Orasi Ilmiah oleh Dr. Veronika Genua, M.Hum.

Ditulis pada Rabu, 22 Agu 2018 oleh:

Pada kegiatan Yudisium Sarjana Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Selasa (21/8/2018), Dr. Veronika Genua, M.Hum. menyampaikan Orasi Ilmiah dengan judul Revolusi Mental Sebagai Pembentukan Jati Diri Kesarjanaan yang Berbudaya dan Berdaya Saing.

***

ORASI ILMIAH

Disampaikan pada Yudisium Sarjana Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Flores

Selasa, 21 Agustus 2018

Oleh

Dr. Veronika Genua, S.Pd., M.Hum.

REVOLUSI MENTAL SEBAGAI PEMBENTUKAN JATI DIRI KESARJANAAN YANG BERBUDAYA DAN BERDAYA SAING

 

Di seluruh pelosok tanah air, selalu digaungkan revolusi mental. Berbiara tentang revolusi mental merupakan gagasan yang tidak bisa dipisahkan dari Presiden Soekarno, sebagai pencetus dan pengonsep yang mulai dicanangkan pada 1957. Saat itu, revolusi nasional Indonesia, sedang "menemui jalan buntu". Tentunya, ada beberapa faktor penyebab, yakni penurunan semangat dan jiwa revolusioner para pelaku revolusi, baik rakyat maupun pemimpin nasional; pemimpin politik masa itu masih mengidap penyakit warisan kolonial seperti "hollands denken", atau gaya berpikir penjajah Belanda, dan, penyelewengan di lapangan ekonomi, politik, dan kebudayaan.

Revolusi mental, yang telah dicanangkan Presiden Joko Widodo belum dapat dirasakan nyata sebagai sebuah gerakan yang praktis dan implementatif. Revolusi mental memiliki nilai strategis dan instrumental. Aspek strategis revolusi mental diarahkan untuk kedaulatan, daya saing, dan persatuan bangsa yang dilakukan secara kolektif melibatkan seluruh bangsa dengan memperkuat institusi pemerintahan dan pranata sosial budaya. Secara instrumental merupakan upaya bersama, membangkitkan kesadaran, bahwa Indonesia memiliki kekuatan besar untuk berprestasi tinggi, produktif, dan berpotensi menjadi bangsa maju dan modern, namun tetap bercermin pada budaya sebagai pola hidup. Sekedar mengingatkan bahwa jika dicermati lirik lagu kebangsaan Indonesia Raya, dinyatakan bahwa pembangunan jiwa lebih diutamakan daripada pembangunan raga. Bangunlah jiwanya, bangunlah raganya untuk Indonesia Raya... Dari syair tersebut sangat jelas dinyatakan bahwa untuk mewujudkan Indonesia Raya (dalam konteks adil dan makmur) pembangunan jiwa (mental dan karakter) harus dibangun lebih dahulu.

Gerakan tersebut, dimaksudkan untuk memperbaiki dan membangun karakter bangsa yang mengacu kepada nilai-nilai integritas, etos kerja, dan gotong royong untuk membangun budaya bangsa yang bermartabat, modern, maju, makmur, dan sejahtera berdasarkan Pancasila. Kondisi mentalitas bangsa Indonesia saat ini butuh perubahan, mengingat usia Undonesia sudah mencapai 73 tahun. Semakin banyak persoalan yang dihadapi, mulai dari kasus konflik antarwarga dan kelompok masyarakat hingga gerakan separatis, korupsi yang marak hingga rendahnya daya saing bangsa, kemiskinan yang tinggi hingga kesenjangan, penyalahgunaan narkotika, serta berbagai persoalan lain yang tersebar di berbagai sektor.

Revolusi mental juga dapat diartikan sebagai pembentukan jati diri seseorang dalam hal ini peserta yudisium telah dikukuhkan dan berhak menambah gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) pada nama anda. Untuk menembus batas kesarjanaan dalam lingkungan kerja positif yang memiliki persyaratan tertentu sehingga dapat mendorong terbentuknya kebijakan-kebijakan perubahan dalam konteks nilai integritas, nilai etos kerja, dan juga nilai gotong-royong dan agama.

Mewujudkan revolusi mental memang tidak semudah membalikkan telapak tangan saja; sebaiknya didahului oleh persyaratan awal, yaitu tentang pemahaman akan jati diri. Di samping itu juga merasa bahwa kehadirannya dalam melaksanakan tugas sangat dibutuhkan, merasa penting dalam organisasi, dihargai dan menghargai publik yang dilayani.

Menjadi seorang sarjana untuk melayani masyarakat adalah tugas mulia, sehingga segala keterbatasan yang dihadapi tidak membatasi kiprah diri untuk bersemangat memberikan pelayanan yang optimal. Terus merevolusi mental, agar menjadi alumni nanti, selalu siap dalam menghadapi persaingan di bidang pendidikan baik secara nasional maupun internasional. Para peserta yudisium, nantinya bisa kuat dan mandiri dalam menghadapi era persaingan saat ini. Mudah-mudahan bisa segera mendapatkan pekerjaan, hidup dengan mandiri, bisa berdiri di atas kaki sendiri dan mampu berjuang, memiliki mental baja, tak kenal menyerah, dan jangan lupa berdoa, inilah yang harus dijadikan pegangan.

Meningkatkan daya saing menjadi penting dalam perkembangan ekonomi global saat ini. Membangun daya saing bangsa sejatinya diawali dari perbaikan mental. Revolusi mental merupakan sebuah gerakan membangun karakter bangsa yang mengubah cara pikir menjadi lebih baik, mandiri, berkarakter, dan keinginan bekerja nyata. Masa depan bangsa, ditentukan oleh generasi penerus yang menjadi pemimpin dan mendapat estafet kepemimpinan. Untuk itu, peserta yudisium harus mampu sebagai alumni yang berbudaya dan berdaya saing yang tinggi dan siap menjadi petarung dalam era global, sehingga bisa menjadi bangsa yang memenangi pertarungan pada tingkat global.

"Upaya untuk memperbaiki etos kerja sejalan dengan arah kebijakan revolusi mental, seperti penegakan hukum dan kelembagaan politik, peneguhan jati diri dan karakter bangsa, penguatan daya rekat sosial dalam kemajemukan, dan peningkatan kemandirian ekonomi dan daya saing bangsa".

Kehadiran manusia di dunia ini bukan untuk sekadar bertahan hidup dan beradaptasi dengan lingkungannya. Tetapi sebagai generasi yang berbudaya, diharapkan dapat mengubah lingkungan agar sesuai dengan kebutuhan dan martabat dirinya. Maka, manusia harus bekerja dan mencipta. Letak kemuliaan adalah pada karya yang bermanfaat bagi kehidupan. Hanya bekerja keras dengan pikiran waras kedaulatan dalam politik, kemandirian dalam ekonomi, dan kepribadian dalam sosial budaya akan terwujud.

***

Cetak: Kategori: Berita, Opini
Bagikan:

Dialog Nasional 24 Indonesia Maju

Pada Sabtu (8/9/2018), pukul 08.30 Wita, bertempat di Auditorium H. J. Gadi Djou

Misa Requiem Berpulangnya Prof. Stephanus Djawanai, M.A.

"Kehidupan mengajarkan kita bagaimana harus mati, dan kematian mengajarkan

Manusia Makhluk Naratif

Oleh: Alexander Bala, S.Pd., M.Pd. (Dosen Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia)


Satukan Langkah Bulatkan Tekad Menuju Uniflor Bermutu
UNIVERSITAS FLORES
Jl.Samratulangi - Ende, Tel: (0381) 23874, 23873, 21536, Fax: (0381) 21536, email : universitasflores@uniflor.ac.id
Copyright © 2018

cms by Technophoria Indonesia