Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Wisuda : Transformasi Dimensi Ritualistik ke Demensi Kompetensi

    2017-10-09 09:14:29
    Images

    Wisuda: Transformasi Dimensi Ritualistik ke Dimensi Kompetensi

     

    Oleh P. John M. Balan, SVD, MACling

    Dosen & Pastor Kampus Minister Universitas Flores

    Hp. 081 338 767 320

     

     

     

    Sarjana adalah gelar akademik yang diberikan kepada lulusan program pendidikan sarjana strata satu (S-1) atau jenjang yang lebih tinggi. Untuk memperoleh gelar sarjana, secara formal normatif ditempuh melalui perkuliahan dalam rentangan waktu antara 4 sampai 6 tahun dengan muatan sks antara 140 sampai 160 sks menurut peraturan yang ditetapkan oleh petinggi pendidikan dan diberlakukan di setiap perguruan tinggi.  Hingga saat ini, menjadi sarjana terus  manjadi dambaan dan harapan bagi sebagian besar orang. Dambaan ini  tentu saja dibingkai dengan berbagai alasan  dan  beragam motivasi.

    Ada yang bercita-cita menjadi sarjana dengan motivasi faktual pragmatis, yakni keinginan untuk cepat mendapat pekerjaan sebagai “job-hunter”, karena pola pikir dalam konteks dunia nyata, bahwa pekerjaan yang diburu, sungguh menjanjikan harta kekayaan dan kepuasan material. Sementara ada yang bercita-cita menjadi sarjana, lantaran dihantui dengan motivasi diri ideal honoris. Harga diri, ingin dihormati dan disanjung dan dipuji jadi pemicu menjadi sarjana. Yang penting menjadi sarjana. Hal pekerjaan itu urusan kemudian yang bisa diatur. Ada pula yang ingin menjadi sarjana karena dimotivasi oleh cita-cita altruistik dedikatif. Kelompok ini mau menjadi sarjana karena didorong oleh rasa cinta untuk mengabdi, melayani, dan mendedikasikan hidup dan karyanya sehingga bermanfaat bagi orang lain. Bagi mereka pekerjaan yang layak akan diburu dengan cara yang wajar tanpa harus menghalalkan cara, atau menempuh jalan tikus manipulatif untuk menggapainya.

    Kebanyakan kita hampir pasti sudah paham akan apa sesungguhnya wisuda itu. Mungkin saja sebagian dari kita memahami wisuda hanya dari aspek ritualnya seperti yang ditulis dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), atau dalam Wikipedia. KBBI menyebut bahwa wisuda adalah peresmian atau pelantikan yang dilakukan dengan upacara khidmat. Misalnya, para sarjana yang baru lulus menghadiri acara wisuda bersama orang tua mereka. Mewisuda berarti meresmikan atau melantik dengan upacara khidmat. Misalnya, Menteri Pendidikan mewisuda 47 orang pada hari Sabtu pagi (KBBI:1563).

    Wikepedia mengartikan wisuda secara berbeda. Bahwa wisuda adalah suatu proses pelantikan kelulusan mahasiswa yang telah menempuh masa belajar di sebuah universitas tertentu. Biasanya prosesi wisuda diawali dengan prosesi masuknya rektor dan para pembantu rektor dengan dekan-dekannya guna mewisuda para calon wisudawan. Biasanya setelah acara selesai dilakukan acara foto-foto bersama dengan orang tua, teman-teman serta suami/istri dari wisudawan/wisudawati atau dengan pasangan wisudawan/wisudawati. Biasanya wisuda dilakukan setiap akhir semester dalam kalender akademik, baik semester genap maupun semester gasal (ganjil). Pada acara wisuda biasanya para wisudawan/wisudawati memakai pakaian yang ditentukan, pakaian pria menggunakan hem putih dan celana hitam bersepatu hitam, pakaian wanita menggunakan kebaya tradisional tipis dengan kain jarik, tetapi secara umum menggunakan baju toga (https://id.wikipedia.org/wiki/Wisuda). Sumber-sumber belajar ini memberi kita pemahaman akan dimensi ritualistik dari sebuah peristiwa wisuda.

    Tetapi apakah pemahaman kita hanya sebatas dimensi ritualistiknya? Bukankah ada dimensi lain yang jauh melampaui pengertian ini? Dengan mengacu pada ketentuan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) berdasarkan Peraturan Presiden No. 8 tahun 2012, dalam refleksi ini, saya mengutip lagi seperangkat gagasan yang nisacya membingkai kualifikasi dan kompetensi kesarjanaan wisudawan dan wisudawati kita. Menurut saya dimensi kualifikasi atau dimensi kompetensi sudah seharusnya menjadi fokus dari sebuah peristiwa wisuda.

    Peristiwa wisuda yang sudah terjadi berulang kali, dari waktu ke waktu, mestinya menyadarkan kita, dan bahkan peristiwa wisuda itu sendiri sudah harus memastikan bahwa para wisudawan/wisudawati kita sudah mampu dan akan terus mampu mengaplikasikan bidang keahliannya dan memanfaatkan Iptek pada bidangnya dalam penyelesaian masalah serta mampu beradaptasi terhadap situasi yang dihadapi. Peristiwa wisuda harus membawa kita pada keyakinan bahwa para wisudawan/wisudawati kita sudahmenguasai konsep teoritis bidang pengetahuan tertentu secara umum dan keterampilan khusus dalam bidang pengetahuan tersebut secara mendalam, serta mampu memformulasikan penyelesaian masalah secara prosedural aplikaitf dan terampil. Bahwa mereka mampu mengambil keputusan yang tepat berdasarkan analisis informasi dan data, dan mampu memilih berbagai alternatif solusi secara mandiri dan kelompok, sambil mereka menunjukkan tanggung jawab atas pekerjaan sendiri dan diupahkarena pencapaian hasil kerja, bila mereka sudah menemukan pekerjaan sendiri atau berafiliasi kerja dalam organisasi atau instansi tertentu (Booklet KKNI 2010/2011, pdf, 24-25). Inilah dimensi kualifikasi atau dimensi kompetensi yang patut digarisbawahi dalam sebuah peristiwa wisuda.

    Selain itu, janji wisuda sebetulnya bukanlah ucapan bibir untuk menyemarakkan dan memahkotai ritus wisuda, tetapi janji untuk membaktikan kompetensi sebagai sarjana yang bertakwa kepada TYME, setia, taat dan loyal kepada NKRI, menjunjung tinggi norma-norma Iptek dan agama, menjaga nama baik lembaga, bertanggung jawab dalam tugas, berlaku jujur, serta berbakti dengan menyumbangkan tenaga, pikiran dan kemampuan demi kemajuan negara, berbasis iman menurut agama masing-masing.

     Helen Keller mengatakan “Saya hanyalah seorang manusia, tetapi saya adalah seseorang. Saya tidak dapat melakukan segalanya, tetapi saya dapat melakukan sesuatu, dan saya tidak akan menolak melakukan sesuatu yang dapat saya lakukan. Barangkali itulah wisuda sarjana yang sejatinya.*

     

Berita Terkait