kesopanan dan keramahan yang diwujudkan dalam sikap dan tindakan. Melalui senyuman kita bisa memberikan kehidupan bagi orang lain. Artinya, bahwa dalam penerapan sektor pariwisata salah satu prinsip dalam hidup yang menjadi kewajiban pelaku wisata adalah smiling (tersenyum). Dewasa ini pengembangan pariwisata haruslah mempertimbangkan masa keberlanjutannya (sustainability) yang diimplementasikan pada tiga aspek, yaitu keberlanjutan secara ekonomi, keberlanjutan secara sosial budaya, serta keberlanjutan secara lingkungan. Senyuman merupakan bagian dari keberlanjutan secara sosial budaya, yang mana pada sisi ini mau menjelaskan pada kita bahwa bagaimana kita menjaga atau menjalin hubungan baik antara sesama manusia. Namun, pada penerapan green tourism tidak hanya mementingkan keharmonisan antara sesama manusia, tetapi juga termasuk unsur keramahan antara manusia dan lingkungan.

    Dalam diskusi itu juga Hugo, pemerhati pariwisata berkewarganegaraan Belanda menjelaskan arti dari konsep green tourism ini sebagai salah satu bentuk ekoturisme atau wisata berbasis ekosistem. Green tourism dapat berarti wisata yang menitikberatkan pada kunjungan ke lokasi satwa liar berada (misal taman nasional dan cagar alam). Jadi, green tourism adalah kegiatan hiking (pendakian), trekking, birding atau birdwatching (pengamatan burung), snorkeling, dan diving. Green tourism juga dimaknai sebagai wisata berkelanjutan dengan tidak mengakibatkan kerusakan di lokasi wisata dan cagar budaya yang sedang dikunjungi (ramah lingkungan). Green tourism yang mengusung idealisme ekoturisme berbasis konservasi. Penerapan konsep tersebut sebenarnya mau memberikan pemahaman kepada masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan wisata agar dalam segala bentuk aktivitasnya lebih menghormati alam lingkungannya. Menurut Swiss Contact, green tourism sebagai bagian green life style pun perlu dipupuk sedari dini sebagai green mind.

    Diskusi tersebut menghasikan beberapa masukan berupa referensi dari para akademisi kepada pihak Swiss Contact. Masukan tersebut berdasarkan hasil penelitian dari para akademisi beberapa tahun terakhir, terutama yang berkaitan dengan Kawasan Taman Nasional Kelimutu. Sekretaris Rektor Yohanes Laka Suku, S.T., M.T., di sela diskusi siang itu menyampaikan harapan dari Universitas Flores bahwa kolaborasi antara pihak swasta dan akademisi menjadi suatu langkah baik untuk memajukan sektor pariwisata di Kabupaten Ende secara umum, dan Kawasan Wisata Kelimutu secara khsusunya. “Aksi konservasi sangat berkontribusi karena berdampak positif pada kehidupan masyarakat lokal”, tandasnya. (As)


Berita Terkait