Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Tips Bagi Peserta KKN

    2017-06-22 09:52:37
    Images

    Tips bagi Peserta KKN

    Oleh Dr. Sri Wahyuni, SP.,M.Si.

    Staf Pengajar pada Fakultas Pertanian Universitas Flores

    E-mail : sriwahyuni@uniflor.ac.id

     

     

     

           Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan salah satu mata kuliah wajib yang harus ditempuh oleh mahasiswa agar dapat menyelesaikan studinya di jenjang S-1. KKN juga merupakan perpanjangan tangan fakultas ataupun universitas untuk memberikan sumbangsih keilmuannya pada masyarakat.  Oleh sebab itu, program kerja KKN menjadi penentu keberhasilan pelaksanaan KKN di masyarakat. Namun demikian, secara umum fenomena kurangnya kesiapan dan kurang pahamnya mahasiswa akan program kerja yang diemban dari universitas sering terjadi. Bahkan, terkesan bahwa mahasiswa hanya sekedar “pindah tempat makan dan tidur”, sehingga tidak jarang peserta KKN justru membebani masyarakat.  Tentu kenyataan ini sangat bertolak belakang dengan tujuan utama KKN, yaitu melaksanakan program kerja bersama-sama masyarakat untuk membangun masyarakat itu sendiri.

                Pihak kampus telah berupaya maksimal dalam meminimalisir terjadinya fenomena tersebut melalui kegiatan pembekalan, penyusunan program, dan pembuatan buku pedoman kegiatan mahasiswa selama KKN berlangsung. Namun demikian, pelaksanaan program masih belum maksimal.  Kondisi tersebut ternyata telah menjadi fenomena umum sehingga KKN sempat dihilangkan dari kurikulum oleh beberapa universitas ternama di Indonesia. Salah satu kampus ternama di Surakarta pernah menghapus kegiatan KKN dengan salah satu alasannya adalah untuk menjaga image (beban moril) kampus dari pencemaran nama baik di masyarakat, jika mahasiswanya malah membuat ulah di masyarakat karena kurangnya kemampuan adaptasi mahasiswa, bahkan terkadang mereka membuat ulah dan masalah di masyarakat yang disebabkan oleh beberapa hal. Namun demikian, secara esensial pelaksanaan KKN seyogyanya memang harus tetap diadakan.

                Saya tidak akan menyoroti dari sisi mana yang harus “diperbaiki”, apakah pihak penyelenggara atau mahasiswa. Saya hanya ingin memberikan tips bagi mahasiswa yang saat ini tengah menyiapkan diri untuk melaksanakan KKN agar kesan ketidaksiapan dan konflik dengan masyarakat dapat diminimalisir.  Melansir dari beberapa sumber, berikut tips yang harus dilakukan ketika mahasiswa berada di masyarakat.

                Beberapa tips dimaksud antara lain (a) lakukan sosialisasi sesegera mungkin untuk mengenali situasi dan kondisi masyarakat setempat, (b) kenali keyperson atau orang-orang kunci/penting dalam masyarakat, ini akan membantu kelancaran komunikasi ataupun terlaksananya program kerja di masyarakat.  Orang-orang penting yang dimaksud di sini adalah kepala desa, mosalaki atupun ketua karang taruna dll, (c) patuhi aturan dan norma yang berlaku dalam masyarakat, sopan santun dalam bergaul dan akrab yang tidak kebablasan. Akrab tentu suatu hal yang baik, namun akrab yang kebablasan justru dapat menjadi boomerang, (d) menjadi pendengar yang baik bagi masyarakat, bukan menggurui.  Sebab, terkadang masyarakat lebih terampil dalam melaksanakan sesuatu karena memiliki pengalaman dalam bidang tertentu, (e) identifikasi masalah yang terjadi dalam masyarakat dan cari solusinya, lakukan diskusi intens dengan orang-orang yang berkompeten, (f) rumuskan program bersama masyarakat sesuai dengan kebutuhan berbasis data, minta pendapat dan tetap berdiskusi dengan para penentu kebijakan di tingkat desa, (g) program kerja tidak harus baru, bisa juga dalam bentuk upgrade, (h) minimalisir penggunaan istilah asing atau yang tidak familiar dalam masyarakat, usahakan berkomunikasi dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami, dengan demikian akan mengurangi jarak antara mahasiswa dan masyarakat, (i) mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam setiap program yang kita tawarkan sehingga terbentuk sense of belonging, (j) buat program unggulan dengan mengintegrasikan tiga kelompok dengan satu DPL, buat dalam bentuk proposal untuk mendapatkan pendanaan yang dapat diajukan ke tingkat pemerintah propinsi atau kabupaten ataupun Ristekdikti, (k) tingkatkan solidaritas tim, hindari konflik sesama anggota KKN, (l) manajemen waktu yang baik, usahakan mulai aktivitas lebih awal dari masyarakat setempat, (m) merangkul semua elemen masyarakat, tanpa terkecuali. Untuk ini dibutuhkan kemampuan adaptasi yang cepat dan baik, maka sesering mungkin lakukan kontak dengan masyarakat, (n) hindari cinta lokasi. Baik sesama teman peserta KKN ataupun dengan warga setempat. Fenomena ini sering menjadi pemicu timbulnya permasalahan dalam masyarakat, (o) ciptakan teknologi tepat guna yang sederhana, murah dan mudah didapat sehingga masyarakat dapat merasakan manfaat dari KKN, dan (p) komunikasikan setiap masalah yang ditemui di masyarakat dengan DPL, jika perlu minta bantuan pada dosen yang mengerti akan pemecahan masalah tersebut.

    Beberapa tips di atas jika dilaksanakan dengan baik, maka pelaksanaan KKN di masyarakat dapat berjalan dengan “aman terkendali”, dan nama baik almamater Universitas Flores tetap terjaga.  Harapan terbesar kami adalah melalui kegiatan KKN, mahasiswa dapat menjadi agen of change dalam masyarakat melalui pendekatan partifsipatif, yaitu belajar dan bekerja bersama-sama masyarakat untuk melakukan transformasi sosial ekonomi, fasilitator (fasilisasi pertemuan) menjadi fasilitator untuk mengadakan pertemuan-pertemuan (seminar, FGD, pelatihan, dll) yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, katalisator (sumber ide perubahan) menjadi kreatif dalam mencari solusi pada setiap permasalahan yang ada dalam masyarakat dan dinamisator (penggerak masyarakat) untuk melakukan perubahan-perubahan sosial ke arah yang lebih baik, sehingga dengan demikian masyarakat benar-benar dapat merasakan manfaat dari kegiatan KKN.*

    (Suara Uniflor, 17 Juni 2017)

Berita Terkait