Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Wisata Pangan Lokal

    2018-01-15 09:03:51
    Images

    Wisata Pangan Lokal

    Oleh Apriana Marselina, SE.,M.Sc.

    Dosen Fakultas Ekonomi,

    Hp 081353724380

     

     

     

    Propinsi Nusa Tenggara Timur merupakan daerah subur dan banyak menghasilkan komoditi pertanian yang cukup untuk menghidupi masyarakat yang berada di daerah ini. Flores salah satu wilayah di Nusa Tenggara Timur juga memiliki potensi pertanian yang cukup melimpah. Di Kabupaten Ende, misalnya memiliki beberapa hasil pertanian yang khas. Hasil pertanian tersebut berupa pisang, baik itu pisang kapok, pisang ambon, pisang susu, pisang raja, pisang tanduk, dan yang paling populer dan terkenal kelezatannya adalah pisang baranga. Hasil pertanian lainnya yaitu ubi kayu (singkong), ubi kayupun memiliki beberapa jenis, yaitu bulango atau ubi mentega, serta ubi nuabosi yang sudah dikenal sampai ke seluruh Indonesia. Adapun hasil pertanian lainnya yaitu jagung, kelapa, dan jenis umbi-umbian.

    Hasil pertanian tersebut jika diolah dengan baik dapat dijadikan sebagai penganan yang dapat difungsikan sebagai makanan utama pengganti nasi. Tetapi hasil pertanian yang sangat berlimpah dan memadai tersebut masih belum dimanfaatkan secara memadai pula untuk kesejahteraan masyarakat petani. Masyarakat petani lebih memilih menjual hasil pertaniannya, seperti pisang, singkong, jagung, dan berbagai hasil taninya untuk kemudian menggunakannya membeli beras.

    Keterbatasan pengetahuan untuk mengolah dan mengubah hasil pertanian menjadi pangan lokal menjadi masalah utama yang terjadi pada kehidupan masyarakat petani saat ini. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk memajukan perekonomian masayrakat. Salah satunya yaitu dengan cara memberdayakan masyarakat petani untuk mengolah pangan lokal dari bahan mentah ke bahan jadi, dan menjualnya sebagai penghasilan penunjang perekonomian masayrakat itu sendiri. Olahan pangan lokal yang menarik dan memiliki cita rasa khas lokal akan menjadi daya pikat tersendiri bagi para konsumen. Dengan demikian, para pengunjung yang datang ke daerah ini akan mencari olahan pangan lokal yang diminati tersebut.

    Dengan demikian, sebetulnya, olahan pangan lokal telah menjadi faktor penting bagi para wisatawan dalam memilih destinasi wisata untuk dikunjungi. Olahan pangan lokal telah menjadi efek pengiring pariwisata yang mau tidak mau menjadi bagian penting untuk terus dibenah dan digalakkan masyarakat dalam rangka mendongkrak jumlah kunjungan. Karena apapun alasannya, terlepas destinasi itu aman, indah, menawan, namun para wisatawan pun butuh makan ketika berwisata. Dari aspek olahan pangan lokal, kita bisaberkaca pada kota Yogyakarta. Kota ini sangat terkenal bukan hanya karena tempat wisatanya, tetapi terkenal dengan gudegnya, yaitu makanan khasYogykarta yang terbuat dari olahan nangka muda. Saat orang menyebut tentang kota Yogya, maka memori langsung mengingat tentang “gudeg”, masakan khas yang lezat. Sehingga kota Yogya dikenal sebagi kota gudeg. Ini berarti pangan lokal menjadi sesuatu yang urgensi bagi pembangunan pariwisata.

    Banyak makanan khas Ende yang dapat kita jadikan sebagai media untuk menjual pariwisata Ende kepada dunia luar. Salah satunya yang bisa disebutkan di sini adalah penganan uwindota (ubi yang dicincang-cincang menyerupai beras) dan disajikan bersama kuah ikan/gulai ikan sui (ikan yang diasapi dan diberi santan). Enak sekali. Inilah yang saya sebut bahwa olahan makanan lokal menjadi efek pengiring pariwisata. Wisatawan akan betah tinggal di sebuah destinasi, jika olahan makanan khas menjadi salah satu pilihannya.

    Kurangnya kesadaran masyarakat juga diakibatkan karena kurangnya campur tangan pemerintah dalam memberikan pendampingan, pelatihan, dan terutama mendonasi usaha-usaha kuliner masyarakat. Frekuensi pendampingan dan perluasan pelatihan akan membuka wawasan para petani hingga pengusaha agar semuanya memiliki semangat dan gairah untuk wisata kuliner berjalan secara baik. Aneka kegiatan ini tentu memberikan masukan yang bermanfaat kepada masyarakat Ende, misalnya untuk meningkatkan perekonomian melaluai pemberdayaan pangan lokal.

    Di samping itu, pola keketatan pemberdayaan yang demikian, secara perlahan dapat meningkatkan akses lapangan kerja bagi masyarakat itu sendiri. Artinya, geliat perekonomian dari sisi kuliner dengan memadainya ketersediaan penganan lokal telah ikut andil dalam tumbuh kembangnya kesejahteraan masyarakat. Langkah yang dapat diambil yaitu, masyarakat dapat membuat warung-warung di dekat daerah wisata, dengan menyajikan aneka menu penganan lokal khas Ende. Selama ini yang kita temui di daerah wisata, para wisatawan kesulitan untuk mencari tempat makan. Di kawasan wisata, danau Kelimutu, nyaris tidak dapat ditemukan satupun warung/tempat makan. Yang ada hanyalah orang-orang menjajakkan makanan kecil seperti pop mie, kacang goreng, kacang rebus, jagung rebus, permen, kopi dan minuman instan lainnya, yang mana dijual juga di tempat lain.

    Pemerintah sebagai penggerak perekonomian rakyat sudah sepantasnya mulai menggerakkan diikuti dengan aksi meninjau, mendata, menyampaikan, dan menghimbau, serta mengarahkan masyarakat untuk mulai merasakan bahwa usaha kuliner adalah peluang usaha meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tentu modal usaha yang selama ini dikeluhkan masyarakat dapat teratasi melalui kerja sama yang baik antara pemerintah dan masyarakatnya. Jika ini terlaksana, maka visi membangun kesejahteraan masyarakat kecil akan segera tercapai. Dan, mudah-mudahan dalam waktu dekat para wisatawan akan begitu mudah menyantap penganan lokal di tempat-tempat wisata, dan di kota Ende karena ketersediaannya cukup memadai. *

     

     

     

     

Berita Terkait