Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Universitas Flores Sebagai Mediator Budaya

    2014-11-03 10:15:28
    Images

    Tulisan ini bagian dari upaya Universitas Flores (Uniflor) untuk menempa jati diri dan mengemasnya dalam visi pendidikan tinggi. Perihal budaya dijadikan tema utama karena budaya adalah hasil budi dan daya manusia yang berwujud nilai-nilai (etika dan moral) yang meletakkan dan mengatur dasar kehidupan, gagasan yang mengarahkan dan mengatur pola pikir dan tindakan, artefak atau benda yang dihasilkan untuk membuat hidup manusia nyaman, dan proses perjalanan sejarah yang membentuknya menjadi insan yang menjunjung tinggi akhlak mulia.

    Mediator artinya penghubung, perantara, jembatan yang menjadi sarana bagi pertemuan dua atau lebih entitas. Manusia sebagai mediator budaya dipahami sebagai penghubung antara wujud-wujud budaya. Hal utama yang mencirikan seseorang sebagai mediator budaya adalah kemampuan menjembatani budaya modern (mutakhir) dan budaya tradisional yang dapat dirinci menjadi empat unsur pokok, yaitu yang menyangkut nilai, gagasan, artefak atau hasil karya daya cipta manusia, dan proses sejarah.

    Dalam kehidupan modern dibutuhkan mediator antara pemahaman tentang nilai modern dan nilai tradisional, antara gagasan modern dan tradisional, antara pemahaman tentang wujud artefak, hasil daya cipta: benda dan tak benda (material dan intangible) modern dan tradisional, dan antara hasil proses sejarah jangka panjang yang telah mengendap menjadi peradaban dan yang masih dipandang sebagai budaya lokal.

    Di dalam masyarakat juga dibutuhkan mediator yang dapat mengurai konflik antara warga sehingga ia harus menjadi juru damai, penyembuh, pemulih. Sering kita mendengar ungkapan bahwa kini makin banyak orang pintar, berpendidikan tinggi, tetapi mengapa terus terjadi pertikaian di tengah masyarakat. Lulusan universitas harus menjadi penengah, pendamai.

    Bagaimana hubungan antara kebudayaan dan peradaban? Para ahli antropologi mengatakan, kebudayaan terdiri dari tujuh unsur universal, yaitu: bahasa, sistem pengetahuan, sistem organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian, sistem religi dan kesenian. Peradaban adalah hasil budi daya manusia yang maju, canggih dan mendunia, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, industri, organisasi kemasyarakatan, filsafat, seni, dan mata pencaharian, yang menjadi rujukan bagi kebudayaan-kebudayaan lokal. Peradaban memuat kecerdasan (kegeniusan) yang telah ditempa dan diuji dalam perjalanan sejarah.

    Sebuah universitas adalah lembaga pendidikan yang bertugas melaksanakan proses pembudayaan (enkulturasi) untuk menghasilkan manusia yang berkarakter humanis. Proses pembelajaran di universitas memperkenalkan mahasiswa dengan pikiran para cerdik-pandai, genius modern dan genius lokal. Jadi, lulusan universitas harus memiliki pengetahuan ilmiah modern berdasarkan teori, metode dan transformasi data zaman baru dan mampu menyebarkannya kepada masyarakat yang memiliki pengetahuan tradisional berdasarkan akumulasi pengalaman lokal. Seorang lulusan universitas harus mampu membangun hubungan, menunjukkan relevansi (kepenadan) antara pengetahuan ilmiah dan pengetahuan alamiah.

    Lulusan yang memahami fungsinya sebagai mediator akan masuk ke dalam dunia kerja di masyarakat dengan perangkat pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang benar tentang hakikat hidup, dan ia harus menjadi pencerah bagi masyarakat yang masih hidup berdasarkan pengalaman alamiah semata-mata.

    Lulusan yang paham akan fungsinya sebagai mediator budaya pasti menyiapkan diri untuk bekerja secara profesional, artinya melakukan pekerjaan dalam suatu bidang keahlian dengan sebaik-baiknya, yaitu dengan menekankan kejujuran, semangat kerja sama, kepedulian, kedisiplinan, dan etos kerja yang baik. Seorang mediator budaya dituntut memiliki pola pikir yang maju dan ia harus peka terhadap lingkungan spiritual, sosial dan alam yang melingkupi kehidupan manusia.

    Bagi Uniflor kini dirasa perlu untuk merumuskan visi yang baru untuk arah pengembangannya ke masa depan tanpa meninggalkan visi ketika institusi ini didirikan pada 1980. Uniflor harus menjadi mediator, penghubung antara dunia pendidikan dan dunia pekerjaan dan usaha. Apa yang diajarkan, dilatih dan dididik di universitas harus memiliki relevansi dengan kebutuhan masyarakat sebagai pengguna lulusan.

    Universitas harus menyiapkan lulusan yang dapat menjadi pendorong perubahan, kemajuan dan pembangunan, termasuk kewirausahaan: lulusan harus dapat berwirausaha dan menjadi pendorong bagi masyarakat untuk dapat mengembangkan usaha seperti industri berbasis rumah tangga (home industry). Visi Uniflor harus mengarahkannya ke masa depan, terutama masa di mana Indonesia memasuki usia emas, yang ditandai dengan jumlah penduduk usia produktif tertinggi, yang hanya terjadi sekali dalam sejarah, dan menyongsong 100 tahun Indonesia Merdeka, tahun 2045, dengan cita-cita membentuk Indonesia tanpa kebodohan dan kemiskinan.

    Kebudayaan itu penting karena ia merupakan sumber nilai dan inspirasi bagi pengembangan hidup manusia. Kebudayaan harus dipelajari, dipahami, dan dihayati karena ia memuat informasi penting tentang kehidupan manusia pada suatu masa dan tempat tertentu.

              Kebudayaan adalah suatu ensiklopedia yang tak tergantikan. Ia adalah ingatan (memori) yang memuat informasi yang dapat membantu manusia membuat prediksi (prakiraan, skenario) bagi kehidupannya di masa depan. Manusia “terperangkap” dalam kebudayaan tempat ia lahir, tetapi melalui pendidikan, ia bermetamorfosis, mengubah diri dan lingkungannya demi identitas baru sebagai makhluk cerdas (genius)

    Tulisan ini bagian dari upaya Universitas Flores (Uniflor) untuk menempa jati diri dan mengemasnya dalam visi pendidikan tinggi. Perihal budaya dijadikan tema utama karena budaya adalah hasil budi dan daya manusia yang berwujud nilai-nilai (etika dan moral) yang meletakkan dan mengatur dasar kehidupan, gagasan yang mengarahkan dan mengatur pola pikir dan tindakan, artefak atau benda yang dihasilkan untuk membuat hidup manusia nyaman, dan proses perjalanan sejarah yang membentuknya menjadi insan yang menjunjung tinggi akhlak mulia.

    <w:LsdException L

  • Universitas Flores sebagai Mediator Budaya

    2015-04-18 09:25:21
    Images

    Universitas Flores sebagai Mediator Budaya

     

    Prof. Stephanus Djawanai, PhD

         Rektor Universitas Flores

     

    Tulisan ini bagian dari upaya Universitas Flores (Uniflor) untuk menempa jati diri dan mengemasnya dalam visi pendidikan tinggi. Perihal budaya dijadikan tema utama karena budaya adalah hasil budi dan daya manusia yang berwujud nilai-nilai (etika dan moral) yang meletakkan dan mengatur dasar kehidupan, gagasan yang mengarahkan dan mengatur pola pikir dan tindakan, artefak atau benda yang dihasilkan untuk membuat hidup manusia nyaman, dan proses perjalanan sejarah yang membentuknya menjadi insan yang menjunjung tinggi akhlak mulia.

    Mediator artinya penghubung, perantara, jembatan yang menjadi sarana bagi pertemuan dua atau lebih entitas. Manusia sebagai mediator budaya dipahami sebagai penghubung antara wujud-wujud budaya. Hal utama yang mencirikan seseorang sebagai mediator budaya adalah kemampuan menjembatani budaya modern (mutakhir) dan budaya tradisional yang dapat dirinci menjadi empat unsur pokok, yaitu yang menyangkut nilai, gagasan, artefak atau hasil karya daya cipta manusia, dan proses sejarah.

    Dalam kehidupan modern dibutuhkan mediator antara pemahaman tentang nilai modern dan nilai tradisional, antara gagasan modern dan tradisional, antara pemahaman tentang wujud artefak, hasil daya cipta: benda dan tak benda (material dan intangible) modern dan tradisional, dan antara hasil proses sejarah jangka panjang yang telah mengendap menjadi peradaban dan yang masih dipandang sebagai budaya lokal.

    Di dalam masyarakat juga dibutuhkan mediator yang dapat mengurai konflik antara warga sehingga ia harus menjadi juru damai, penyembuh, pemulih. Sering kita mendengar ungkapan bahwa kini makin banyak orang pintar, berpendidikan tinggi, tetapi mengapa terus terjadi pertikaian di tengah masyarakat. Lulusan universitas harus menjadi penengah, pendamai.

    Bagaimana hubungan antara kebudayaan dan peradaban? Para ahli antropologi mengatakan, kebudayaan terdiri dari tujuh unsur universal, yaitu: bahasa, sistem pengetahuan, sistem organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian, sistem religi dan kesenian. Peradaban adalah hasil budi daya manusia yang maju, canggih dan mendunia, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, industri, organisasi kemasyarakatan, filsafat, seni, dan mata pencaharian, yang menjadi rujukan bagi kebudayaan-kebudayaan lokal. Peradaban memuat kecerdasan (kegeniusan) yang telah ditempa dan diuji dalam perjalanan sejarah.

    Sebuah universitas adalah lembaga pendidikan yang bertugas melaksanakan proses pembudayaan (enkulturasi) untuk menghasilkan manusia yang berkarakter humanis. Proses pembelajaran di universitas memperkenalkan mahasiswa dengan pikiran para cerdik-pandai, genius modern dan genius lokal. Jadi, lulusan universitas harus memiliki pengetahuan ilmiah modern berdasarkan teori, metode dan transformasi data zaman baru dan mampu menyebarkannya kepada masyarakat yang memiliki pengetahuan tradisional berdasarkan akumulasi pengalaman lokal. Seorang lulusan universitas harus mampu membangun hubungan, menunjukkan relevansi (kepenadan) antara pengetahuan ilmiah dan pengetahuan alamiah.

    Lulusan yang memahami fungsinya sebagai mediator akan masuk ke dalam dunia kerja di masyarakat dengan perangkat pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang benar tentang hakikat hidup, dan ia harus menjadi pencerah bagi masyarakat yang masih hidup berdasarkan pengalaman alamiah semata-mata.

    Lulusan yang paham akan fungsinya sebagai mediator budaya pasti menyiapkan diri untuk bekerja secara profesional, artinya melakukan pekerjaan dalam suatu bidang keahlian dengan sebaik-baiknya, yaitu dengan menekankan kejujuran, semangat kerja sama, kepedulian, kedisiplinan, dan etos kerja yang baik. Seorang mediator budaya dituntut memiliki pola pikir yang maju dan ia harus peka terhadap lingkungan spiritual, sosial dan alam yang melingkupi kehidupan manusia.

    Bagi Uniflor kini dirasa perlu untuk merumuskan visi yang baru untuk arah pengembangannya ke masa depan tanpa meninggalkan visi ketika institusi ini didirikan pada 1980. Uniflor harus menjadi mediator, penghubung antara dunia pendidikan dan dunia pekerjaan dan usaha. Apa yang diajarkan, dilatih dan dididik di universitas harus memiliki relevansi dengan kebutuhan masyarakat sebagai pengguna lulusan.

    Universitas harus menyiapkan lulusan yang dapat menjadi pendorong perubahan, kemajuan dan pembangunan, termasuk kewirausahaan: lulusan harus dapat berwirausaha dan menjadi pendorong bagi masyarakat untuk dapat mengembangkan usaha seperti industri berbasis rumah tangga (home industry). Visi Uniflor harus mengarahkannya ke masa depan, terutama masa di mana Indonesia memasuki usia emas, yang ditandai dengan jumlah penduduk usia produktif tertinggi, yang hanya terjadi sekali dalam sejarah, dan menyongsong 100 tahun Indonesia Merdeka, tahun 2045, dengan cita-cita membentuk Indonesia tanpa kebodohan dan kemiskinan.

    Kebudayaan itu penting karena ia merupakan sumber nilai dan inspirasi bagi pengembangan hidup manusia. Kebudayaan harus dipelajari, dipahami, dan dihayati karena ia memuat informasi penting tentang kehidupan manusia pada suatu masa dan tempat tertentu.

    Kebudayaan adalah suatu ensiklopedia yang tak tergantikan. Ia adalah ingatan (memori) yang memuat informasi yang dapat membantu manusia membuat prediksi (prakiraan, skenario) bagi kehidupannya di masa depan. Manusia “terperangkap” dalam kebudayaan tempat ia lahir, tetapi melalui pendidikan, ia bermetamorfosis, mengubah diri dan lingkungannya demi identitas baru sebagai makhluk cerdas (genius).

    (Flores Pos, Sabtu, 18 Oktober 2014

Berita Terkait