Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Tahapan Menulis Artikel Opini

    2015-04-18 21:10:50
    Images

    Tahapan Menulis Artikel Opini

     

    Oleh Yohanes Sehandi

    Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,

    dan Kepala UPT Publikasi dan Humas Universitas Flores,

    Weblog: www.yohanessehandi.blogspot.com

     

    Bagaimana tahapan atau proses kreatif menulis artikel opini untuk surat kabar dan majalah? Berikut ini petunjuk praktis dan sederhana tahapan menulis artikel opini.

    Pertama, tahap menggali ide. Tahap menggali ide atau gagasan adalah proses awal yang sangat mendasar dalam penulisan artikel opini atau penulisan jenis yang lain. Ada banyak hal yang bisa menjadi sumber ide. Sumber ide yang melimpah dan tak habis-habisnya adalah dengan jalan membaca, yakni membaca buku-buku, majalah, surat kabar, kliping, berbagai dokumen, atau internet.

    Selain membaca banyak, beragam peristiwa juga bisa menjadi pemicu munculnya ide atau gagasan untuk ditulis. Dalam keseharian kita, baik yang dialami sendiri mapun diketahui dari media massa atau cerita orang lain, bisa menjadi sumber ide yang aktual untuk dituliskan. Sumber ide yang lain adalah menonton televisi, film, sinetron, berdiskusi, seminar, mendengar radio, merenung atau membuat peta pemikiran.

    Kedua, tahap membuat kerangka. Tahap ini berupa membuat kerangka atau peta ide-ide secara garis besar dan sistematis agar menjadi teratur dan berwujud. Dalam proses ini, seorang penulis membuat daftar hal-hal yang terkait dengan ide atau topik. Setelah tertuang dalam tulisan, ide yang tercecer itu mesti diurutkan dalam sebuah kerangka tulisan agar menjadi sistematis dan utuh.

    Ketiga, tahap memberi judul. Judul adalah merek dagang (trade mark) pertama sebuah artikel, yang dilihat pertama oleh pembaca. Judul akan sangat menentukan bagi seorang pembaca untuk terus membaca atau behenti membaca. Oleh karena itu, judul mesti dibuat semenarik mungkin dengan tanpa mengabaikan isi.

    Judul sebaiknya dibuat sependek mungkin, namun harus tetap jelas maknanya. Judul yang ideal menurut para ahli sekitar 3-5 kata. Cara yang paling mungkin adalah dengan mengambil sejumlah “kata kunci” dari isi artikel, lantas merangkainya dalam sebuah frasa atau klausa. Sebagian besar judul opini dengan bentuk klausa dimulai dengan kata kerja untuk membuat kesan lugas.

    Keempat, tahap menulis paragraf pertama. Paragraf pertama adalah merek dagang kedua sebuah artikel, setelah judul. Jika disampaikan dengan menarik, pambaca akan putuskan untuk terus membacanya. Jika penulis gagal mencitrakan artikelnya pada paragraf pertama, kemungkinan besar pembaca akan membaca tulisan lainnya.  

    Paragraf pertama yang biasanya disebut lead berfungsi untuk menyapa pembaca. Lead mesti mencerminkan fokus dari tulisan yang akan dibahas. Lead juga mesti dipoles sedemikan rupa sehingga tampak jelas dan menggugah minat para pembaca. Meski diletakkan pada bagian awal, lead tidak harus disusun terlebih dahulu, bisa dibuat setelah seluruh artikel selesai disusun. Jangan ragu-ragu untuk sering menyempurnakan paragraf pertama, agar terjamin citranya yang  menarik.

    Kelima, tahap menulis tubuh artikel. Mudrajad Kuncoro (2009) menyarankan agar tubuh artikel itu dibuat “ramping dan penuh asesoris!” Tujuannya agar sebuah tulisan bisa dinikmati pembaca dengan tanpa mengerutkan dahi karena ada kejanggalan di dalamnya. Masalah yang sering muncul dalam tulisan adalah rangkaian kalimat dalam artikel tidak elegan, misalnya hubungan antara kalimat satu dengan kalimat lainnya tidak koheren dan runtun. Juga hubungan ide dalam paragraf yang satu dengan yang lain tidak mengalir berkesinambungan.

    Keenam, tahap menyusun paragraf. Kalimat-kalimat disusun terangkai dalam paragraf. Kalimat pertama mengemukakan apa yang akan disampaikan. Kalimat berikutnya menjelaskan satu sisi spesifik dari kalimat pertama. Jika belum jelas, perlu dijelaskan lagi pada paragraf berikutnya. Dalam teori paragraf, kalimat pertama adalah kalimat topik, sedangkan kalimat berikutnya adalah kalimat pendukung. Semua kalimat dalam paragraf harus mendukung satu gagasan pokok yang merupakan inti paragraf.

    Penempatan kalimat topik bisa pada awal (deduktif) bisa pula pada akhir (induktif) paragraf. Kepaduan atau koherensi antara kalimat bisa ditandai dengan adanya kata ganti, kata sambung, atau pengulangan kata tertentu dari kalimat sebelumnya. Kalimat dalam paragraf sebaiknya juga jangan terlalu banyak agar paragraf tidak terlalu panjang. Paragraf yang ideal cukup terdiri atas 3 atau 4 kalimat saja.

    Pergantian dari satu paragraf mesti dibuat sewajar dan semengalir mungkin. Pokok pikiran sebuah bagian usahakan tuntas dalam satu paragraf. Pergantian antara paragraf bisa dengan menggunakan pengulangan kata kunci (kata transisi) dari paragraf sebelumnya agar terasa lebih soft dan tidak kaku.         

    Istilah penuh aksesoris yang dimaksudkan Kuncoro di atas maksudnya agar artikel itu penuh warna-warni yang menarik dan menawan. Warna-wani itu bisa muncul dari kosakata yang beragam. Sebaiknya penulis menggunakan istilah yang mirip untuk menyebut hal atau arti yang sama.

    Ketujuh, tahap menulis bagian akhir. Sebuah artikel opini perlu memberikan solusi atas masalah yang tengah dibahas. Bagian ini menjadi penting karena mencerminkan dedikasi dan antusiasme penulis dalam menawarkan solusi atas masalah. Berilah kesan khusus pada benak pembaca atas artikel opini yang baru selesai dibacanya. Kesan khusus itulah yang akan terus diingat pembaca.

    (Suara Uniflor, Flores Pos, Sabtu, 24 Januari 2015).

Berita Terkait