Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Tahapan Memugar Sao Keda di Wolotolo

    2015-04-16 17:10:21
    Images

    Tahapan Memugar Sao Keda di Wolotolo

     

     Oleh Mukhlis A. Mukhtar, S.T, M.T.

    Dosen Program Studi Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik,

         Universitas Flores, Hp 085234543731

     

    Artikel ini merupakan kelanjutan artikel saya pada rubrik “Suara Uniflor” harian Flores Pos, Sabtu (31/5/2014), yang berjudul “Rencana Pemugaran Sao Keda di Wolotolo.” Berikut ini dideskripsikan tahapan pemugaran sao keda di Desa Wolotolo, Kabupaten Ende.

    Pertama, memasang fondasi sao keda. Bagian struktur bawah bangunan adalah fondasi. Bangunan sao keda memiliki empat fondasi yang terbuat dari batu lonjong yang dipasang secara vertikal ke dalam tanah. Tinggi fondasi sekitar 1 meter dengan kedalaman 20 cm.  Jarak antar fondasai satu dengan lainnya 3,5 meter.

    Kedua, memasang kaju tenga atau isi kubhe. Pada bagian atas fondasi dipasang kaju tenga melintang di atas dua buah fondasi depan dan belakang. Dua kaju tenga dipasang sejajar sesuai dengan jarak fondasi. Kaju tenga berbentuk bulat panjang yang berdiameter 15 cm dan panjangnya 4,5 meter. Fungsinya untuk menahan topangan struktur atas bangunan.

    Ketiga, memasang isi mbasi dan isi ine wawo. Setelah kaju tenga dipasang,  dipasang isi mbasi dan isi ine wawo atau dube dalo pada bagian depan dan belakang. Kayu isi ine wawo dipasang melintang ditopang kayu isi mbasi dengan menggunakan sambungan L (sudut). Setelah keduanya terpasang, dipasang kayu palang melintang sebagai penyanggah lantai bangunan sao keda lalu dipasang papan lantai bangunan.

    Keempat, memasang empat tiang wisu. Tiang wisu merupakan struktur kolom pada bangunan sao keda yang memiliki empat buah tiang, masing-masing memiliki simbol sesuai dengan empat kepala suku yang mendiami Desa Wolotolo. Tiang wisu pertama adalah wisu Bapu, kedua wisu Loke, ketiga wisu Jaurangga, dan keempat wisu Ndosi.

    Kelima, memasang isi mbasi wawo. Setelah pemasangan empat tiang wisu, masing-masing tiang wisu diusap dengan darah ayam sebagai tanda perlindungan dari roh jahat. Keempat tiang wisu diikat oleh isi mbasi wawo untuk memperkuatnya. Isi mbasi wawo dipasang sejajar di atas tiang wisu bagian depan dan belakang. Panjang isi mbasi wawo 6,5 meter dan pada ujung masing-masing diberi tiang penyanggah yang berfungsi menahan beban dari atas dan sebagai sturuktur tenda teo pada bagian depan dan belakang.

    Keenam, memasang struktur tenda teo. Setelah dipasang kedua isi mbasi wawo dan tiang penyanggahnya, dipasang struktur bagian depan untuk ruang tenda wawo, juga penyanggah beban untuk lantai yang terbuat dari papan. Tiang penyanggah mengikuti jarak antara balok isi mbasi wawo ke permukaan tanah.

    Ketujuh, memasang balok pela. Balok pela dipasang antara masing-masing tiang penyanggah yang berfungsi pengikat tiang. Masing-masing balok pela berada saling sejajar depan tiang penyanggah dan berfungsi sebagai penahan struktur rangka atap bangunan.

    Kedelapan, memasang tiang leke raja, tiang mangu, dan tiang koko lamba. Tiang leke raja dan tiang mangu merupakan satu tiang yang bersamaan dan berfungsi sebagai tiang pembentuk kuda-kuda atau tiang nok. Pemasangan tiang nok dilakukan seremonial adat dengan memotong hewan, diberi sesajen sebagai permohonan doa restu kepada leluhur. Hewan dan sesajen yang akan disiapkan harus diambil dari kopokasa wa’i sebagai tugasnya.

    Kesembilan, memasang balok saka ubu. Setelah dipasang tiang mangu dan  leke raja, dipasang balok melintang yang menghubungkan kedua tiang tersebut yang disebut balok saka ubu yang berfungsi sebagai penopang rangka atap dan pengikat tiang mangu. Panjang balok saka ubu sekitar 4,45 meter yang dipasang dengan sambungan kayu T (siku-siku).

    Kesepuluh, memasang jara dan gola. Setelah dua buah tiang mangu telah terpasang, dipasang balok yang membentuk jara (kuda-kuda) dan gola yang berfungsi sebagai penyanggah tiang mangu serta penyanggah struktur rangka atap bangunan sao keda.

    Kesebelas, memasang lare dan eba. Lare dan eba merupakan struktur rangka atap terluar yang berfungsi sebagai pengikat ijuk atap bangunan sao keda. Terbuat dari bila bambu dan keduanya disambung dengan tali nao (ijuk). Jarak antara masing-masing lare dapat disesuaikan dan jarak antara masing-masing eba diukur dengan alang-alang pada atap bangunan sao keda.

    Kedua belas, memasang ki (alang-alang) ate ubu. Atap bangunan sao keda menggunakan ki yang diambil di wilayah permukiman adat Desa Tomberabu. Sejak lama sudah ada torajaji (perjanjian adat), di mana ki untuk rumah adat Wolotolo harus diambil di permukiman Tomberabu dan ditukar dengan air minum. Proses pengambilan ki dengan menggunakan acara adat ndero melo yang dipimpin oleh mosalaki Loke dan diikuti oleh tujuh kopokasa dan keturunan fai walu ana kalo yang wanita.

    Setelah acara pemasangan atap dan seremoinial adat lainnya selesai, empat mosalaki bersama tujuh kopokasa Wolotolo mengadakan tarian woge meriah sambil mengelilingi kanga dan tubu mbusu sambil mengangkat parang adat sebagai tanda bahwa pembangunan sao keda telah selesai dan siap untuk diresmikan. (Flores Pos, Sabtu, 5 Juli  214).

Berita Terkait