Fakultas & Program Studi


EVENTS

  • Putuskan Spiral Libido Predator

    2018-01-15 08:57:48
    Images

    Putuskan Spiral Libido Predator

     

     

    Oleh Marianus Ola Kenoba

    Pengajar Sosiologi dan Sekretaris UPT Publikasi Universitas Flores

     

     

     

                Bukan menjadi rahasia umum lagi betapa kultur banalitas-keseharian sungguh-sunguh menggetarkan sukma untuk tidak hanya sekedar menonton melainkan beranjak ke level berempati. Kultur ekologi sosial baik di serambi domain privat maupun domestik secara vulgar mempertontonkan beragam perilaku destruktif-predator-(isme) yang tidak semestinya dilakukan oleh makluk yang memperoleh predikat sangat “agung” sebagai homo sapiens.

    Artikel sederhana ini sama sekali tidak memiliki pretensi ideologis apa-pun selain materi share-berbagi pengalaman pengetahuan teoritis-ensiklopedis maupun praktis menyangkut responsibilitas etis-profetis serta upaya membangun kultur pedagogis yang bermuara pada nilai-nilai humanisasi agar tidak mudah“tergoda” untuk mengambil jalan- maaf -“primitif” ketika berada dalam suasana tugas edukasi.

    Referensi klasik mengenai strategi makluk hidup agar bisa survival dapat ditemukan pada karya monumental kontroversial yang dipublikasikan oleh ilmuwan Biologi Charles Darwin tahun 1859. Melalui kerja akademis yang cukup melelahkan namun dengan bobot argumentasi yang meyakinkan, Darwin memperlihatkan strategi bertahan dunia organisme. Strategi bertahan ini tampil melalui penyingkiran obyek organisme yang kemampuan bertahannnya jauh lebih lemah. Darwin menarik kesimpulan bahwa kehidupan dunia organisme berkaitan dengan siklus alamiah yang disebut natural sellection atau seleksi alam.

    Selain Darwin, ahli lainnya Konrad Lorenz juga melakukan eksperimen yang menarik untuk direfleksikan oleh semua insan; terutama para pendidik. Isi beberapa alinea dalam buku King Solomon’s Ring menarasikan secara gamblang perilaku agresif di dalam dunia fauna terutama unggas. Ada sketza menarik, tetapi juga serentak menampilkan sisi sadistis yang memperlihatkan bagaimana burung perkutut tergerak oleh instinknya sengaja mencabuti bulu perkutut lainnya sebagai representasi dari perilaku agresi. Kejadian “primitif” tersebut justru terjadi di dalam kandang eksperimen Lorenz sendiri.

    Mengacu pada deskripsi “teori” destruktif di atas kemudian segera mengundang pertanyaan, bagaimana dengan perilaku manusia? Pada tataran ini, analisis Darwin menjadi aktual kembali sebab kenyataan praksis hidup memperlihatkan korelasi yang sangat positif dengan gagasan the survival of the fittest maupun natural sellection. Bahkan Konrad Lorenz jauh lebih radikal lagi. Ahli Biologi dan ethiologi (semacam psikologi binatang) itu berpendapat bahwa agresi merupakan salah satu bentuk naluri manusia. Konndrat Lorenz berasumsi bahwa kekerasan merupakan salah satu dari bentuk naluri manusia. Disamping naluri lapar, seks, dan rasa takut. Karena agresi bersifat naluriah maka harus disalurkan; dan jika penyaluran agresi terhambat maka akan terjadi malapetaka dalam kehidupan seseorang atau kelompok.  

    Barangkali terlalu latah untuk secara apriori memparalelkan begitu saja temuan riset kedua ilmuwan di atas; lebih-lebih menyangkut perilaku agresif binatang dengan sejumlah perilaku manusia. Tetapi, kenyataan keseharian cukup memberikan bukti yang kuat bahwa betapa, dalam tingkatan tertentu ada perilaku manusia yang hampir tidak dapat dibedakan dengan pelampiasan naluri agresif pada binatang.

    Buktinya? fokus pandangan dapat terarah ke rumah-tempat di mana semua individu memperoleh pendidikan non-formal. Rumah, idealnya menjadi simbol kenyamanan psiko-sosial yang dialami oleh seluruh anggotanya. Namun, kenyataan memperlihatkan bahwa rumah menjadi area yang sangat rentan terhadap terjadinya kekerasan fisik. Kemudian, korban dari pelampiasan perilaku destruktif lebih banyak dialami oleh kaum perempuan dan juga anak-anak.

    Merujuk pada eksperimen Lorenz, maka agak berlebihan Saya boleh mengatakan bahwa rumah menjadi -maaf tidak ada bedanya dengan kandang burung eksperimen Lorenz. Rumah seolah menjadi simbol reproduksi kekerasan. Dimungkinkannya kekerasan di dalam rumah karena pandangan bias yang memposisikan anak-anak dan perempuan sebagai makluk secon order yang tidak memiliki potensi apapun sehingga kehadirannya di dalam masyarakat hanya dipahami sebatas pada fungsi reproduksinya semata.

    Beranjak ke pelataran pendidikan formal, masih juga ditemukan perilaku pendidik yang kurang fair dalam memperlakukan peserta didiknya dengan “membudayakan” semboyan “Homo homini lupus” sebuah ekspresi perilaku destruktif manusia yang selalu ingin ditentang oleh filsuf Thomas Hobbes. Sejalan dengan itu, hasil riset US National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine menyimpulkan bahwa 18-31% anak-anak dan remaja Amerika mengalami perisakan di sekolah (Walker, 2017).

    Sebaliknya mengutip Nugroho Widi, (2013) hasil angket yang disebarkan oleh Ratna Juwita, psikolog dari Universitas Indonesia memperlihatkan bahwa perilaku perisakan yakni tindakan fisik, verbal, maupun mental yang menyebabkan orang lain merasa teraniaya, ditemukan di 70,65% SMP dan SMA di Yogyakarta. Sungguh ironis fakta semacam ini terjadi pada sebuah kota yang selalu mengedepankan semboyan “Yogya berhati nyaman”.

    Padahal, spirit pendidikan nasional sebagaimana disosialisasikan di seluruh jenjang pendidikan adalah ramah terhadap peserta didik. Itu artinya para pendidik perlu menjauhkan diri dari tindakan perisakan atau bullying. Jika perlu, kita dapat belajar dari para pendidik di salah satu negeri nordic yakni Finlandia yang menerapkan program KiVa-kiusaamista Vastaan. Artinya, “melawan perisakan”. Semoga!*

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

Berita Terkait