Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Tenun Ikat Ende-Lio dan Memori Kolektif

    2015-04-16 17:04:34
    Images

    Tenun Ikat Ende-Lio dan Memori Kolektif

     
     Oleh Fatma Wati Indriani, S.Pd.

    Dosen Luar Biasa Program Studi Pendidikan Sejarah,

    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Flores,

    Email: fatmawatiindriani@yahoo.co.id

     

    Akselerasi ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dewasa ini membawa konsekuensi logis yang tak terkirakan pada tatanan nilai budaya lokal. Hampir semua tradisi lokal mengalami gejala goncangan budaya (shock culture) sebab logika pragmatisme-teknokrasi memiliki kekuatan hegemonis kuat hingga menjangkau struktur intersubjektivitas manusia.      Betapapun demikian, pada aras lainnya budaya-budaya lokal memiliki strategi spesifik untuk “menghindar” dari hegemoni ideologi teknokrasi. Tradisi tenun ikat Ende-Lio, di Kabupaten Ende, misalnya, tak tergerus oleh perubahan zaman dan waktu. Kesadaran kolektif yang intens terhadap pelestarian nilai kearifan budaya lokal membuat warisan yang tak ternilaikan ini tetap dilestarikan masyarakat adat suku Ende-Lio sampai dengan sekarang.

    Produk tenun ikat Ende-Lio, baik yang alamiah maupun kontemporer, memiliki nilai yang sangat esensial bagi kebutuhan ritual tradisional. Misalnya, dimanfaatkan sebagai busana tradisional sehari-hari bagi masyarakat (tau pakezuzera/lulera), sebagai busana pernikahan adat (pakenika), upacara resmi adat (pakepa’a pembe/pa’aloka, wake sa’o, dan lain-lain).    

    Selain itu, dimanfaatkan pula sebagai barang dagangan atau jualan (ngawuteka), bahan bawaan pada saat acara adat nikah, meninggal (wurumana, mailaki, niangala, tau ozowa’u), busana pesta seni budaya (tau tojawanda, tau nyanyi), bukti keterampilan menenun tenun (tau ngamangaza/ngala, tembo tau), jaminan penebus utang (nggesu/nggelusepu), busana kebesaran raja (atangga’e), mosalaki dan istri (ineria/no’ongga’e), memakaikan pada anak dan mantu (tau pakeana, phebaana), pakaian perang suku (wikkanua, mboutana) dan sebagainya.

    Para leluhur orang Ende-Lio dahulu merancang sehelai kain tenun ikat dengan berbagai pertimbangan dan citarasa estetika yang tinggi. Misalnya, pertimbangan kualitas, simbolis, penghayatan, dan sentuhan seni. Hal ini dapat dilihat pada keseluruhan proses menenun. Tenun ikat digarap dengan pola dan rupa yang hadir dengan dukungan pilihan benang atau serat kapas serta kulit kayu yang tumbuh di hutan dengan sistem pewarnaan yang khas, hitam, nila, dan merah mengkudu. Warna-warna itu diambil dari kulit kayu, akar, batang dan dedaunan tumbuhan sehingga sampai kapan pun warna tersebut tidak akan luntur bahkan makin lama akan bertambah mencolok warnanya.

    Tenun ikat dibuat tidak hanya mengandalkan kualitas estetika artistik semata, melainkan juga merepresentasikan simbol-simbol khusus yang berlaku di dalam tatanan adat masyarakat setempat. Demikian pula penggunaanya harus tetap mengikuti pakem yang ada, yang merupakan warisan leluhur mereka secara turun-temurun.

    Misalnya pada motif jara dan motif nggaja dalam masyarakat pedalaman (Ndona) dipandang bernilai sakral karena nggaja (gajah) dan jara (kuda) melambangkan kendaraan leluhur (para dewa) dan kendaraan para arwah sehingga penggunaan kain dengan motif tersebut tidaklah bersifat manasuka (arbitrer), tetapi mengikuti aturan baku secara turun-temurun. Ada larangan khusus menggunakan motif kuda (jara) terutama bagi wanita yang sedang hamil atau yang baru saja menikah. Jika diabaikan maka pemakainya akan ditimpa kematian karena kuda akan siap menjemputnya ke alam baka dan para dewa siap untuk mengadilinya.

    Atau pada contoh motif lainnya, misalnya mbokowea. Dikatakan mbokowea karena ada motif emas yang menggunakan benang emas sintetis pada bagian motifnya. Pada zaman dahulu, lawo mbokowea ini hanya dipakai pada upacara pernikahan atau menjadi sarana utama pada saat penyerahan belis pernikahan. Namun, pada zaman sekarang sudah bisa bebas diperjual-belikan walaupun masih dipakai pada upacara tukar belis pernikahan.

    Jika dilihat dari arti serta susunan dari setiap motif tenun ikat Ende-Lio, filosofi yang dapat dipetik merupakan suatu gambaran tentang pertahanan budaya yang sangat sulit ditembus, yang sulit dipatahkan oleh kekuatan apapun, sehingga di saat mandi pun mereka tetap memakainya sebagai penutup badan (riombasa) agar terhindar dari penyakit, setan atau jin atau suanggi dan roh jahat lainnya.

    Mereka tetap meyakini bahwa hal ini terbukti pada nenek moyang yang taat dan patuh terhadap aturan ini mendapat keselamatan dan panjang umur, bisa sampai 250 tahun, bahkan sampai tumbuh ekornya (ekotembu). Itu terjadi karena nenek moyang kita tidak salah bertindak terhadap ketentuan adat-istiadat atau aturan kehidupan yang telah digariskan secara turun-temurun.

    Kenyataan tersebut berbeda dengan generasi muda kita sekarang. Pada masa sekarang hal normatif tidak dipatuhi lagi, gampang dilanggar (zanggazezo atau langgalelo) sehingga menurut kepercayaan orang Ende-Lio, orang yang demikian akan mati muda (umubho’ko atau matarimbo).

    Pada dasarnya motif tenun ikat dan ragam hias yang dihasilkan para seniwati atau pengrajin tenun ikat Ende-Lio lebih mengarah pada keyakinan mereka sendiri. Hal ini terlihat pada proses pembuatannya teratur, tahap demi tahap penuh dengan upacara dan nilai magis religius. Keyakinan inilah yang membuat tenun ikat menjadi produk budaya unik. Sistem dualisme pada tenun ikat Ende-Lio menggambarkan bahwa dalam berkreasi para pengrajin  dipengaruhi oleh lingkungan, adat-istiadat, serta agama yang diyakininya. (Flores Pos, Sabtu, 28 Juni 214).

Berita Terkait