Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Tata Zonasi Permukiman Adat Desa Nggela

    2015-04-18 21:16:08
    Images

    Tata Zonasi Permukiman Adat

     Desa Nggela

     

    Oleh Fabiola Kerong, S.T, M.T

    Dosen Program Studi Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik,

    Universitas Flores, Hp 085233311995

     

    Permukiman adat Desa Nggela, Kecamatan Wolojita, Kabupaten Ende termasuk  salah satu permukiman adat yang masih bertahan keasliannya sampai kini. Di sini masih bertahan 17 orang Mosalaki (pimpinan adat) dengan 15 rumah adat, serta sejumlah rumah adat pendukung (Poa Paso).

    Pola permukiman adat masyarakat Ende Lio pada umumnya dapat dilihat dalam hubungannya dengan tempat asal-usul manusia pertama suku Ende Lio, yakni Gunung Lepembusu. Berdasarkan kepercayaan ini, ujung permukiman adat suku Ende Lio selalu mengarah ke Gunung Lepembusu dan berlawanan dengan daerah paling rendah.

    Sesuai dengan pertimbangan kosmologis, permukiman harus mempertahankan keseimbangan antara dua titik ekstrim, yaitu ulu (kepala), eko (hilir), dan puse (pusat) sebagai pusat permukiman adat. Ulu dihubungkan dengan matahari terbit ke arah Gunung Lepembusu, eko ke arah matahari terbenam atau berlawanan dengan Gunung Lepembusu. Permukiman adat Desa Nggela juga mengikuti tata zonasi ini.

                Permukiman adat Desa Nggela terbagi dalam 4 zona berdasarkan sejarah nenek moyang suku Ende Lio. Bhisu Deko Ghele adalah zona bagian utara yang merupakan zona paling awal menurut sejarah kedatangan nenek moyang masyarakat Desa Nggela. Dalam zona ini terdapat: Sa’o Labo, Sa’o Tua, Sa’o Meko, dan Sa’o Ame Ndoka. Terdapat pula 4 buah Poa Paso dan 6 buah rumah penduduk. Selain itu, terdapat Kanga Ria (pelataran adat) yang merupakan tempat pelaksanaan upacara adat para Mosalaki. Di atas pelataran adat ini terdapat Tubumusu (simbol Allah), berupa sebuah batu lonjong dan sejumlah batu ceper serta kuburan Mosalaki Ine Ame dan Mosalaki Pu’u.

    Posisi zona yang berada di utara permukiman adat menunjukkan posisi tertinggi karena secara kosmologis wilayah utara adalah daerah paling sakral sebagai asal-usul nenek moyang. Posisinya yang berada di sebelah utara merupakan gerbang masuk ke permukiman adat, juga sebagai strategi pertahanan menghadapi musuh dari arah utara.

                  Bhisu One merupakan zona yang berada di tengah-tengah atau pusat. Dalam zona ini terdapat: Sa’o Ria, Sa’o Pemoroja, dan Sa’o Ndoja, sebuah Poa Paso dan sebuah rumah penduduk. Terdapat pula Puse Nua yang merupakan titik pusat permukiman adat yang dilambangkan dengan sebuah batu lonjong dan sejumlah batu ceper. Terdapat juga sebuah kuburan yang berbentuk perahu (Rate Lambo) yang merupakan kuburan seseorang sebagai arsitek karena berjasa atas pembangunan permukiman adat yang masih dipertahankan sampai sekarang. Selain itu, terdapat batu-batu yang sudah ada sejak zaman nenek moyang mereka yang tidak boleh disentuh ataupun diinjak karena dipercayai akan membawa kemalangan.

                  Secara kosmologis, zona ini berada di tengah-tengah permukiman. Artinya,  tingkat kesakralan zona ini berada di bawah setelah Bhisu Deko Ghele. Dengan adanya  titik pusat permukiman, kuburan perahu, batu-batu keramat, maka ruang luar dalam zona ini juga tidak bersifat umum untuk masyarakat. Posisinya yang berada di sebelah barat permukiman berfungsi sebagai pertahanan, juga melindungi benda-benda keramat yang ada di sekitar halaman tengah permukiman adat.

                  Bhisu Mbiri merupakan zona yang berhadapan dengan Bhisu One yang merupakan kumpulan masyarakat asli dan pendatang. Dalam zona ini terdapat: Sa’o Leke Bewa, Sa’o Wewa Mesa, Sa’o Sambajati, dan Sa’o Watu Gana, dan 7 buah rumah penduduk, tidak ada Poa Paso. Sa’o Wewa Mesa merupakan salah satu rumah yang ada di awal kedatangan nenek moyang masyarakat Desa Nggela, namun posisinya berada di zona ini karena tugasnya untuk memantau ke arah selatan (ke arah laut) apabila ada kapal  asing yang hendak memasuki Pantai Nggela. Hal ini dapat dilihat dari orientasi rumah adat ini ke arah selatan yang berbeda dengan orientasi sejumlah rumah adat lain dalam permukiman adat ini.

                  Bhisu Embulaka merupakan zona untuk kelompok masyarakat dari Portugis yang datang menetap di permukiman adat ini. Dalam zona ini terdapat: Sa’o Embulaka, Sa’o Bewa, dan Sa’o Tana Tombu. Sebuah Poa Paso dan 3 buah rumah penduduk, terdapat juga sebuah kayu peninggalan dari seorang misionaris dari Portugis. Kayu ini menjadi keramat karena tidak boleh disentuh.

                  Secara kosmologis, zona ini berada di selatan yang bermakna bahwa tingkat kesakralannya paling rendah dari zona-zona sebelumnya, dilihat juga dengan elemen-elemen yang ada pada zona ini. Posisinya menjadi penjaga permukiman adat untuk menghadapi bahaya dari arah selatan (pantai).

                  Tata zonasi permukiman adat Desa Nggela secara kosmologis, semakin ke arah utara posisi zona semakin tinggi tingkat kesakralannya. Hal ini sesuai dengan pola permukiman adat pada umumnya suku Ende Lio di Kabupaten Ende yang berorientasi ke utara Gunung Lepembusu. Posisi setiap zona yang berada di 4 arah mata angin berfungsi sebagai pertahanan terhadap berbagai bentuk acaman terhadap permukiman adat.

    (Suara Uniflor, Flores Pos, Sabtu, 31 Januari 2015).

     

Berita Terkait