MENINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN MELALUI GURU YANG HUMANIS, BERDAYA SAING DAN PENGUASAAN PEMBELAJARAN ABAD 21

Ditulis pada Jumat, 01 Okt 2021 oleh:

Orasi Ilmiah

Ilyas, S.Pd., M.Pd.

Disampaikan pada Yudisium Sarjana FKIP Uniflor

 

 

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

Selamat pagi dan salamsejahtera.

 

Puji syukur kepada Allah Yang Maha Kuasa atas semua rahmat dan karunia-Nya sehingga pada hari ini kita semua bersama-sama diberi kesempatan untuk mengikuti acara yudisium Sarjana Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Selanjutnya saya ucapkan terimakasih kepada Pimpinan Senat dan panitia, sungguh suatu penghormatan dan penghargaan yang sangat  besar bagi saya pada hari ini telah memberi kesempatan kepada saya untuk menyampaikan orasi ilmiah. Untuk itu, dengan penuh kerendahan hati,  ijinkan saya menyampaikan orasi ilmiah ini dengan judul “Meningkatkankualitas Pendidikan melalui guru yang humanis, berdaya saing dan menguasai pembelajaran abad 21”.

 

Hadirin yang sayahormati

 

Berkaitan dengan judul orasi ilmiah saya, saya akan memberikan dua pengantar. Yang pertama mungkin kita semua pernah mendengar keluhan guru SMP yang terkesan menyalahkan guru SD karena dianggap gagal membelajarkan siswa-siswanya, demikian juga keluhan guru SMA yang terkesan menyalahkan guru SMP, tidak jarang, di Universitas pun mengeluh dengan kelemahan para mahasiswanya (calon guru), dan terkesan bahwa hal tersebut sebagai akibat kelemahan-kelemahan pengajaran yang terjadi pada jenjang Pendidikan sebelumnya. Pada saat mahasiswa bersangkutan lulus dan bekerja, jika hasilnya tidak bagus. Masyarakat  akan mengatakan dia kuliah di mana? Oh, pantas saja kurang bagus karena berasal dari kampus A. Dan pada akhirnya ditutup dengan pertanyaan: sebenarnya siapa yang salah? Untuk generasi sekarang, mari  kita berhenti untuk saling menyalahkan. Kita sama-sama berfikir dan mencari solusi bersama.

 

Pengantar yang kedua,  saya ingin memberikan sedikit refleksi pribadi mengapa hari ini saya menjadi seorang guru atau dosen. Padahal berdasarkan Penelitian dan  pengalaman sampai hari ini menunjukkan bahwa menjadi guru merupakan tugas yang sangat kompleks karena guru  dituntut memahami materi yang diajarkan, strategi pengajarannya, karakter dan kemampuan siswanya, dan lain lain. Tugas guru sangat berat tetapi mengapa seseorang ingin menjadi  guru? Ini refleksi pribadi. Awalnya saya berfikir menjadi guru dengan melihat tetangga saya yang jadi  guru, saya dari Makassar, tempat tinggal 4 jam dari kota, dan di kampung  saya mayoritas adalah petani. Di kampung saya ada satu keluarga suami istri guru. Satu-satunya di kampung yang memiliki motor, rumah batu. Setiap hari pergi jam 7 pulang jam satu dalam keadaan baju  yang rapi, sementara bapak saya petani habis sholat Subuh jam 5 pagi buta sudah berangkat ke  sawah dengan keadaan bersih pulang jam 5 sore dalam keadaan berlumur lumpur. Dalam  hati saya mau jadi guru. Para peserta yudisium saya yakin 80 persen mayoritas dari desa, dari  kampung. Pertanyaannya adakah memiliki pengalaman yang sama sehingga memilih kuliah di FKIP?

 

Kita semua tentu sepakat, bahwa setiap orang mempunyai motif/alasan tersendiri mengapa mau jadi guru. Bisa saja terjadi, seseorang mau jadi guru  tanpa menyadari besarnya tanggung jawab menjadi seorang guru. Lebih celaka lagi jika seseorang ingin menjadi guru  karena pekerjaan dianggap paling mudah, atau karena sudah tidak ada pilihan lain.

 

Berdasarkan hasil dari beberapa penelitian menyimpulkan bahwa Kualitas suatu negara sangat  erat kaitannya dengan kualitas pendidikannya. Semakin tinggi kualitas Pendidikan suatu negara  maka semakin maju pun negara tersebut. Pun demikian sebaliknya.

 

Mari kita lihat fakta di negara kita. Tahun 2014 berdasarkan suvey dari seluruh Negara yang ada  di dunia, survey tentang kulitas pendidikan itu dibagi lima: Ada yang sangat baik, baik, cukup, kurang, dan yang terakhir sangat kurang. Indonesia berada di kelompok berapa? Indonesia  ternyata berada di kelompok terakhir masuk di kelompok lima. Yaitu Negara yang mempunyai kualitas pendidikan yang sangat kurang.

 

Hasil survey Programme for International Student Assessment (PISA) 2018 yang diterbitkan pada Maret 2019 lalu memotret sekelumit masalah pendidikan Indonesia. Dalam kategori kemampuan literasi, sains, dan matematika, skor Indonesia tergolong rendah karena berada di  urutan ke-74 dari 79 negara. PISA merupakan survey evaluasi sistem pendidikan di dunia yang mengukur kinerja siswa kelas pendidikan menengah. Penilaian ini dilakukan setiap tiga tahun sekali dan dibagi menjadi tiga poin utama, yaitu literasi, matematika, dan sains.

 

Lalu, apa yang salah dari sistem pendidikan kita?

 

Ditemukan beberapa fakta. Bahwa:

  1. Sistem Pendidikan di Indonesia masih sangat terpusat kepada guru.
  2. 60 persen guru di Indonesia tidak memiliki keterampilan professional sebagai guru.
  3. Hampir sebagian guru berorientasi pada penghasilan, bukan mentransfer ilmu, bukan berbagi ilmu, ataupun bukan sebagai fasilitator.

 

Tahun 2018 Soal ujiannasional (UN) di Indonesia mulai memakai Higher Order Thinking Skills (HOTS), sebuah turunan metode belajar yang dicetuskan oleh Benjamin Bloom lewat teori  “Taksonomi Bloom”. Ini untuk menjawab tantangan dari hasil PISA. Pada saat ujian sistem HOTS  diberlakukan (2018-2019), para siswa di Indonesia mengeluh tak bisa mengerjakan soal.  Mereka menganggap materinya terlalu sulit dan belum pernah diajarkan di sekolah. Kemudian  pada saat seleksi tes CPNS banyak peserta tidak dapat memenuhi ambang batas kelulusan  passing grade karena menggunakan soal HOTS. Dan terbaru selesksi P3K  meskipun nilai belum diumumkan tapi sudah beredar banyak keluhan dari peserta tidak bisa menjawab soal karena soalnya menggunakan soal HOTS. Bagaimana bisa siswa mengerjakan soal HOTS, sementara  guru sendiri tidak bisa mengerjakan soal HOTS.

 

Hadirin yang saya hormati ...

 

Pendidikan merupakan salah satu faktor di dalam menunjang keberhasilan pembangunan yang  ada di Negara kita. Mau tidak mau, suka tidak suka kita harus meningkatkan yang namanya  Pendidikan. Permasalahan Pendidikan di negara  kita dalam menyelesaikannya bukan menjadi perkara yang mudah. Untuk meningkatkan kualitas Pendidikan ke depan saya tawarkan tiga hal  yang diperlukan guru yang:

 

1. Guru yang Humanis

 

Guru yang humanis adalah guru yang mampu memanusiakan manusia.  Artinya bersifat manusiawi tanpa adanya tekanan, paksaan maupun kekerasan. Guru yang humanis sangat membantu menghasilkan lulusan yang mampu berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat.  Menjadi guru profesional tidak cukup dengan memiliki kompetensi akademik, pedagogik, sosial, dan profesional, tetapi juga harus mempunyai jiwa humanis ketika mengajar.

 

Peserta Didik Dalam pembelajaran yang humanis ditempatkan sebagai pusat (central)  dalam aktifitas belajar. Peserta didik menjadi pelaku dalam memaknai pengalaman belajarnya sendiri.  Dengan demikian, peserta didik diharapkan mampu menemukan potensinya dan  mengembangkan potensi tersebut secara maksimal. Peserta didik bebas berekspresi cara-cara belajarnya sendiri. Peserta didik menjadi aktif dan tidak sekedar menerima informasi yang disampaikan oleh guru. Peran guru dalam pembelajaran humanisme adalah menjadi fasilitator bagi para peserta didiknya dengan cara memberikan motivasi dan  memfasilitasi pengalaman belajar, dengan menerapkan strategi pembelajaran yang membuat peserta didik aktif,  serta menyampaikan materi pembelajaran yang sistematis.

 

2. Guru Berdaya Saing

 

Dalam menghadapi perubahan zaman hal yang harus terus dilatih dan diasah oleh guru  adalah kemampuan daya saing. Untuk meningkatkan daya saing maka sudah selayaknya guru harus terus-menerus berupaya meningkatkan profesionalitasnya. Menurut Suyanto standar minimal guru profesional adalah: 

(1) memilikikemampuanintelektual yang baik, 

(2) memilikikemampuanmemahamivisi dan misipendidikannasional, 

(3) mempunyaikeahlianmentransferilmupengetahuankepadasiswasecaraefektif, 

(4) memahamikonsepperkembanganpsikologianak, 

(5) memilikikemampuanmengorganisir proses belajar dan 

(6) memilikikreativitas dan senimendidik.

 

Selain itu guru harus memiliki Kompetensi professional, kompetensi pedagogik,  kompetensi  social dan kepribadian. Guru  tidak hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran kepada siswa tetapi guru adalah pendidik yang harus menumbuhkan moral yang baik pada siswa. Guru  tidak cukup hanya menguasai materi pelajaran saja tetapi juga harus memiliki kepribadian yang baik, dapat memberi contoh atau keteladanan pada muridnya,  mampu menyajikan pelajaran dengan menyenangkan siswa sehingga mereka termotivasi untuk belajar, dan   mampu berinteraksi dengan siswa dan masyarakat dengan baik.

 

3. Menguasai Pembelajaran Abad 21

 

Pembelajaran abad 21 merupakan pembelajaran yang mengintegrasikan kemampuan literasi,  kecakapan pengetahuan, keterampilan dan sikap, serta penguasaan terhadap teknologi.  Pembelajaran abad 21 mempersiapkan generasi abad 21 dimana kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang  berkembang begitu cepat memiliki pengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan termasuk pada proses belajar-mengajar.

 

Ada 4 karakter pembelajaran abad 21 yang sering disebut sebagai 4 C, yaitu:

 

1. Communication (Komunikasi)

Pada karakter ini, peserta didik dituntut untuk memahami, mengelola, dan  menciptakan komunikasi yang efektif dalam berbagai bentuk dan isi secara lisan, tulisan, dan multimedia.  Peserta didik diberikan kesempatan menggunakan kemampuannya untuk mengutarakan ide-idenya, baik itu pada saat berdiskusi dengan teman-temannya maupun ketika menyelesaikan masalah yang diberikan oleh pendidik.

 

2. Collaboration (Kerjasama)

Pada karakter ini, peserta didik menunjukkan kemampuannya dalam kerja sama berkelompok  dan kepemimpinan; beradaptasi dalam berbagai peran dan tanggung jawab;   bekerja secara produktif dengan yang lain; menempatkan empati pada tempatnya;  menghormati perspektif berbeda. Peserta didik juga menjalankan tanggung jawab pribadi dan fleksibitas secara pribadi,  pada tempat kerja, dan hubungan masyarakat; menetapkan dan mencapai standar dan tujuan  yang tinggi untuk diri sendiri dan orang lain.

 

3. Critical Thinking and Problem Solving (Berpikir Kritis dan Pemecahan Masalah)

Pada karakter ini, peserta didik berusaha untuk memberikan penalaran yang masuk akal dalam  memahami dan membuat pilihan yang rumit; memahami interkoneksi antara sistem.  Peserta didik juga menggunakan kemampuan yang  dimilikinya untuk berusaha menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya dengan mandiri, peserta didik juga memiliki kemampuan untuk menyusun, mengungkapkan, menganalisa, dan menyelesaikan masalah.

 

4. Creativity and Innovation (Daya cipta dan Inovasi)

Pada karakter ini, peserta didik memiliki kemampuan untuk mengembangkan, melaksanakan,  dan menyampaikan gagasan-gagasan baru kepada yang lain; bersikap terbuka dan responsif terhadap perspektif baru dan berbeda.

 

Sehingga pada abad 21 saat ini yang bisa disebut sebagai era pengetahuan, maka  tujuan pendidikannya pun adalah:

1) mempersiapkan orang  dalam dunia pasang surut, dinamis, unpredictable (tidak bisa diramalkan),

2) perilaku yang kreatif,

3) membebaskan kecerdasan individu yang unik, serta

4) menghasilkan inovator.

 

Dengan demikian, model  sekolah pada abad ini mengharapkan pendidikan dapat menjadikan individu-individu yang mandiri, sebagai pelajar yang mandiri.

 

Beberapa Strategi/model Pembelajaran Abad 21 Yang Perlu Diketahui Para Guru

 

Model Pembelajaran Kontekstual

Strategi pembelajaran abad 21 menekankan kepada kemampuan siswa untuk berfikir kritis,  mampu menghubungkan ilmu dengan dunia nyata, menguasai teknologi informasi komunikasi  dan berkolaborasi. Pencapaian keterampilan tersebut dapat dicapai dengan penerapan metode pembelajaran yang sesuai dari sisi penguasaan materi dan keterampilan. Di era millenial saat ini, pembelajaran yang dibutuhkan adalah pembelajaran yang bersifat kontekstual,  dimana materi pengetahuan berhubungan dengan dunia nyata serta dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Model PembelajaranInkuiri

Colbum (2000) mengemukakan ada empat tingkatan inkuiiri, yaitu inkuiri terstruktur (structure  inquiry), inkuiri terbimbing (guided inquiry), inkuiru terbuka (open inquiry), dan siklus belajar (learning cycle).

 

Model PembelajaranBerbasisMasalah (Problem Based Learning)

Model pembelajaran Discovery Learning

Model PembelajaranBerbasisProyek (Project Based Learning)

 

Dengan menjadi guru yang humanis, berdaya saing dan menguasai pembelajaran abad 21 diharapkan dapat membantu mengatasi sekelumit persoalan Pendidikan di Indonesia demi peningkatan kualitas pendidikan.

Komentar: 0 Cetak: Kategori: Opini
Bagikan:

MENINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN MELALUI GURU YANG HUMANIS, BERDAYA SAING DAN PENGUASAAN PEMBELAJARAN ABAD 21

Orasi Ilmiah Ilyas, S.Pd., M.Pd. Disampaikan pada Yudisium Sarjana FKIP Uniflo

SARJANA PENDIDIKAN BERKUALITAS DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

PENDIDIK BERKUALITAS MENJADIKAN SDM UNGGUL DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0 Or

Manusia Makhluk Naratif

Oleh: Alexander Bala, S.Pd., M.Pd. (Dosen Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia)


Tinggalkan Komentar


Satukan Langkah Bulatkan Tekad Menuju Uniflor Bermutu
UNIVERSITAS FLORES
Jl.Samratulangi - Ende, Tel: (0381) 23874, 23873, 21536, Fax: (0381) 21536, email : universitasflores@uniflor.ac.id
Copyright © 2021

cms by Technophoria Indonesia
    Subscribe to site updates!